Oleh: Kalvianus Jogo
Teologi Kontekstual Asia mengajarkan bahwa refleksi iman harus berangkat dari realitas konkret kehidupan manusia. Oleh karena itu, pembicaraan mengenai Artificial Intelligence tidak dapat dilepaskan dari kenyataan sosial yang sedang dialami masyarakat Kota Kupang. Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, masih terdapat berbagai bentuk penderitaan yang menunjukkan bahwa kemajuan teknologi belum tentu sejalan dengan kemajuan kemanusiaan.
Salah satu persoalan yang mencolok adalah kemiskinan ekstrem. Kemiskinan tidak hanya berarti kekurangan materi, tetapi juga hilangnya kesempatan hidup yang layak. Dalam beberapa kasus, tekanan ekonomi yang berat bahkan berdampak pada hilangnya nyawa anak-anak yang seharusnya memperoleh masa depan yang lebih baik. Realitas ini memperlihatkan bahwa di saat dunia berbicara tentang kecerdasan buatan, masih ada masyarakat yang berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar, termasuk pendidikan.
Selain itu, kasus kekerasan seksual dan perdagangan manusia yang melibatkan anak-anak menunjukkan krisis moral yang serius. Kehadiran pelaku dari berbagai latar belakang sosial, termasuk mereka yang memiliki pendidikan dan jabatan tertentu, memperlihatkan bahwa pendidikan dan kecerdasan intelektual tidak selalu sejalan dengan kematangan moral. Persoalan ini menunjukkan bahwa masalah utama manusia bukanlah kurangnya informasi atau teknologi, melainkan lemahnya hati nurani dan tanggung jawab terhadap sesama.
Menilai Realitas dalam Terang Teologi Kontekstual Asia
Teologi Asia lahir dari pengalaman penderitaan manusia dan keberpihakan kepada mereka yang kecil, miskin, dan tertindas. Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah seberapa maju teknologi yang dimiliki manusia, melainkan apakah perkembangan tersebut sungguh membantu mengurangi penderitaan manusia. Teologi Asia menegaskan bahwa Allah hadir di tengah penderitaan umat-Nya dan berpihak kepada mereka yang mengalami ketidakadilan.
Dalam perspektif Inkarnasi, Allah tidak menyelamatkan manusia dari kejauhan, tetapi masuk ke dalam sejarah manusia dan mengalami penderitaan bersama mereka. Oleh karena itu, Gereja dipanggil untuk hadir di tengah realitas kemiskinan, kekerasan seksual, perdagangan manusia, dan berbagai bentuk penderitaan lainnya yang masih terjadi di Kupang.
Di sisi lain, perkembangan Artificial Intelligence mengingatkan manusia akan bahaya pencitraan diri. Pada era digital, seseorang dapat dengan mudah membangun identitas virtual yang tampak baik, bijaksana, bahkan religius. Namun, citra yang dibangun di hadapan manusia tidak selalu mencerminkan kenyataan yang ada di hadapan Allah. Teologi Kontekstual Asia mengajak manusia untuk kembali pada integritas hidup yang nyata, bukan sekadar penampilan digital.
Pikiran, Perkataan dan Perbuatan: Akar Krisis Kemanusiaan
Banyak persoalan sosial berawal dari ketidakselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Pikiran yang tidak dikelola dengan baik melahirkan keserakahan, kebohongan, penindasan, dan kekerasan. Perkataan kemudian menjadi alat untuk membenarkan pikiran tersebut, sedangkan perbuatan menjadi manifestasi nyata dari apa yang telah direncanakan dalam hati.
Kemiskinan struktural, korupsi, eksploitasi seksual, perdagangan manusia, bahkan penyalahgunaan kekuasaan tidak muncul secara tiba-tiba. Semua itu berawal dari pikiran manusia yang kehilangan orientasi moral. Artificial Intelligence dapat mempercepat penyebaran informasi, tetapi tidak mampu menyucikan pikiran manusia. Dapat membantu manusia berpikir lebih cepat, tetapi tidak dapat menggantikan hati nurani.
Bertindak: Humanisasi Teknologi demi Kehidupan
Metode Teologi Kontekstual Asia tidak berhenti pada melihat dan menilai, tetapi menuntut tindakan nyata. Melalui metode “Melihat-Menilai-Bertindak”, Gereja dan masyarakat diajak menggunakan teknologi untuk memperjuangkan martabat manusia.
Dalam konteks Kota Kupang, Artificial Intelligence dapat digunakan untuk membantu pendidikan masyarakat miskin, memperluas akses informasi kesehatan, mencegah perdagangan manusia, serta meningkatkan perlindungan terhadap anak dan perempuan. Namun, semua itu hanya mungkin apabila teknologi ditempatkan sebagai alat pelayanan, bukan sebagai tujuan hidup manusia.
Perkembangan Artificial Intelligence menunjukkan bahwa manusia mampu menciptakan mesin yang semakin cerdas. Akan tetapi, kasus kemiskinan ekstrem, kekerasan seksual, perdagangan manusia, dan berbagai bentuk ketidakadilan di Kota Kupang mengingatkan bahwa persoalan terbesar manusia bukanlah kurangnya kecerdasan, melainkan kurangnya belas kasih. Teologi Kontekstual Asia mengajarkan bahwa Allah hadir di tengah penderitaan manusia dan memanggil setiap orang untuk membangun dunia yang lebih adil dan manusiawi. Sebab pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan kecerdasan buatan, tetapi juga manusia yang memiliki hati nurani, kasih, dan keberanian untuk memperjuangkan kehidupan sesamanya.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang









