Melihat Luka Bangsa di Mata Sesama yang Menderita

oleh -159 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Arnoldus Risky Manek

Pada September 2025, Badan Pusat Statistik mencatat lebih dari 23 juta penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Di saat bersamaan, data Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan menunjukkan ratusan ribu kasus kekerasan terhadap perempuan masih terus berulang setiap tahun. Angka-angka ini menjadi pengingat bahwa di balik narasi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik, terdapat kerentanan sosial yang nyata. Bangsa ini seolah mengalami luka laten yang luput dari sorotan utama.

Luka yang dimaksud di sini bukanlah luka dalam arti harfiah, melainkan luka dalam arti simbolik, sosial, dan moral. Luka tersebut menyimbolkan penderitaan yang dialami oleh masyarakat yang tertindas, mengalami kekerasan, mengalami bencana, dan terpinggirkan—mereka yang sesungguhnya merupakan bagian dari bangsa ini.

Mengapa ada luka?

Penderitaan yang dialami sesama manusia bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal. Dalam banyak kasus, penderitaan tersebut justru lahir dari tindakan, keputusan, dan cara pandang manusia sendiri. Berbagai persoalan sosial memperlihatkan bagaimana manusia turut menjadi penyebab dari penderitaan yang dialami sesamanya.

Eksploitasi terhadap tenaga kerja merupakan salah satu bentuk penindasan. Praktik ini tampak dalam upaya memberikan penghasilan serendah mungkin sambil memeras tenaga kerja sebanyak mungkin. Ketika seseorang memiliki kontrol penuh atas suatu sumber daya, di situlah eksploitasi kerap terjadi. Situasi ini dapat melahirkan kemiskinan struktural, yaitu kondisi ketika seseorang terjebak dalam sistem yang menyulitkan mereka keluar dari kemiskinan. Akibatnya, kemiskinan dapat berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di sisi lain, kekerasan terhadap perempuan—yang kerap dipandang lebih rendah dari laki-laki juga menjadi kenyataan sosial yang memprihatinkan. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketidakadilan masih mengakar dalam berbagai lapisan masyarakat. Kekerasan tersebut sering muncul dari pandangan yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang lebih rendah dan dianggap memiliki ketergantungan penuh pada laki-laki.

Korupsi yang dilakukan atas dasar ketamakan semakin memperparah keadaan. Tidak hanya merugikan negara, praktik tersebut juga menggerogoti kepercayaan publik. Korupsi kerap terjadi ketika seseorang memiliki kesempatan dan posisi struktural yang memungkinkan. Dalam situasi demikian, penyalahgunaan kewenangan dapat perlahan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Hal yang tidak kalah serius adalah perusakan lingkungan demi keuntungan ekonomi semata, tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi kehidupan bersama. Ketika alam dipandang semata-mata sebagai sumber peningkatan ekonomi, berbagai cara dilakukan untuk memeras kekayaan alam. Hal ini menunjukkan sikap manusia yang tamak dan mementingkan diri sendiri. Semua itu pada akhirnya menggoreskan luka bagi bangsa ini.

Mata yang Menyimpan Luka

Di mata sesama yang menderita, tersimpan sejuta luka yang dialami. Ada ungkapan hati atas pahitnya hidup yang ingin disampaikan. Ada jeritan minta tolong yang tak terdengar. Mata sering menjadi cerminan perasaan manusia. Melihat mata sesama dan menatap ke dalamnya berarti mencoba menggali dan memahami apa yang sedang ia rasakan. Mulut bisa saja berkata lain, tetapi mata kerap mengungkapkan kedalaman hati seseorang.

Pada mata yang redup dan kosong, kita melihat jiwa yang kehilangan semangat. Pada mata yang berkaca-kaca, yang ragu menjatuhkan air mata, ada jiwa yang sedang menahan penderitaan. Pada mata yang dalam dan diam, tersimpan pikiran yang bergumul mencari jalan untuk sekadar mendapatkan sesuap nasi.

Mata, pada akhirnya, adalah jendela untuk memasuki kedalaman hati seseorang. Di mata sesama yang menderita, tercermin pula luka yang dialami oleh bangsa ini—luka yang menginginkan perhatian dan berharap untuk disembuhkan

Melihat Sesama sebagai Manusia

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB menegaskan satu prinsip fundamental: setiap orang lahir secara bebas dengan martabat dan hak yang sama. Secara moral, ini berarti penderitaan sesama bukanlah beban individu semata, melainkan tanggung jawab kolektif. Memandang sesama sebagai manusia berarti menanggalkan jarak dan memperlakukan mereka dengan rasa kemanusiaan yang utuh—sebuah prinsip sederhana untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan.

Ketidakpedulian terhadap penderitaan sesama merupakan bentuk pelanggaran etis, meskipun tidak selalu tersurat dalam naskah hukum. Sikap ini tampak ketika seseorang melihat orang lain membutuhkan pertolongan, memiliki kemampuan untuk membantu, tetapi memilih untuk mengabaikannya. Fenomena tersebut menunjukkan rapuhnya tanggung jawab sosial dalam masyarakat. Padahal, kesejahteraan bukanlah beban satu pihak semata, melainkan tanggung jawab kolektif yang melekat pada setiap anggota masyarakat. Di titik inilah, solidaritas menjadi krusial; ia mengikat dan menyatukan individu melalui tautan moral yang memperkuat persatuan suatu bangsa. Saat kita menyadari bahwa penderitaan sesama juga bisa menimpa diri kita sendiri, tersingkap alasan mendasar mengapa keberpihakan pada mereka yang menderita menjadi penting.

Benedict Anderson, dalam Imagined Communities, menegaskan bahwa bangsa adalah komunitas politik yang dibayangkan oleh para anggotanya. Melalui imajinasi atas pengalaman serupa, kita dimungkinkan untuk memahami, bahkan turut merasakan penderitaan sesama warga bangsa. Proses inilah yang memantik empati; sebuah kesadaran bahwa kemalangan orang lain sejatinya bisa menimpa siapa saja tanpa kuasa untuk mengelaknya. Dari titik kesadaran inilah, belas kasih lahir bukan sekadar sentimen pribadi, melainkan respons moral kolektif dalam sebuah komunitas bangsa.

Menyembuhkan Luka

Dalam masyarakat, setiap individu saling terhubung dalam suatu jaring yang saling mempengaruhi; tak ada yang benar-benar kebal terhadap penderitaan hidup. Guncangan ekonomi global, pandemi, bencana alam, hingga pailitnya perusahaan yang merenggut penghidupan para pekerja menunjukkan bahwa penderitaan sering lahir dari hal-hal di luar kendali manusia. Meski tak ada tindakan yang mampu menghapus seluruh penderitaan, setiap langkah kepedulian merupakan usaha nyata untuk mewujudkan nilai kemanusiaan dan meringankan beban sesama.

Tidak ada satu tindakan tunggal yang mampu menuntaskan seluruh penderitaan bangsa ini. Untuk menyembuhkan luka bangsa ini dibutuhkan keberanian untuk menoleh dan berpihak. Langkah awal yang paling bermakna adalah dengan berani menunjukkan kepedulian. Sebagai mahasiswa, kita menjadi relawan dalam kegiatan sosial. Sebagai pendidik, kita menanamkan benih empati dalam setiap pengajaran. Sebagai warga negara, kita memilih untuk tidak abai saat melihat ketidakadilan menimpa sesama. Menghargai sesama manusia—tanpa memandang gender atau strata—bukanlah pilihan moral semata, melainkan fondasi bagi tegaknya sebuah bangsa. Sebab, sekecil apa pun bentuk kepedulian yang kita berikan, ia adalah obat yang perlahan namun pasti akan meredakan luka-luka bangsa ini.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.