Masalah Sampah di Kota Kupang: Rendahnya Kemampuan Berpikir Kritis

oleh -1963 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Irenius Andika Tutu 

Wajah Kupang di tengah kemajuan dan kemegahannya rupanya tidak mampu menutup masalah yang sedang terjadi. Kemajuan dan kemegahan ini ternyata menyimpan sebuah masalah yang cukup urgen bagi kehidupan manusia. Masalah sampah yang terjadi di Kupang bukan saja merupakan masalah lingkungan, tetapi masalah moral dan akal budi. Setiap hari volume sampah semakin meningkat tetapi kesadaran moral dan kemampuan berpikir kritis mengalami penurunan signifikan yang mengancam kehidupan.

Seperti yang dikatakan oleh Immanuel Kant, manusia itu makhluk yang memilki akal budi dan bertindak berdasarkan prinsip moral. Ketika masalah sampah yang terjadi di Kupang ini tidak ditangani dengan serius maka patut dipertanyakan kemampuan berpikir kritis masyarakat Kupang. Budaya masyarakat yang tidak peduli pada masalah lingkungan serta kemampuan berpikir kritis yang rendah menjadi problem utama. Volume sampah membesar tetapi daya kritis melemah di bawah arus kemajuan Kupang yang kian dahsyat dan tidak terbendung. Beragam cara dilakukan tetapi akal budi tidak digunakan dengan baik sehingga tindakan pun tidak berdasarkan moral.

Akal Budi dan Fakta di Kupang Perspektif Immanuel Kant

Immanuel Kant memandang manusia bukan sebagai makhluk biologis saja, tetapi makhluk yang memiliki akal budi dan bertindak berdasarkan moral. Bagi Kant, akal budi dan tindakan berdasarkan moral adalah ciri utama manusia dan yang membedakannya dari makhluk hidup yang lainnya. Fakta yang terjadi di Kupang menunjukan tergerusnya kemampuan berpikir kritis manusia dan perilaku menyimpang terhadap moral universal. Masalah sampah yang terjadi di Kupang tidak sejalan dengan keistimewaan manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan bertindak berdasarkan moral. Immanuel Kant secara tidak langsung mengkritik masalah yang terjadi di Kupang bahwa masalah sampah ini menunjukan kegagalan manusia dalam menggunakan akal budi sehingga bertindak tidak sesuai dengan moral umum.

Menurut Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Kupang, jumlah produksi sampah yang ada di Kupang mencapai 234 ton per hari, namun hanya 166 ton saja yang berhasil diangkut ke TPA dan sisanya tersebar di jalan dan trotoar. Armada pengangkut sampah hanya 28 truk saja yang aktif dari 44 unit, dan ditambah dengan 6 mobil ambrol dan beberapa pikap. Sementara tenaga kebersihan hanya berjumlah 256-326 orang dan saat libur akhir tahun volume sampah meningkat hingga 274 ton per hari. Dari fakta sampah yang terjadi di Kupang ini maka masalah sampah bukan disebabkan oleh kurangnya fasilitas saja tetapi yang lebih utama adalah kemampuan berpikir kritis yang rendah sehingga tidak mengetahui risiko atau dampak dari sampah bagi kehidupan.

Kupang vs Eropa

Masalah sampah di Kupang dan Eropa memiliki perbedaan yang sangat kontras. Di Eropa, pengelolaan sampah sudah berjalan sistematis dan didukung oleh budaya masyarakat yang disiplin, sedangkan di Kupang pengelolaan sampah masih mengalami kendala fasilitas dan budaya masyarakat yang kurang peduli. Perbedaan ini menunjukan bahwa Kupang volume sampahnya akan terus meningkat dibandingkan Eropa karena pengelolaan yang baik didukung oleh budaya masyarakat yang peduli dan berpikir kritis terhadap segala tindakan.

Menurut data, volume sampah di Kupang mencapai 86 ton per hari dan ditambah sistem pengangkutan serta pengelolaan masih terbatas yaitu tidak ada data daur ulang maupun pemilahan. Sedangkan di Eropa rata-rata daur ulang sampah rumah tangga di Uni Eropa mencapai 50.persen pada 2021-2022. Beberapa Negara unggul seperti Jerman 69 persen, Austria 62.5 persen, dan Slovenia 60.8 persen. Pada tahun 2023, hanya 12 persen dari total material di Uni Eropa berasal dari bahan daur ulang dan hal ini menujukan area kemajuan lebih lanjut. Terdapat juga pengurangan plastik sekali pakai dan kebijakan denda bagi yang melanggar.

Berdasarkan data daur ulang sampah antara Eropa dan Kupang, maka masalah sampah ini bukan saja oleh keberhasilan banyaknya mendaur ulang sampah tetapi yang lebih utama adalah kemampuan berpikir kritis dari masyarakat Eropa yang tinggi dibandingkan Kupang. Aspek kesadaran moral dan kemampuan berpikir kritis yang tergerus sehingga tidak mengetahui akan bahaya dari sampah bagi kehidupan.

Seperti kata Immanuel Kant, pencerahan (Aufklarung) adalah keberanian manusia untuk menggunakan akalnya sendiri. Berkaitan dengan perkataan Kant ini, sudah jelas masyarakat Kupang masih bergantung pada kekuatan eksternal untuk menjaga lingkungan, maka pencerahan belum terjadi. Masyarakat tidak berani berpikir sendiri dan membiarkan orang lain berpikir atau dalam konteks masalah sampah adalah urusan pemerintah. Sikap tidak peduli pada lingkungan sebab pemerintah yang menangani yang menjadi masalah bagi kemampuan berpikir kritis yang rendah.

Masalah sampah yang terjadi di Kupang merupakan masalah lingkungn yang melibatkan masalah bagi manusia. Manusia mengalami masalah akibat sampah yang tercecer tanpa penanganan yang serius dan berarti untuk kehidupan saat ini dan kehidupan yang akan datang. Masalah sampah ini bukan saja oleh kurangnya fasilitas dan pengelolaan yang tidak berjalan dengan baik tetapi lebih dari itu disebabkan oleh daya berpikir kritis yang tidak digunakan dan kesadaran moral yang tidak kuat.

Kemampuan berpikir kritis semakin tergerus oleh tindakan yang tidak berdasarkan moral universal. Immanuel Kant mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang luar biasa sebab memiliki akal budi dan moral universal dalam melakukan berbagai tindakan.
Oleh sebab itu masyarakat di Kupang perlu meningkatkan kemampuan berpikir kritis agar masalah sampah tidak terjadi akibat ulah manusia yang tidak bermoral dan tidak menggunakan akal budinya.

Budaya kritis terhadap segala tindakan harus ditingkatkan agar setiap tindakan yang dilakukan dapat sesuai dengan moral universal. Seperti kata Kant, manusia haruslah berani menggunakan akal di dalam setiap tindakan hidup, sehingga masalah yang mengancam kahidupan seperti sampah tidak mengorbankan kehidupan generasi di masa depan.

Penulis adalah Mahasiswa Aktif Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.