Manajemen Pesantren di Era Gen Z

oleh -1440 Dilihat
banner 468x60

Oleh: K.H. Achmad Faisal Hadziq

Manajemen pesantren di era medsos yang sarat viralitas ini, meniscayakan banyak orang merasa tahu segala-galanya, sampai-sampai mereka lupa bahwa Yang Maha Tahu hanyalah Allah Swt. Secanggih apapun perangkat teknologi diciptakan, bila tidak disertai energi pendukungnya, ia takkan sanggup berdaya secara independen. Demikian halnya dengan manajemen pesantren, sehebat apapun perangkat teknologi difasilitasi, tetapi jika kurang “sentuhan” dari pembimbing dan pengasuhnya, maka hasilnya akan kurang optimal.

Setiap pesantren modern di era Gen Z ini turut serta menyediakan sarana dan prasarana bagi kemudahan santri mengembangkan bakat dan potensinya yang beragam, termasuk di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Di sisi lain, pengembangan keterampilan santri di luar wilayah kurikulum formal, seperti pengembangan olahraga, kesenian, juga semakin menyemarakkan khazanah dakwah Islam yang beragam.

Dari perspektif lain, mendidik santri di pesantren juga tidak semata-mata mencetak anak agar menjadi “pintar”. Banyak lembaga pendidikan yang seakan fokus untuk memintarkan anak, tetapi di pesantren bukan semata-mata anak harus pintar melainkan yang utama adalah “tahdibul akhlaq” (keseimbangan karakter) yang akan mengantarkan anak para perilaku yang baik dan berkarakter. Bahkan, dunia kesenian yang berjalan juga dalam koridor membawa misi keislaman yang moderat, bukan yang radikal.

Karena itu, persoalan disiplin di lingkungan pesantren berbeda dengan disiplin kepatuhan ala militerisme yang seakan-akan tanpa syarat. Disiplin pesantren diniscayakan sebagai bagian dari alternatif pengarahan dan pembimbingan yang membuat anak-didik kelak dapat mampu mendisiplinkan dirinya. Faktanya, tidak ada negara maju di dunia ini yang tidak dimulai dari anak-anak bangsa yang sanggup mendisiplinkan diri dengan sebaik-baiknya. Lihat saja negeri tetangga kita seperti Singapura, Malaysia, Brunai, Jepang, dan seterusnya. Setiap negeri yang makmur dan berdaya saing, tak lepas dari bangsa-bangsa yang mampu hidup disiplin, bahkan diawali dari keluarga dan rumah-tangga yang berdisiplin.

Pendiri pesantren Daar el-Qolam (Rumah Literasi), K.H. Ahmad Rifai Arief, pernah bercita-cita mengembangkan pesantren unggulan, dengan tetap menjaga nilai-nilai akhlak yang tertuang dalam motto dan panca jiwa pesantren, seperti kemandirian, berbudi luhur, keikhlasan, hingga kebebasan berpikir. Untuk itu, sentuhan kiyai dan pengasuh selaku pendidik harus diutamakan, agar anak didik dapat tumbuh dewasa, dalam keselarasan dan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritualitasnya.

Bagaimanapun, dunia pendidikan adalah amanah agar konsisten memberdayakan transformasi pendidikan yang paling ideal. Karena itu, diupayakan keselarasan manajemen yang menyentuh kalbu para anak didik, karena bukan saja orang-orang tua yang berekonomi menengah ke atas, namun tidak sedikit juga pesantren yang menangani anak-anak bermasalah di lingkungan keluarga dan masyarakatnya.

Tapi pada prinsipnya, setiap pendidik perlu menyadari keberadaan anak didik dengan karakternya yang beragam. Tak usah terlampau ideal untuk membuat semuanya agar berhasil dan sukses, karena hakikat fungsi pndidikan adalah menekan sifat negatif pada diri anak, serta mengoptimalkan potensi baik yang sudah ada dalam dirinya.

Para pengasuh dan pengurus (mudabbir) di pesantren juga memiliki otonomi sendiri dalam pola asuh dan pola ajar yang diberlakukan oleh sistem pesantren. Dari anak-anak yang baik, nakal, bahkan nakal sekali, semuanya ditangani dan diakomodasi dengan pola asuh yang semestinya diberlakukan. Di sinilah peran strategis dunia pesantren, ketika keluarga dan negara sedang mencari format pendidikan ideal untuk membendung arus budaya global, pergaulan bebas, kriminalitas hingga obat-obatan terlarang. Justru dunia pesantren sudah membiasakan diri dengan sistem pola asuh dan pola ajar yang dipercaya oleh masyarakat. Khususnya pesantren-pesantren yang bertradisi kedisiplinan yang terarah, agar tercipta keseimbangan bagi kecerdasan sosial, intelektual, hingga spiritualitas anak-didik.

   Saat ini, pemanfaatan teknologi memiliki ruang dan waktu yang tak terbatas. Ketika orang tua disibukkan hari-harinya dengan berkantor, bekerja atau berdagang, maka sang waktu akan menjadi tuan yang memenej kehidupan sang anak, karena bagaimanapun seorang anak tak punya keterampilan untuk menguasai waktu. Ia hanya akan menjadi abdi yang dikendalikan ruang dan waktu, di manapun dan kapanpun ia akan menghabiskan hari-harinya bersama gawai. Karena itu, untuk hari-hari mendatang, pendidikan pesantren bisa menjadi lembaga pendidikan alternatif yang paling dicari dan disegani oleh para orang tua yang sedang mengalami kegelisahan di mana-mana.

Dunia sekolah yang mestinya memberikan waktu dan ruang yang nyaman bagi anak didik, tetapi tidak jarang berfungsi sebagai ajang perkumpulan yang saling melampiaskan kebebasan mereka dari kegelisahan-kegelisahan yang dihadapi. Akibatnya, tujuan utama pendidikan bangsa untuk memekarkan dan membentuk watak dan karakter, solidaritas dan kesetiakawanan sosial, menjadi terabaikan dengan sendirinya. Karena itu, pesantren dengan bimbingan para pendidik dan pengasuh yang memberikan “sentuhan” langsung kepada anak-didik, merupakan sarana pendidikan andalan yang sangat diharapkan para orang tua.

Kiranya dunia pesantren dan lembaga pendidikan berasrama di negeri ini sanggup mengantisipasi segala perubahan yang ada, hingga dapat memberi kontribusi positif bagi kemajuan pendidikan dan peradaban bangsa ini. (*)

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren La Tansa 2, di Rangkabitung, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.