Lembaran Kelam di Kota Kenari

oleh -269 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Alfons Nara Hokon

Saya menulis ini hanya sekedar menoleh jejak kelam sebuah peradaban yang kini sedang terjadi di sekitar saya. Hampir tujuh tahun saya menjejaki ziarah kehidupan di Kabupaten Alor- wilayah dengan kebanggaan seribu moko- rasa dan semangat persaudaraan, toleransi dan kekerabatan dengan menjunjung tinggi budaya adat yang sungguh kental – wilayah dengan menyimpan sejuta keindahan alam yang sesungguhnya menceritakan dengan pasti dalam diamnya tentang Alor yang indah dan mempesona- wilayah dengan semangat keagamaan (spiritual) yang begitu kental – pulau sejuta gudang (lopo) yang mencerminkan semangat kesatuan dan kekeluargaan yang begitu mendalam dan kuat mengakar.

Saya begitu bangga dan sangat bahagia memiliki kesempatan untuk tinggal di Pulau Seribu Moko ini; betapa betahnya saya ketika menjejaki ziarah perjalanan hidup di Kabupaten Alor ini. Tidak bisa saya rangkaikan kata-kata yang indah sebagai pengganti ungkapan rasa, tidak bisa saya menenunkan kalimat puitis sebagai ungkapan kedalaman kekaguman saya akan pulau yang satu ini. Hanya Tuhanlah yang tau tentang bagaimana saya melihat dan menjejaki hidup di pulau Alor ini. Dengan menjejaki sebagian hidup dan panggilan saya di pulau Alor ini memberi kesan tersendiri bagi saya bahwa kabupaten Alor adalah salah satu kabupaten yang menyimpan sejuta keunikan dan keistimewaan tersendiri. Kesan ini berangkat dari beberapa hal di atas yang sungguh melatarbelakangi semuanya itu. 

Seiring perjalanan waktu dalam jejak ziarah kehidupan dan panggilan di pulau Alor ini, ada fenomena lain yang membuat saya kaget (heran) dan terdiam dalam sebuah permenungan pribadi, yang menghadirkan pertanyaan begitu besar dalam diri tentang situasi Kabupaten Alor terkini (baca awal tahun 2026 hingga saat ini). Kebanggaan saya tentang Kabupaten Alor selama ini, seakan terpecah bagaimana cermin terjatuh ke tanah dan retak berkeping-keping. Terdiam tak berkata sambil menatap fenomena terkini itu, seakan Tuhan sedang jauh dari kehidupan kami orang-orang di Kabupaten ini, atau seakan Tuhan sedang marah dengan ulah kami anak-anak-Nya yang sering menghilangkan nyawa dimuka bumi pulau kenari ini. Mungkinkah itu yang dinamakan tumbal dari keegoisan dan kesombongan anak-anak Alor atau Tuhan sedang memberi pelajaran terindah untuk disadari dan berbenah? Pertanyaan yang sulit dijawab dengan nada kepastian karena fenomena itu telah merusak kekaguman dan ketertarikan yang ada dalam diri saya.

Pulau Kenari seakan kini tinggal batang tertanam kuat di tanah tanpa daun dan buah yang mengharumkan nama tanah Alor. Dalam beberapa waktu terakhir relung jiwa terdalam dari pulau sejuta Moko sedang pecah berkeping dalam situasi sosial yang cukup memprihatinkan akibat meningkatnya prilaku tak berkemanusiaan yang berujung pada hilangnya nyawa manusia. Berbagai kasus kekerasaan, penganiayaan, bentrokan antarwarga hingga tindakan pembunuhan menjadi perhatian serius saat ini. Kondisi ini menimbulkan rasa takut, kekhawatiran, keresahan di tengah kehidupan sosial masyarakat yang selama ini dikenal menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan adat istiadat. 

Beberapa peristiwa tragis yang menjadi menu harian anak-anak Alor menunjukan bahwa tindakan kriminal tidak lagi sekedar pelanggaran hukum biasa, tetapi berkembang menjadi sebuah ancaman serius bagi keamanan dan ketertiban masyarakat. Salah satu kasus yang menjadi perhatian publik adalah peristiwa penikaman, pemotongan manusia dan pemanahan (busur dan anak panah) yang mengakibatkan korban meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan medis. 

Pihak aparat kepolisian beberapa kali berusaha menggagalkan potensi bentrok antarwarga yang dapat memicu korban jiwa apabila tidak segera ditangani. Tragis dan sungguh memprihatinkan fenomena ini, tapi disaat ini dan di tanah ini, semuanya itu telah terjadi dan sedang berkelanjutan disetiap jejak langkah peradaban manusia di pulau sejuta Moko. 

Fenomena tindakan kriminal ini tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor sosial yang saling berkaitan. Salah satu penyebab utama adalah rendahnya pengendalian emosi dan meningkatnya budaya kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Perselisihan kecil seringkali berkembang menjadi tindakan penganiayaan karena kurangnya kemampuan masyarakat  untuk menyelesaikan konflik secara damai. Di sisi lain konsumsi minuman keras menjadi pemicu utama bagi kalangan kaum laki-laki baik tua maupun muda, yang pada menghidupkan pertengkaran dan tindakan brutal dengan berujung pada hilangya nyawa manusia. 

Ketika dicermati dari sisi yang lebih vital, keadaan ekonomi juga menjadi salah satu faktor munculnya tindakan kriminal; kesulitan ekonomi, pengangguran dan keterbatasan lapangan kerja yang dapat memicu frustrasi sosial teristimewa dikalangan anak-anak muda. Ketika kesempatan kerja dan pendidikan terbatas, sebagian masyarakat menjadi rentan terlibat dalam tindakan pelanggaran hukum, bahkan membangkitkan sebuah keresahan sosial yang berkesinambungan dan frustrasi yang berkepanjangan. Fenomena ini semakin diperparah lagi oleh pengaruh lingkungan sosial yang negatif dan lemahnya pengawasan keluarga. 

Fenomena kekerasan yang terjadi juga memperlihatkan adanya tantangan besar dalam pembinaan generasi muda. Tawuran antar pemuda, penggunaan senjata tajam dan aksi balas dendam menunjukkan bahwa sebagian anak muda mulai kehilangan arah dan nilai-nilai moral dan spiritual. Padahal dalam diri generasi muda seharusnya menjadi harapan dan kekuatan utama dalam pembangunan daerah Nusa Kenari tercinta ini, bukan justru menjadi pelaku kekerasan yang merusak masa depan sendiri dan mengancam keselamatan orang lain serta meresahkan kehidupan bersama. 

Di tengah situasi tersebut, aparat kepolisian terus berupaya melakukan penegakan hukum dan menjaga keamanan masyarakat. Data kepolisian menunjukan dengan jelas sederet kasus dan kisah tragis yang kini terjadi di Kabupaten Alor, bahkan upaya penanganan dari pihak mereka seakan menemukan jalan butuh menuju penyelesaian. Hal ini menuntut sebuah kesadaran universal dari semua pihak yakni para penghuni bumi Nusa Kenari. Dalam dan melalui kesadaran yang kuat dan mendalam, fenomena ekstrim yang mematikan dan merusak tatanan hidup bersama akan menjadi lebih baik, sebab di dalam kesadaran itu nurani dan logika berpadu menenun dan melahirkan nilai-nilai baik. Hati nurani diasah dan pikiran dicerahkan secara positif akan semua peristiwa atau kisah yang mewarnai kehidupan di tanah Alor ini. 

Peran para tokoh adat, tokoh agama, pemerintah dan keluarga menjadi sangat penting dan berwibawa dalam mengatasi semua persoalan yang terjadi di tanah ini. Masyarakat Alor memiliki budaya kekeluargaan yang kuat, rasa toleransi yang kental, semangat persaudaraan yang mengakar, sehingga pendekatan adat dan moral sebenarnya dapat menjadi solusi efektif dalam meredam konflik. 

Selain itu pemerintah perlu memberikan perhatian lebih pada pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang bersifat positif bagi kaum muda dapat menjadi sebuah pilihan baik dalam membantu mengurangi potensi kriminalitas. 

Bercermin dan belajar dari situasi terkini yang sedang ada di Nusa Kenari dalam beberapa bulan terakhir ini, sebagian kita mesti hening sejenak dalam sebuah perefleksian yang mendalam akan nilai spiritual dan moral yang perlu dihidupi di tanah ini; butuh sebuah ruang diskusi yang mencari solusi untuk sebuah kebaikan dan perdamaian bersama; butuh saat diam sejenak dihadirat-Nya lewat darasan doa memohon bantuan Tuhan terlibat dalam pemeliharaan rasa aman, saudara, kasih, cinta dan memohon Roh Kudus-Nya bekerja dalam diri orang-orang yang berniat baik dan sungguh mencintai keamanan, keterlibatan dan kesejahteraan ditanah seribu moko ini.

Pulau seribu moko

Kini Moko itu seakan sedang retak oleh tangan yang egois

Pulau sejuta kenari

Kini kenari itu seakan tumbang ditangan orang angkuh dan rakus 

Pulau sederet gudang (lopo)

Kini gudang itu seakan rubuh oleh tangan yang serakah. 

Datanglah Ya Tuhan

Pandanglah dengan kelembutan kasih-Mu

Bantulah dengan kelimpahan kuasa-Mu

Lindungi dengan berkat-Mu

Tanah kami yang kini sedang retak dan berlumur darah.

Penulis adalah Rohaniwan Katolik bertugas di Alor

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.