Jejak Perjumpaan dan Arsip Fana Menuju Abadi [In Memoriam Romo Mudji Sutrisno]

oleh -936 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Anselmus DW Atasoge

Saya duduk di kursi plastik hijau itu, bersebelahan dengan Romo Mudji Sutrisno, sementara malam di pelataran Gereja Konga pada 1 April 2020 menyelimuti kami dengan kesederhanaan yang justru memancarkan intensitas perjumpaan. Dalam kebersahajaannya, Romo Mudji hadir sebagai filsuf dan budayawan yang menafsirkan kebudayaan sebagai jalan refleksi dan pembebasan. Dan setelah Beliau wafat pada 28 Desember 2025, foto ini bagi saya menjelma menjadi kenangan yang sarat makna, simbol transisi antara yang fana dan yang abadi. Dalam keheningan, tubuh Beliau seakan berbisik tentang spiritualitas yang membumi, filsafat yang menyapa manusia konkret, dan keberpihakan pada kebudayaan lokal. Sebuah gema yang terus hidup, menuntun saya untuk melihat bahwa perjumpaan sederhana dapat menjelma menjadi puisi abadi tentang makna, dialog, dan keindahan yang tak lekang oleh waktu.

Saya mengenakan pakaian berpola, duduk dengan sebuah buku di tangan. Buku itu adalah hadiah dari Romo Mudji kepada saya, sebuah tanda persahabatan sekaligus warisan intelektual yang Beliau percayakan. Bagi saya, buku itu bukan benda pasif, melainkan tanda bahwa pengetahuan harus dihidupi dan dibagikan. Saya melihat pakaian kami, dengan warna dan motif yang berpadu, sebagai teks budaya yang menggabungkan tradisi dan modernitas dalam satu bingkai. Dalam perspektif filsafat budaya, momen ini saya pahami sebagai ARSIP EKSISTENSIAL: sebuah perjumpaan yang menghidupkan kembali nilai-nilai dialog, keterbukaan, dan etika relasi.

Saya teringat gagasan Romo Mudji Sutrisno tentang budaya yang semakin meneguhkan makna foto ini. Dalam berbagai karyanya, seperti Budaya dan Demokrasi serta Estetika dan Politik, Romo Mudji menekankan bahwa manusia adalah makhluk pencari makna, yang mengacu hidupnya pada apa yang dipandang baik, benar, dan indah. Foto yang merekam kebersamaan saya dengan Beliau menjadi cermin konkret dari gagasan itu: sebuah perjumpaan yang sederhana, namun sarat dengan intensitas pencarian makna yang melampaui ruang dan waktu.

Budaya, bagi Romo Mudji, adalah kemampuan manusia untuk memahami kenyataan secara kognitif, mengagumi dan mengembangkan keindahan secara estetis, serta menghayati kehidupan secara religius. Dalam buku Estetika: Sebuah Pengantar, Beliau menegaskan bahwa kebudayaan tidak berhenti pada simbol, melainkan menghidupi manusia dalam keseharian. Saat saya memegang buku yang dihadiahkan Romo Mudji, saya merasakan bahwa pengetahuan adalah pengalaman hidup yang harus diinternalisasi dan dibagikan. Buku itu menjadi tanda bahwa budaya adalah jalan untuk menghidupi makna, dan tidak berhenti pada aksi mengoleksi kata.

Saya juga teringat penekanan Beliau bahwa budaya adalah tatanan sosial yang terus berubah bersama waktu, pikiran, rasa, dan karsa manusia. Dalam Budaya dan Demokrasi, Romo Mudji menulis bahwa budaya tidak statis, melainkan selalu bergerak mengikuti dinamika masyarakat. Foto ini bagi saya adalah arsip eksistensial yang menegaskan gagasan itu: perjumpaan kami bukanlah titik akhir, melainkan bagian dari arus perubahan yang terus menghidupkan nilai dialog, keterbukaan, dan etika perjumpaan.

Saya memandang foto ini sebagai warisan yang Romo Mudji tinggalkan: keberanian untuk berpikir, kelembutan dalam menyapa dunia, dan komitmen untuk menjadikan budaya sebagai jalan pembebasan. Gagasan Beliau tentang budaya sebagai pencarian makna, estetika kehidupan, dan tatanan sosial yang dinamis, kini hidup dalam kenangan ini. Foto itu menjadi saksi bisu bahwa budaya adalah praksis yang membentuk peradaban melalui dialog, refleksi, dan kehadiran yang penuh makna.

Dalam keheningan foto itu, saya merasakan denyut budaya yang pernah dihidupi bersama Romo Mudji, denyut yang tidak pernah padam meski waktu telah merenggut kehadirannya. Buku yang Beliau hadiahkan kepada saya menjadi obor kecil yang terus menyala, menuntun langkah dalam lorong pencarian makna yang tak berkesudahan. Di antara warna pakaian, kursi sederhana, dan malam yang membungkus, saya menemukan gema gagasan Beliau. Bahwasanya, hidup adalah perjalanan menuju kebaikan, kebenaran, dan keindahan. Sejatinya, foto ini bagi saya adalah kenangan yang menjelma menjadi puisi abadi, sebuah saksi bisu tentang peradaban yang tumbuh dari dialog, refleksi, dan cinta yang tak pernah selesai.***

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende Flores

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.