Jejak Perjuangan Jamaluddin Al-Afghani 

oleh -1857 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Eeng Nurhaeni

Karakteristik penuntut ilmu dan pencari kebenaran, akan selalu menolak segala ketidakadilan yang diselenggarakan pihak penguasa, kapan pun dan di negeri manapun.” (Imam al-Ghazali)

Jamaluddin Al-Afghani adalah pelopor yang tiada tandingannya dalam memperkenalkan filsafat kalam di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Ia merupakan guru dan sahabat dari cendekiawan muslim terkenal Syekh Muhammad Abduh. Di tahun 1870, ketika kondisi Mesir mengalami krisis politik dan keuangan, Jamaluddin mendorong para pengikutnya untuk menerbitkan surat kabar yang khusus mengulas persoalan-persoalan politik. Ia banyak memberikan ceramah dan orasi-orasi politiknya sebagai pemimpin gerakan bawah tanah.

Pada 1889 ia mulai mendirikan partai bernama Hizbul Wathan, hingga berhasil melengserkan Raja Mesir tersohor Khedewi Ismail. Namun kemudian, muncul penguasa baru Mesir yang mengatasnamakan pembaharuan namun tetap memakai cara-cara lama. Penguasa baru itu adalah Taufik Pasha yang membikin ultimatum atas pengusiran Jamaluddin agar hengkang dan tak boleh menginjakkan kakinya di tanah Mesir.

Setelah itu, ia berhijrah ke Paris selama beberapa tahun, hingga berjumpa dengan murid dan sahabat baiknya, Muhammad Abduh untuk bersama-sama mendirikan majalah yang menyuarakan spirit keislaman bernama “al-Urwah al-Wutsqa”. Melalui majalah tersebut, ia terus menggelorakan semangat jihad dalam konteks pemikirannya, yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Jihad dalam pembaruan pemikiran, terutama menentang segala perilaku-perilaku imperialisme maupun sikap otoriter para penguasa dalam pengertian yang lebih komperhensif.

Karya monumentalnya

Setelah menempuh pendidikan awal di kampung halamannya, Afghanistan, Jamaluddin kemudian hijrah menuju Iran untuk menempuh jenjang pendidikan Islam dan sains modern. Kemudian, ia melanjutkan jenjang perguruan tinggi di India untuk lebih mendalami ilmu-ilmu pengetahuan modern.

Misi yang disuarakan selama belasan kali penerbitan majalahnya di Paris, kentara sekali corak pemikiran Jamaluddin al-Afghani. Ia lebih mengenalkan konsep pemikiran politik Islam yang kritis dan rasional, hingga mengamati perkembangan politik militer di seluruh dunia. Ia mempublikasikan tulisannya bukan hanya dalam bentuk majalah, tetapi juga buku-buku modern yang menghimpun analisisnya yang tajam, baik dalam bahasa Arab maupun Inggris.

Ia juga mengumandangkan misi sosialisme ala Islam yang berbeda dengan sosialisme Barat, hingga ajarannya menyebar dan digandrungi para mahasiswa muslim baik dari Mesir, Iran, Turki, India hingga Afghanistan sendiri. Dalam tempo beberapa bulan setelah terbitnya, majalah al-Urwah segera menjadi populer hingga dipasarkan pula ke wilayah London, Inggris. Bukan hanya kaum terpelajar dan mahasiswa, para ulama juga merasa antusias menyambut kehadiran majalah tersebut.

Misi pembaharuannya yang utama adalah spirit patriotisme kebangsaan untuk melawan dan menentang segala bentuk penjajahan, baik penjajahan fisik maupun rohani. Dalam salah satu headline-nya, Jamaluddin menulis dengan lugas, bahwa perjuangan untuk mempertahankan tanah air adalah hukum alam dan merupakan prinsip hidup yang terikat oleh tuntutan-tuntutan yang diciptakan oleh alam, melalui insting kebutuhan manusia pada sandang maupun pangan.

Untuk itu, prinsip kedaulatan dan kemerdekaan, yang terbebas dari segala bentuk penjajahan, itulah yang paling disuarakan oleh semangat Jamaluddin al-Afghani bersama para sahabat seperjuangannya.

Prinsip kebenaran

Sewaktu belajar di Teheran, Jamaluddin pernah berguru pada seorang mursyid, Murtadha al- Anshari, seorang sarjana teologi yang cukup terkenal. Dalam pengembaraannya menuntut ilmu, ia pun pernah melawat beberapa negara Arab, Afrika hingga Eropa, seperti Yaman, Turki, Mesir, Inggris hingga Rusia.

Sejak usia muda, Jamaluddin dikenal sebagai aktivis yang banyak melibatkan diri di kancah perpolitikan global. Hal ini dibuktikan di tahun 1879 ketika ia mendirikan suatu partai politik yang menggunakan nama Hizbul Wathan (Partai Kebangsaan). Dengan partai ini ia berusaha menanamkan pencerahan nasionalisme di kalangan mahasiswa dan generasi muda Mesir. Ia pun termasuk pelopor yang menjadi cikal-bakal pemikiran para cendekiawan NU di Indonesia, bahwa Islam dan nasionalisme harus dapat berkembang secara signifikan, sebagaimana Rasulullah memimpin pergerakan di Kota Madinah.

Ketika ia tampil sebagai aktivis keislaman di Iran, Jamaluddin pernah diposisikan sebagai perdana menteri oleh Raja Persia, Shah Nasiruddin Qachar. Saat itu, ia banyak mengkritik soal dekadensi moral di kalangan kerajaan Persia, hingga ia pun hendak ditangkap namun segera berhijrah menuju Kota Istanbul, Turki. Hal ini mengigatkan kita pada pernyataan Imam al-Ghazali, bahwa, “Karakteristik penuntut ilmu dan pencari kebenaran, akan selalu menolak segala ketidakadilan yang diselenggarakan pihak penguasa, kapan pun dan di negeri manapun.” []

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten Selatan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.