Oleh: Muakhor Zakaria
“Ali Khamenei itu seorang sufi. Biar bergabung para filosof Barat dan ahli-ahli syariah di Timur Tengah, mereka takkan sanggup mengubah keyakinan dan pendirian seorang sufi.” (Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia)
Ideologi bangsa Israel (keturunan Nabi Yakub), dapat kita lihat dalam kitab suci agama-agama Samawi, bahwa leluhur mereka pernah mengikuti Nabi Musa dan hidup dalam lingkaran mukjizat. Namun, melalui perjalanan waktu, mereka mengkhianati hakikat mukjizat yang pernah dirasakan dan disaksikan oleh mata-kepalanya sendiri.
Untuk itu, ada adagium yang dikenal luas mengenai Bani Israel atas keimanan mereka pada fenomena mukjizat, bahwa seorang beragama Yahudi yang tidak percaya mukjizat, sesungguhnya dia bukanlah seorang Yahudi yang sejati.
Akan tetapi, dalam sejarahnya, keturunan Nabi Yakub (Israel) seringkali tergoda oleh bujuk rayu duniawi, hingga lebih mementingkan pemikiran rasional dan intelektualitas, sampai pada waktunya terjerumus kepada intelektualisme dan penghambaan terhadap rasio. Hal itu tercermin jelas dalam penggambaran film garapan sutradara Daniel Myrick, “The Objective” (2008), tentang munculnya seorang agen CIA yang diperintahkan untuk bergabung dengan tim pasukan khusus Amerika, kemudian dilepas di tengah hamparan padang pasir Afghanistan. Mereka mempunyai misi untuk mencari seorang imam yang dikenal masyarakat sebagai seorang “wali” atau “sufi”, tetapi pihak Amerika justru menjulukinya sebagai tokoh Taliban (teroris).
Konon, menurut tuduhan para petinggi militer, Mohammad Aban memiliki banyak informasi perihal pergerakan rakyat Afghanistan, serta dianggap sebagai biang keladi yang menghambat pembebasan Afghanistan. Pemaksaan kehendak oleh tim pasukan khusus yang berambisi untuk terus merangsek, tak ubahnya para pemburu harta karun untuk menelusuri tanah-tanah tak bertuan, di tengah padang luas dan perbukitan. Misi mereka cukup jelas, untuk mencari informasi perihal keberadaan Mohammad Aban, yang bagi penduduk setempat dikenal sebagai imam besar laiknya Ayatullah Ali Khamenei di negeri Iran.
Di tengah perjalanan menelusuri perbukitan, yang merupakan tempat sakral dan hanya boleh dimasuki atas seizin “penunggu” wilayah, tiba-tiba muncul kejadian-kejadian misterius di luar nalar dan akal sehat manusia. Sebenarnya, kejadian berupa tanda-tanda (signs) sudah berkali-kali diperlihatkan di hadapan mereka, tetapi sikap “penyangkalan” selalu didahulukan oleh pikiran rasional mereka. Misalnya, mesin kendaraan yang canggih tiba-tiba mati seketika, air minum berubah menjadi pasir, munculnya bayangan atau suara-suara sejenis azan, atau serupa pembacaan ayat-ayat suci Alquran.
Sikap penyangkalan terus mereka pelihara. Tanda-tanda semakin menguat diperlihatkan di hadapan mereka, seperti penerjemah dan pemandu tiba-tiba terserang depresi hingga kemudian tewas lantaran menjatuhkan diri dari bukit terjal. Penerjemah bayaran itu sebenarnya sudah dilarang oleh ibu dan kakeknya, tetapi ia bersikeras untuk bergabung dengan tim khusus lantaran tergiur oleh bayarannya. Bahkan, di suatu pagi yang cerah, dua orang tentara saling adu tembak, padahal sesama kawan mereka sendiri. Dan lagi, beberapa anggota tim, tiba-tiba melihat sosok seorang imam yang sedang membisiki jamaahnya, padahal ia sejenis bayang-bayang fatamorgana.
Dengan rasa kesal dan penuh amarah, dua orang tentara tiba-tiba mengamuk dan menembaki bayang-bayang itu, namun kejadian misterius diperlihatkan lagi di hadapan teman-temannya, karena kedua tentara yang berseteru itu tiba-tiba “cling!” menghilang di hadapan kawan-kawannya.
Kehilangan itu bukan karena kesasar atau bersembunyi di balik bukit, tetapi hilang dalam pengertian riil, nyata, di hadapan mereka sendiri, bersamaan dengan munculnya cahaya dan suara-suara serupa ayat-ayat suci Alquran. Lalu, masihkah ada penyangkalan atas fenomena mukjizat (ma’unah) yang jelas-jelas terjadi di hadapan mata kepala mereka sendiri?
Sesungguhnya, wilayah teritorial yang menjadi kekuasaan penduduk setempat bersama imam besar yang memimpinnya, tak beda jauh dengan fenomena Gaza dan Baitul Maqdis, yang tak henti-henti diserbu dan diperangi, namun mereka tetap kesulitan untuk menguasai wilayah tersebut. Mereka sebenarnya sadar ada “kekuatan lain” yang tak terjamah oleh nalar dan pikiran rasional. Kekuatan itu senantiasa melindungi, mengamankan dan melestarikan. Bukankah di dalam Alquran sudah termaktub kesucian tiga wilayah yang dijamin keamanannya oleh Allah, yakni Masjidil Haram (Mekah), Masjid Nabawi (Madinah) dan Masjidil Aqsha (Palestina). Masihkah mereka berupaya keras untuk mengadakan penyangkalan?
Yang tak kalah menarik dari film “The Objective”, justru karena ia tak memberi penjelasan mendetail perihal hilangnya tim khusus itu satu persatu. Apakah munculnya cahaya menyilaukan itu sejenis makhluk luar angkasa (alien)? Ataukah sejenis penemuan teknologi laser yang dirancang petinggi militer Rusia atau Amerika sendiri? Kenapa kemunculannya selalu dibarengi suara-suara serupa ayat-ayat suci Alquran?
Setelah agen CIA, Keynes (Jonas Ball) lebih bijak dan arif menelusuri fenomena tersebut, ia seakan memahami, bahwa tim pasukan khusus yang dikerahkan di wilayah Afghanistan itu, bukanlah memulai dengan niat-niat baik dan tulus, melainkan diam-diam punya agenda terselubung untuk menangkap dan membunuh Mohammad Aban, hidup ataukah mati. Ini bukanlah misi biasa yang harus mereka selesaikan, melainkan suatu upaya pembunuhan atas tokoh ulama Afghanistan, yang mereka tak menyadari sakralitas dan kemuliaan seorang ahli tasawuf dalam pengamanan penduduk langit.
Serangkaian kejadian aneh tak masuk akal, yang dilihat Keynes dengan mata kepalanya sendiri, semakin membuka mata hatinya, bahwa perburuan atas tokoh religius itu, memang suatu tindakan yang tak beradab dan tak manusiawi. Mohammad Aban tak ubahnya Ali Khamenei sebagai seorang sufi sekaligus dzurriyah (keturunan) Rasulullah yang mengandung ruh cahaya sebagai sakralitas kosmik yang dilindungi Tuhan (Rabb). Menurut penulis Hafis Azhari, seorang ahli tasawuf, bak dari aliran Syiah maupun Sunni, keduanya merupakan satu kesatuan imanen yang mewarisi keilmuan (sanad) dari Rasulullah Saw.
Bahkan, dalam suatu acara bedah bukunya di Jalan Multatuli, Rangkasbitung, Hafis pernah menandaskan, “Seorang Sunni yang menganggap bahwa Syiah itu buruk, juga seorang Syiah yang menganggap bahwa Sunni itu buruk, keduanya tak mencerminkan karakter dan akhlak Rasulullah.”
Pada akhirnya, tim pemburu sebagai pasukan khusus Amerika itu, harus introspeksi dan sadar-diri, bahwa tak ada pilihan lain selain mereka harus angkat kaki meninggalkan area maut yang sarat dengan kekuatan supranatural itu. Kalau tidak, mereka semua harus menanggung risikonya sendiri, atau nyawa mereka akan melayang sebagai akibatnya. Itulah yang diprediksi Rabi Yahudi (Yitzchak Breitowitz) akhir-akhir ini, yang disiarkan oleh kanal YouTube, bahwa tak ada jalan lain untuk mengalahkan keturunan Ismail, yang kemudian menamakan dirinya sebagai pemeluk ‘Islam’, kecuali bangsa Israel harus mampu mengungguli kualitas spiritual mereka.
Pada akhirnya, Israel dan Amerika harus mengakui bahwa kekuatan Iran (umat Islam) memang sulit untuk dikalahkan. Bagaimana mungkin mereka sanggup mengalahkan komunitas masyarakat yang siap berkorban, bahkan siap menyambut datangnya kematian kapanpun dan di manapun. Sementara, keturunan Yakub (Israel) tidak memiliki tingkat keberanian setangguh itu. “Musuh terbesar kita adalah keturunan Ismail,” tegas Yitzchak Breitowitz, “tetapi, bagaimana mungkin kita dapat mengalahkan suatu keturunan (kelompok) yang tingkat spiritualitasnya lebih tinggi di atas kita?” (*)
Penulis adalah Dosen dan pengasuh pesantren Thariqul Akhor di daerah Lebak, Banten, aktif menulis esai dan prosa di berbagai media luring dan daring







