Ihwal Buku Jihad Pendidikan

oleh -2325 Dilihat
banner 468x60

 Oleh: Indah Noviariesta

Buku berjudul “Jihad Pendidikan” karya Abah Bazari Syam (Ketua Umum MUI Banten) telah menyebar luas di kalangan akademisi dan intelektual, khususnya di provinsi Banten. Banyak intelektual Banten yang dilibatkan oleh pihak penerbit untuk memberi sambutan dan pengantar dalam buku inspiratif tersebut. Di antaranya Dr. A.M. Romly, mantan ketua umum MUI Banten, juga Prof. Suparman selaku rektor Institut Agama Islam Banten (IAIB).

Dalam analisisnya mengenai buku tersebut, A.M. Romly menyatakan, bahwa pendidikan dalam ajaran Islam adalah suatu alih nilai, pengetahuan dan keterampilan, serta pembiasaan untuk menjadi manusia berilmu, terampil, berbudi luhur dan berakhlak mulia. Baginya, istilah “Jihad Pendidikan” merupakan suatu tawaran konsep yang tepat, dan ditulis oleh orang yang tepat, yakni Dr. K.H. Bazari Syam, M.Pd.I, seorang pendiri pesantren Alwahdah, pimpinan perguruan tinggi (STAI) Assalamiyah, sekaligus akademisi yang paham tentang masalah pendidikan, karena secara pribadi telah berhasil mencapai derajat akademis yang tinggi, hingga bergelar doktor.

Menurut A.M. Romly, Bazari juga seorang aktivis dan pegiat pendidikan. Di dunia birokrasi, sebagai instansi vertikal tingkat privinsi, beliau pernah menduduki jabatan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama. Di dunia kemasyarakatan, beliau juga termasuk pengamat sosial-politik, bahkan salah seorang puteranya terjun ke kencah politik praktis selaku anggota DPR RI. 

“Saya menghimbau kepada masyarakat agar membaca buku Jihad Pendidikan,” ujar A.M. Romly, “hal tersebut ditekankan agar masyarakat sanggup memperluas wawasan dan memperkaya khazanah pengetahuan, khususnya di bidang pendidikan.”

Dalam kata pengantarnya yang cemerlang, Prof. Suparman, S.H. mengakui dirinya sudah cukup lama bersahabat dengan figur Bazari Syam. Setelah manuskrip disodorkan melalui PDF, serta-merta Prof Suparman menegaskan bahwa dirinya mengapresiasi gagasan Bazari yang memadukan kata jihad dengan pendidikan. “Bagi saya gagasan ini menarik, karena mengandung arti kesungguhan dalam menuntut ilmu,” tandas sang Profesor.

Ditegaskan dalam pengantarnya, bahwa Prof. Suparman sejak lama menginginkan adanya diskusi dan dialog yang intensif, khususnya di dunia akademisi dan intelektual di provinsi Banten. Keteladanan dari para pendahulu, khususnya apa yang dilakukan Imam Al-Ghazali dengan Ibnu Rusyd, sejak bergulirnya ide “Kerancuan Filsafat” (Tahafutul Falasifah), kemudian dijawab dengan buku selanjutnya “Tahafut al Tahafut” merupakan cermin dinamika pemikiran yang sangat baik di dunia Islam.

Hal tersebut paralel dengan gambaran yang dikemukakan Prof. Suparman atas peristiwa yang dialaminya sendiri ketika menjadi mahasiswa di perguruan tinggi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dinyatakan dalam tulisannya, bahwa ketika terjadi perbedaan pemikiran antara Dr. H.M. Rasyadi dan Dr. Nurcholis Madjid, maka pembaca menikmati alur pemikiran dua tokoh tersebut. “Demikian pula sewaktu saya kuliah di S3, justru alur pemikiran kedua tokoh tersebut dianjurkan oleh Prof. Dr. Harun Nasution agar menjadi buku bacaan wajib,” tegas Prof. Suparman.

Dengan pernyataan tersebut, Prof. Suparman telah memberi teladan, bahwa perbedaan pemikiran, serta berjalannya alur pemikiran harus terus dikembangkan. “Mungkin saja saya merasa benar, tapi hakikatnya salah, dan boleh jadi orang lain salah, tapi hakikatnya benar. Sebab, bagaimana pun, hakikat kebenaran yang hakiki hanyalah milik Allah Swt.”

Dalam kaitan itu, Syekh Mukhtar pernah menulis buku kecil, “Al-Kitabul Balut” yang berupaya untuk menjawab polemik di kalangan masyarakat Arab pada awal tahun 1890 Masehi. Dalam buku “Jihad Pendidikan” tertulis 1990, ada sedikit kesalahan mengenai penulisan tahun, namun hal tersebut tidaklah menyangkut hal prinsipil mengenai kebenaran histori tersebut.

Jawara intelektual

Bagi Prof. Suparman, mental jawara di ranah Banten harus disemarakkan dalam konteks dialog dan diskusi ilmiah yang saling merahmati. Perdebatan yang sengit sah-sah saja, tapi harus membuka wawasan baru yang memberi berkah bagi generasi mendatang. 

Dalam kata pengantar tersebut, Prof Suparman menguraikan pengalamannya bersama Bazari Syam. “Ingin saya jelaskan perihal dialog dan perdebatan saya dengan Bazari Syam. Suatu hari Bazari dan para sahabatnya bertanya, ‘Abah, sebenarnya Abah Suparman ini berada di garis NU ataukah Muhammadiyah?

Kata orang, Abah itu seorang Muhammadiyah, tapi kok banyak melakukan amalan nahdliyin?’ Saya termenung sejenak, kemudian membahasnya secara legawa, bahwa kaki saya kadang berada di kubu NU, tapi di saat lain saya berada di kubu Muhammadiyah. Kalau diklasifikasi dalam kerangka pemikiran yang dangkal, orang akan mudah menyimpulkan saya ini sebagai NU atau Muhammadiyah.

Tapi, saya tak pernah memiliki kartu identitas sebagai warga NU maupun Muhammadiyah. Bagi saya, perbedaan organisasi keagamaan tidak harus membuat masyarakat Banten menjadi fanatik terhadap suatu golongan, tapi justru harus bertanggungjawab untuk menyatukan semua golongan dalam bingkai seorang muslim yang baik dan dewasa. Saya sependapat dengan tokoh manapun yang berani menyatakan, bahwa kita harus berdiri di atas semua golongan, dan untuk semua golongan.”

Lebih tendensius, Prof Suparman menegaskan, bahwa tidak selayaknya bagi penguasa yang secara sewenang-wenang menghukum warga negaranya karena memperjuangkan kebebasan berpikir. Karena, cara itulah yang dilakukan para penguasa Athena terhadap Socrates yang tetap konsisten memperjuangkan logika dan kebebasan berpikir. Filosof Socrates dihukum mati oleh pengadilan Athena karena sikap kritisnya, independen, bahkan dianggap sebagai perusak pemikiran kaum muda pada waktu itu (399 SM).

Sosok pembaharu

Terkait dengan itu, Hafis Azhari yang terlibat selaku editor buku “Jihad Pendidikan” mengapresiasi pandangan umum mengenai sosok Bazari selaku “pembaharu yang sistemik” Ketika seorang wartawan daring bertanya secara lugas, maka dijawab oleh Hafis bahwa yang dimaksud pembaharu yang sistemik tak lepas dari konsep Islam sebagai “rahmatan lil alamin”, bahwa ketika seseorang menentang sistem status quo, bukan berarti ia harus berdiri di luar ring status quo. Sedangkan Bazari, berupaya keras untuk merombak status quo, meskipun ia tetap tegar untuk berdiri di dalamnya.

“Untuk itu, saya sepakat dengan akademisi yang menyatakan bahwa Bazari adalah tifikal tokoh dan pembaharu yang sistemik,” tegas Prof. Suparman. Sebagai dosen dan akadmisi yang dalam beberapa dekade bergelut di dunia pendidikan, Prof. Suparman mengakui dirinya merasa bersyukur mempunyai seorang teman karib sekaligus penerus yang pantas diandalkan seperti Bazari Syam. Beliau semakin mengenalnya ketika ditunjuk sebagai ketua Badan Amil Zakat Provinsi Banten yang mereka rintis, dan diperjuangkan sejak tahun 2002, untuk menyelamatkan kepentingan dan kemaslahatan umat. Ruhul jihad sudah terpateri dalam diri keduanya, sejak memimpin Kanwil, hingga terus merambah pada pencapaian saat ini, ketika tampuk kepemimpinan MUI Banten telah disandang Bazari Syam.

“Bagi saya, semuanya ini tak lepas dari rizki yang berkah,” ujar Prof. Suparman. “Sebab, pengertian rizki tidak boleh identik dengan perkara uang melulu. Pikiran yang tenang, tubuh yang sehat, anak-anak yang menyenangkan, serta kredibilitas yang terjaga kemuliaannya, semuanya itu adalah rizki yang sebenar-benarnya rizki . Demikian pula dengan rizki yang tak terduga (min haitsu la yahtasib) juga tidak selalu dalam pengertian uang melulu.”

Untuk itu, sesuatu yang banyak namun tak berkualitas, boleh jadi akan membawa mudlarat dan mafsadah. Sebagaimana pengertian ibadah, bahwa manusia harus terus meningkatkan kualitas ibadahnya hingga mencapai derajat “ihsan”. Bagi Prof. Suparman, kualitas ibadah yang baik, ketika seorang hamba meyakini bahwa Allah menyaksikan dirinya, walaupun sejatinya ia tak mampu melihat wujud Allah.

Buku Jihad Pendidikan yang digagas Bazari Syam, dinilainya sebagai bagian dari transformasi pemikiran yang lebih dewasa. Bagi Prof. Suparman, sebagai seorang aktivis dan pejuang pendidikan, Bazari telah membuktikan amal nyata di lapangan, terutama yang terkait dengan kesungguhan mengelola pesantren dan perguruan tinggi, yang kiprahnya semakin diakui oleh masyarakat hingga saat ini. (*)

Penulis adalah Pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), juga alumnus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) Banten.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.