Hikmah Ramadan dan Idul Fitri

oleh -761 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

Selama sebulan penuh kita telah melaksanakan ibadah puasa, sebagai instrumen pelatihan rohani untuk meningkatkan kualitas pemberdayaan diri. Puasa sebagai media yang dapat melatih kemampuan diri hingga mencapai suatu manajemen hati (qalbu) yang terkelola dengan baik. Kesadaran manusia di era milenial ini, berikut dampak positif dan negatifnya, telah mengarahkan mereka kepada suatu petunjuk, betapa pentingnya memiliki hati dan qalbu yang termenej dengan baik.

Kini pekikan kalimat takbir dan tahmid dapat menghujam ke dalam hati yang paling dalam. Kalimat yang baik (thayyibah) ini kadang terucap secara tidak sadar, ketika kita dalam kondisi takut dan panik, misalnya saat turbulensi pesawat yang kita naiki, seketika para penumpang terguncang lalu mengucap kalimat takbir maupun istighfar, karena menyadari akan kelemahan dan keterbatasan manusia.

Dengan zikir dan membesarkan keagungan Tuhan (asma Allah) kita dapat merasa tenang dan nyaman dalam situasi apa pun, karena hati manusia senantiasa terarah dan terkendali dengan baik. Ornamen terpenting dalam jagat rohani manusia, menurut kiai dan intelektual NU, Said Aqil Siroj adalah “dlamir” dan “qolbu”. Pengertian dlamir erat kaitannya dengan etika atau moral yang mendorong dan memotivasi manusia untuk berjalan sesuai dengan koridor hukum-hukum alam dan sunnatullah.

Ketika bashirah dan penglihatan mampu membedakan kebaikan dan keburukan, maka dlamir bersifat memandu sikap dan perbuatan manusia agar berjalan di atas rel-rel kebaikan, serta menjauhi hal-hal buruk yang dapat mencelakakan hidup manusia. Melalui pelatihan rohani dengan melaksanakan puasa Ramadan dan diakhiri dengan suasana penyucian diri (Idul Fitri), hendaknya kesadaran kita semakin meningkat pada suatu potensi yang dapat memandu batin dan rohani, hingga segala sesuatu yang bersifat materi dan jasmani dapat terkontrol dan terkendali dengan sebaik-baiknya.

Di sini, kita hanya menjabarkan menfaat pengendalian diri berkat puasa sebulan penuh, yang dimaknai bukan semata-mata berdasarkan syar’i, tetapi harus meningkat ke wilayah “hakikat” yang lebih mengena sasaran untuk perubahan watak dan karakteristik manusia secara umum. Jadi, bukan semata-mata bersifat wadak untuk sekadar “menggugurkan kewajiban”. Juga bukan menyangkut perkara wajib, haram dan makruh, tetapi harus dipahami secara holistik dan mendalam, mengapa Tuhan menekankan pentingnya puasa kepada umat Islam beserta umat-umat penganut agama lainnya.

Namun, jika puasa itu hanya dipahami sebatas hukum-hukum syar’i yang tidak berdampak pada perubahan mental dan tingkah-laku, tidak menutup kemungkinan akan muncul kembali koruptor-koruptor baru yang akan mengulang-ulang sejarah yang sama. Untuk itu, melalui puasa Ramadan, dan dalam suasana Idul Fitri kali ini, hendaknya kita terus berupaya untuk menggali hakikat diri, bercermin diri, hingga Tuhan menganugerahkan pribadi-pribadi yang memiliki kematangan dan integritas moral yang tinggi.

Untuk itu, saya selaku Pengasuh Pesantren Tebuireng 09 senantiasa mengajak semua pihak agar bermuhasabah bersama, untuk mencapai derajat manusia yang kembali kepada fitrahnya, yakni manusia yang ridho akan takdir hidupnya, hingga Tuhan pun senantiasa meridhoi langkah-langkah hidup kita. Amin ya rabbal alamin… (*)

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Tebuireng 09 (Nurul Falah), juga pimpinan Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren Se-Indonesia (MP3I) Provinsi Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.