Hati Nurani dan Jiwa Pemaaf Rasulullah 

oleh -706 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

Suatu kali, ketika Nabi Musa menanyakan ciri khas keunggulan nabi akhir zaman (Muhammad), maka Allah pun menjawab: “Musa, Anda mencapai sesuatu berdasarkan restu dari-Ku, sedangkan Aku berbuat berdasarkan restu dari hamba-Ku (Muhammad).” Itulah yang membuat kaum Thaif dapat terselamatkan dari bencana besar yang akan ditimpakan kepada mereka. Meskipun, Malaikat Jibril berpendapat bahwa masyarakat itu sudah layak ditimpakan azab bagi mereka, namun Nabi Muhammad menahannya, sambil berujar, “Mereka adalah kaum yang belum mengerti.”

Jiwa pemaaf Rasulullah sangat identik dengan akhlaknya yang agung, sehingga Al-Quran menyebutnya sebagai “akhlaqul adzimah”. Ini berbeda dengan kualitas akhlaqul karimah yang sering didengungkan, bahwa kita sepatutnya membalas dengan sesuatu yang lebih baik dari kebaikan yang diberikan orang kepada kita. Namun, dalam akhlaqul adzimah justru kita dapat berbuat baik kepada orang yang berlaku buruk terhadap diri kita. Sedangkan, kelakuan buruk itu diserahkan kepada hukum alam yang akan membalasnya.

Di sisi lain, ada tipikal kejahatan yang tak bisa ditoleransi, bahkan diabadikan dalam kitab suci, misalnya dalam surat “Al-Lahab” yang mengisahkan kejahatan perilaku Abu Lahab dan istrinya yang bekerjasama dalam merintangi dan memusuhi perjuangan Rasulullah. Untuk kaum Thaif, tampaknya Rasulullah tak mau mengeneralisir, bahwa ketika masyarakat dalam satu kampung melakukan kezaliman, boleh jadi ada orang tertentu yang tidak setuju, atau tidak mengerti bahwa kejahatan massif itu merupakan tindakan yang dimurkai Allah.

Rasulullah tak mau membangun sifat phobi, gebyah uyah, yang mengarah pada simplifikasi kesimpulan. Karena, persoalan kejahatan komunal atau amuk massa, tentu tak bisa disimpulkan sebagai hitam-putih belaka. Ada unsur remang atau abu-abu yang harus dipahami secara integral dan holistik. Boleh jadi ada orang yang tidak sepakat, namun ia tak berani menunjukkan pemihakannya. Boleh jadi ada yang sepakat, namun ditahan oleh istri, anak atau orang tuanya, sehingga niat berbuat jahat itu tak sempat dilakoninya.

“Tapi, bagi yang benar-benar telah menyakitimu, ya Rasul, bukankah layak azab Tuhan menimpa mereka?” kata Malaikat Jibril.

“Mereka adalah kaum yang belum mengerti…”

“Tetapi, kalau sampai mati tak mau mengerti?” protesnya lagi.

“Siapa tahu mereka punya anak-anak baik dan soleh, yang mendoakan orang tuanya.”

Malaikat Jibril seakan menarik nafas panjang atas kesabaran dan kelembutan hati Muhammad. Jika pun ada sofa di belakangnya, barangkali sang malaikat sudah menghempaskan punggung di atas kursi sofa tersebut. Serba salah. Ia sudah membentangkan kedua sayapnya, dan bersiap menghancurkan bebatuan di Bukit Thaif, ingin menimpakan batu-batu itu hingga menutupi perkampungan tersebut. Tetapi Muhammad, sang korban yang menjadi penyintas, justru berbaik hati memaafkan mereka. Bukankah dulu, kaum Nabi Nuh dan Nabi Luth telah dibinasakan karena ulah kejahatannya? Bahkan, kekuatan balatentara Raja Firaun juga ditenggelamkan di Laut Merah? Kenapa Muhammad tidak menjatuhkan pilihan yang sama?

Ketika Malaikat Jibril mengajukan gugatan tersebut langsung kepada Allah, seketika itu Allah menjawab bahwa diri-Nya akan berbuat berdasarkan restu Muhammad. Untuk itulah, Allah menyampaikan salam dan salawatnya kepada Muhammad (Allahumma shalli wasallim ala Muhammad).

Keutamaan dan kelembutan hati Nabi Muhammad, pernah juga ditunjukkan ketika berhadapan dengan seorang pengemis Yahudi. Dialah nenek tua-renta berusia 90-an yang mangkal di emperan pasar Madinah, sambil menadahkan kedua tangannya. Nenek tua itu berpendapat, bahwa Muhammad adalah tukang tenung dan penyihir jahat. Ia bersikeras menolak, bahwa nabi akhir zaman bukan dilahirkan dari keturunan Nabi Ishak dan Yakub (Bani Israel). Tetapi, justru dari keturunan Bani Ismail yang memiliki ibu seorang budak bernama Hagar (Siti Hajar). Si Nenek pengemis mengompori semua orang yang lewat, serta menyebarkan desas-desus, bahwa Muhammad adalah pembohong, penipu dan tukang sihir.

Tiba-tiba, ada seorang lelaki tampan, berdada bidang dan semampai, saban hari menghampiri nenek pengemis itu. Sesekali, ia mengajak istrinya yang masih muda nan cantik, membelikan roti terbaik, menghaluskannya hingga lembut, sampai kemudian menyuapi si nenek pengemis Yahudi tersebut.

“Jangan dengarkan kata-kata Muhammad, wahai lelaki baik hati! Pasti orang itu suka membual dan mengigau! Dia itu suka mempengaruhi orang, suka bikin onar, dan hanya tukang sihir belaka!” kata si Nenek berapi-api.

Lelaki tampan itu terus melembutkan rotinya, menyuapkannya hingga habis, sementara istrinya hanya senyum-senyum di sampingnya.

Selang beberapa bulan kemudian, tak ada kabar berita mengenai nenek pengemis tersebut, hingga tersiar kabar duka tentang wafatnya Nabi Muhammad pada hari Senin, 8 Juni 632 Masehi di Kota Madinah. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh sahabat dekatnya, Abu Bakar, ayah dari Aisyah istri Rasulullah. Mandat kekhalifahan dijalankan dengan baik selama bertahun-tahun, sampai kemudian Abu Bakar bertanya kepada Aisyah anaknya, “Wahai Aisyah, selama ini Ayah sudah berusaha menjalankan amanat kepemimpinan seperti apa yang dicontohkan Rasulullah. Menurut pendapatmu, kebijakan apa yang belum Ayah terapkan, sementara Rasulullah pernah menjalankannya?”

Aisyah duduk tercenung, pandangannya menerawang seraya mengingat-ingat tentang apa yang belum dijalankan Ayahanda, sebagai amanat kepemimpinan yang pernah dilakoni Rasulullah. Terlintas dalam benaknya, mengenai nenek pengemis Yahudi yang menadahkan tangan di emperan pasar Madinah. Khalifah Abu Bakar segera mendatangi nenek tua itu, sampai kemudian ia menemukan si Nenek masih memaki-maki nama Muhammad dan menuduhnya sebagai penyihir.

Akhirnya, roti yang dibeli Abu Bakar disodorkan ke mulutnya, seraya si Nenek mengeluh dan menampik tangan sang Khalifah, sambil menghardik keras, “Siapakah Anda ini, wahai lelaki brengsek?”

Dengan tangan gemetar Khalifah Abu Bakar menjawab, “Sss… saya… Abu… Bakar… kenapa, Nek? Bukankah Nenek lapar… ini, makanlah roti yang saya beli ini….”

“Enyahlah dari sini bersama roti brengsek ini!”

“Biar saya suapkan ke mulut Nenek…”

“Pergi dari sini! Kamu bukanlah laki-laki yang biasa menyuapi saya dengan roti enak dan lembut, siapa kamu ini? Mana laki-laki baik yang biasa menyuapi saya itu?”

Sang Khalifah diam terhenyak, kemudian katanya pelan, “Laki-laki baik yang biasa menyuapi Nenek sudah meninggal.”

“Ha! Sudah meninggal? Siapa dia?”

“Dia adalah Muhammad….”

Si Nenek Yahudi terperanjat kaget. Tak habis pikir. Rupanya lelaki tampan yang kadang menyuapi roti sambil mengajak istrinya adalah Nabi Muhammad dan Aisyah. Figur pemimpin yang selama ini dia hina dan cemooh, bahkan terang-terangan dicaci-maki oleh si Nenek di depan umum. Namun, beliau tak pernah jera dan bosan untuk selalu mendampingi dan menyuapi si Nenek dengan kualitas roti terbaik.

Di sini, kita belajar banyak dari ketakwaan, kesabaran dan jiwa besar Rasulullah, sebagai sang pemimpin teladan. Bukan pemimpin pendendam, yang ketika legitimasi kekuasaan berada di tangannya, lantas berteriak-teriak di podium dengan penuh amarah, “Dulu saya diam saja dihina dan dicaci-maki, tapi sekarang akan saya lawan!”

Tipikal semacam itu bukanlah pemimpin yang layak diteladani, karena tidak mencerminkan rasa terimakasih kepada pendahulu yang banyak berjasa atas prestasi dan kedudukan dirinya. Tipikal serupa itu hanya mengajarkan rakyat agar “kufur nikmat”, hingga melupakan mereka yang berhak mendapat kehormatan, serta tak punya keberanian untuk menghukum mereka yang layak diberi hukuman.

Indonesia ke depan harus meneladani jejak-langkah Rasulullah, terutama saat peristiwa penaklukan kota Mekah (Fathu Makkah). Ketika legitimasi kekuasaan berada di tangan Rasulullah dan para pengikutnya, beliau justru memaafkan dan memberikan amnesti umum. Bahkan, orang-orang musyrik yang pernah menyakitinya diperintahkan mendiami rumah-rumah mereka dengan aman, tanpa ada pertempuran dan peperangan.

Rasulullah dan pasukannya hanya membersihkan sekitar Ka’bah dari patung dan berhala sesembahan kaum musyrikin. Kemudian, membiarkan penduduk setempat agar muhasabah dan introspeksi diri, bahwa amarah, dendam dan kedengkian sama sekali tidak menguntungkan, tidak menghasilkan apa-apa, kecuali hanya kerugian dan kebinasaan bagi diri sendiri. (*)

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Nurul Falah (Tebuireng 09), Rangkasbitung, Banten.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.