Hari-Hari Terakhir Seorang Koboi

oleh -2189 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Muakhor Zakaria

Penulis terkemuka Amerika Serikat, Mark Twain pernah menyatakan, jika kita ingin membaca karakteristik seseorang, pahamilah dari kata-kata sifat yang sering ia pergunakan, baik dalam ucapan maupun tulisannya. Untuk itu, suatu karya sastra, jika ia ditulis seorang sastrawan laki-laki, dengan menggunakan tokoh protagonis “aku” sebagai wanita, tetaplah mudah dideteksi bahwa ia adalah hasil karya seorang lelaki.

Sifat kelelakian tergambar jelas pada karakteristik Phil (Benedict Cumberbatch) dalam film peraih Golden Globe Award tahun 2022 lalu, “The Power of the Dog”. Phil membenci sifat kewanitaan pada seorang saudaranya Peter, yang suka mengurung diri dalam kamar, menekuni ilmu-ilmu tentang dunia medis dan kedokteran. Tampak sekali penampilan Phil sebagai laki-laki pendengki, hingga membuat adik iparnya Rose (Kristen Dunst) benar-benar merasa terintimidasi oleh ulah dan perilakunya. Kita bisa melihat karakter Rose yang selalu ketakutan tiapkali melihat wajah Phil, seolah terpancar sifat amarah yang membara pada sorot matanya yang bengis.

Suatu ketika, tercium situasi mencurigakan yang bersumber dari balik bukit. Binatang-binatang ternak mati satu persatu, karena terjangkiti wabah Anthrax, hingga kemudian menular ke tubuh manusia. Rose melampiaskan depresinya hingga menjadi peminum berat. Sementara anak tercintanya, Peter berambisi dan bercita-cita menjadi dokter bedah. Padahal, mereka hidup di lingkungan para koboi yang menjunjung-tinggi sifat kejantanan atau kelaki-lakian.

Film ini seakan membawa penonton ke dunia para koboi dengan seting western bernuansa thriller. Padahal, adegan-adegan yang ditampilkan tak lebih dari kegalauan dan kebuntuan ideologis dunia koboi yang merasa stres dan panik akibat wabah Anthrax menyerang mereka, ibarat menjalarnya kebakaran besar yang terus merembet ke gedung-gedung pencakar langit.

Bagi para penonton Indonesia, tak terkecuali senimannya, jika terbiasa berfantasi dengan penampilan adegan dar-der-dor dari para jagoan kobi Hollywood, sepertinya akan gagal paham untuk ke sekian kalinya. Meskipun alur ceritanya cukup kronologis, tetapi penonton seakan dituntut agar memahami karakteristik para tokoh berikut dialog-dialog sederhana, mendasar, namun sekaligus filosofis.

Kematian sang koboi

Kini, tibalah gliliran Peter melakukan eksplorasi seorang diri, dan bertekad menjangkau perbukitan yang dianggap angker oleh penduduk setempat. Ini bukan petualangan heroik seorang jagoan koboi yang mengarungi padang rumput perbukitan Savvanah untuk menaklukkan orang-orang Indian. Akan tetapi, ia hanya menemukan seekor kerbau tergeletak dan tak bernyawa. Peter tertarik untuk menguliti binatang itu sesuai prosedur yang aman berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Bersamaan dengan itu, Rose justru terketuk hatinya untuk membantu seorang Indian musafir, dengan menyedekahkan kulit-kulit kering yang dikoleksi Phil selama ini.

Phil kemudian murka setelah mengetahui benda-benda berharga miliknya telah menghilang. Namun, amarah itu diredam oleh Peter, serta menggantikannya dengan kulit kerbau yang pernah ditemukannya dari balik bukit. Phil segera mengambil kulit-kulit itu dan menyamaknya di atas ember berisi air, dengan tangan telanjang tanpa perlindungan apapun.

Beberapa hari kemudian, Phil si jagoan koboi itu, terserang demam parah dan terkapar sakit, sampai akhirnya dokter menyimpulkan bahwa kematiannya disebabkan terserang virus Anthrax.

Lalu, berbagai versi berseliweran menguraikan pendapatnya. Ada yang menduga bahwa Anthrax itu adalah virus yang merupakan kutukan dari para suku Indian yang sengaja menyebarkannya secara mistis. Di sisi lain, faktor kondisi alam, cuaca, serta dunia industri yang telah merusak ekosistem. Untuk itu, telah memunculkan penyakit-penyakit degeneratif, dan karenanya murni harus ditangani oleh dunia keilmuan (medis).

Menjelang ajal kematiannya, Phil bersikeras mempertahankan prasangka buruknya, serta adik kandungnya sendiri (suami Rose) seakan telah mempersiapkan anak tirinya agar menjalani studi di dunia kedokteran. Dengan cara itu, kemungkinan besar di kemudian hari akan mencelakakan dirinya, serta meraih harta warisan menggiurkan, sebagai keluarga peternak yang kaya-raya di wilayah Montana.

Teori konspirasi

Ada banyak pertanyaan menggelayut di kepala para penonton setelah menyaksikan ending “The Power of the Dog”. Film ini disutradarai oleh Jane Campion yang juga pernah menggarap “The Piano” (1993) dan “In the Cut” (2003). Berbagai versi kesimpulan dapat diklaim oleh pihak manapun. Tetapi pada prinsipnya, film ini telah mengenai sasaran jika para koboi Hollywood digambarkan sebagai tokoh-tokoh yang mengalami delusi kejiwaan yang semakin akut dalam beberapa dekade terakhir.

Kasus-kasus kematian misterius yang menimpa para artis terkenal, seperti Aaliyah, Tupac Shakur, Lisa Lopes hingga Michaei Jackson, bukan saja melibatkan P. Diddy selaku pelaku tunggal, tetapi terindikasi para elit politik Amerika Serikat juga. Tragedi kebakaran terbesar dalam sejarah Amerika, sejak 7 Januari 2025 lalu, tak terlepas dari suasana depresif para koboi Hollywood yang tergambar jelas dalam berbagai film action thriller akhir-akhir ini.

Sejak 2015 lalu, film peraih Academy Award, “Birdman” telah mengindikasikan para bintang Hollywood mengalami delusi kejiwaan, dari gejala-gejala paranoid, skizofrenia, hingga post power syndrome. Secara implisit, film “Birdman” menggambarkan kematian tokoh-tokoh heroik yang sering ditampilkan melalui figur pahlawan “Superman”, “Wonder Women”, hingga “Batman”. Tak berbeda dengan isu-isu kematian para pakar di era milenial ini, baik dari kalangan ilmuan, budayawan, jurnalis, hingga agamawan sekalipun.

“Manusia Indonesia hidup dari sistem ke sistem, lalu terpenjara oleh sistem, sampai akhirnya hati nurani akan menentukan sistem terbaik yang harus dia pilih,” demikian ujar Hafis Azhari dalam orasinya saat peluncuran novel Pikiran Orang Indonesia di daerah Lebak, Banten. Terkait dengan itu, sutradara Oliver Stone pernah mengangkat secara realistis tentang konspirasi para penguasa atas runtuhnya gedung WTC dalam film yang dibintangi Nicolas Cage, World Trade Center (2006).

Lalu, adakah fakta dan realitas yang menjadi andalan bagi tema-tema besar perfilman dunia, baik di ajang Oscar maupun Golden Globe Award, kecuali secara jujur menampilkan peristiwa di balik kematian misterius sang bintang pop dunia Michael Jackson, Lisa Lopes, Tupac, Aaliyah, hingga kasus kebakaran Hollywood, Los Angeles, sebagai pusat lokasi para artis dunia berkiprah? Ataukah masih terus mengandalkan tokoh-tokoh heroik Superman dalam kemasan baru, yang semakin mengancam kredibilitas dan stabilitas pasar mereka? (*)

Penulis adalah Peneliti dan dosen Universitas La Tansa Mashiro (Unilam), Rangkasbitung, Lebak, Banten.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.