Gus Dur dan Kemuliaan Sang Pemimpin

oleh -1767 Dilihat
banner 468x60

Oleh: KH Ahmad Rafiuddin

Filosofi hidup Gus Dur seakan menjadi tawaran alternatif yang memerdekakan di era hiper modern yang sarat distraksi dan pergelutan algoritma saat ini. Beliau mengajarkan kita agar selalu mengenalkan diri, mengetahui kebutuhan sejati, dan hidup dengan kesadaran. Kesederhanaan yang dijalaninya memberikan banyak ruang untuk berpikir jernih, hingga mampu mencintai rakyat tanpa pilih kasih.

Gus Dur tidak secara eksplisit memerintahkan hidup zuhud, tetapi pola hidup yang dijalaninya adalah tipikal kemudahan itu sendiri. Sementara itu, para pejabat bawahannya masih sulit mengukur dirinya, karena mereka hanya mengukur kehidupan atasan berdasarkan kemewahan yang dimilikinya.

Singkatnya, seorang pemimpin akan lebih fokus pada yang prioritas dan bermaslahat, daripada sibuk memoles citra diri yang hanya menuruti tren belaka. Gus Dur menulis, berbicara, dan hidup sesuai dengan nilai-nilai yang ia ajarkan. Pemikiran sufistiknya seakan menjadi alat untuk memerdekakan diri dari keserakahan dan hidup berlebihan. Ia adalah tipikal pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, hingga tak perlu memburu hal-hal yang tidak penting, kecuali hanya menghargai dan mensyukuri apa yang ada.

Bagi Gus Dur, ketebalan luar akan selalu menjadi cermin bagi kejernihan dalam diri. Perjalanan hidupnya seakan menorehkan pertanyaan di kalangan para petinggi dan pejabat RI: Apakah saya benar-benar membutuhkan lebih, ataukah cukup dengan lebih sedikit namun lebih bijaksana dan merdeka?

Bagi Gus Dur, upaya untuk mengejar citra diri yang “sempurna” cenderung mengabaikan hidup yang lebih realistis dan memuaskan. Beliau telah memberikan teladan tentang kemuliaan hidup manusia (kebajikan) melalui pola kepemimpinan yang jujur, berani dan adil kepada semuanya.

Gus Dur bukanlah tipe pemimpin yang berjiwa perfeksionis, yang cenderung memaksakan kemauan atas keinginan yang dicapainya. Beliau sangat menghargai kemampuan dan kapasitas seseorang, dan tidak terlampau mempersoalkan pencapaian yang final.

Budaya perfeksionisme dalam menilai Gus Dur adalah budaya yang merepotkan, bahkan cenderung mengecewakan masa lalu. Pemimpin yang berjiwa kesempurnaan sangat mudah terjebak dalam kegalauan dan kegelisahan. Baginya, lebih menjadi baik dari hari kemarin adalah lebih utama daripada mengejar pencapaian agar diakui sempurna. Hal ini mengindikasikan, bahwa Gus Dur memang sangat menghargai proses, ketekunan dan istiqomah, daripada bekerja grusa-grusu tak keruan.

Di usia senjanya, ketika mengalami kesulitan penglihatan, Gus Dur lebih banyak mendengar daripada menyelami sesuatu dari bacaan. Baginya, salah satu nilai keutamaan adalah membaca diri atau menjadi sahabat bagi dirinya sendiri. Tidak ada kata terlambat maupun gagal total. Setiap orang punya potensi untuk tumbuh dan mengubah mejadi lebih baik dari hari kemarin.

Bagi saya, filosofi hidup yang dilakoni Gus Dur bukan sekadar nasihat moral, tetapi sekaligus memberi teladan bagi kita semua agar mampu berhijrah dari standar luar ke transformasi batin yang lebih mendalam. ***

Penulis adalah Pengasuh pondok pesantren Tebuireng 09 di Rangkasbitung, Lebak, Banten, juga penulis buku best seller “Marwah Pesantren”

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.