Oleh: Eeng Nurhaeni
Rasulullah memperingatkan, tidak akan datang hari kiamat sampai seorang manusia yang tinggal di pelosok kampung sekalipun, tak lepas dari musibah dan ujian yang akan didatangkan Tuhan kepadanya. Namun ironisnya, kebanyakan manusia di era hiper modern ini, justru sibuk menyelamatkan diri dengan menumpuk harta dan mengejar kekuasaan, yang dianggap sebagai penolong yang membawa kesenangan dan keselamatan hidupnya. Betapa banyak orang menghamburkan energi, senjata, dan kekayaan, namun justru dimanfaatkan untuk menimbulkan luka dan perusakan, bukan demi untuk kemaslahatan bersama.
Tak terkecuali kalangan ilmuwan, intelektual dan sastrawan, yang sibuk menguras pikiran dan kecerdasan, namun tidak menghiraukan bahwa pikiran yang dibiarkan membias, tanpa menyadari sumber utamanya sebagai “anugerah Tuhan”, maka pikiran itu akan menimbulkan stres, overthinking yang tidak memberi keberkahan. Bahkan, tak terkecuali kalangan agamawan yang berkhotbah dan berceramah, dengan mengungkap sederet data dan dalil-dalil agama, sambil mendiskreditkan kepercayaan agama lainnya. Dengan itu, mereka sama sekali tak memberi teladan, juga tidak membawa sang penganut kepada hakikat kebenaran yang lebih mendekatkan dirinya pada Tuhan (ma’rifatullah). Tetapi tanpa disadari, mereka justru terperangkap ke dalam keangkuhan spiritual, sikap ujub, riya dan sum’ah, kemudian mengajak jamaahnya agar merasa diri paling benar dan suci, sementara jamaah lainnya dianggap paling marjinal dalam memasuki pintu surga.
Rasulullah pernah menegaskan, beruntunglah orang yang kuat imannya, karena ia akan tetap tenang manakala cobaan dan ujian menghampirinya. Dan ia pun akan bersyukur manakala dilimpahkan nikmat kelapangan dan kebahagiaan hidup. Di sini, jelas bahwa pendidikan utama yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabat dan umatnya, tak lain adalah pendidikan yang mengajarkan manusia pada jiwa-jiwa tenang saat menghadapi ujian dalam menjalani kehidupan duniawi ini. Islam tak mengajarkan umatnya agar melarikan diri dari masalah dan cobaan hidup, karena hidup ini hakikatnya adalah rangkaian ujian demi ujian. Akan tetapi, Islam memberikan pengajaran, bagaimana manusia agar tetap tenang dan tabah, ketika mereka menghadapi ujian hidup, baik berupa kesempitan maupun kelapangan. Dan seperti itulah karakteristik yang diteladani Rasulullah Saw.
Sesungguhnya, kenikmatan dunia ini hanyalah secuil diberikan Allah, dibanding kenikmatan akhirat. Dari seratus persen kenikmatan yang dianugerahkan, sesungguhnya hanya satu persen saja diberikan bagi penduduk bumi ini. Untuk itu, lumrah saja jika dinyatakan bahwa hakikat hidup yang sesungguhnya bukanlah di sini. Dalam kepercayaan agama apa pun, termasuk filosofi kepercayaan Jawa, bahwa hakikat hidup di dunia ini bagaikan mampir sejenak untuk minum seteguk air (urip mung mampir ngombe). Bagaikan seorang musafir yang melakukan perjalanan panjang ribuan kilometer untuk mencapai suatu tujuan, lalu berhenti sejenak di bawah pohon besar, hanya untuk berteduh dan meminum seteguk air.
Tetapi ironisnya, banyak manusia hiper modern yang lupa diri dengan menganggap bahwa persinggahan untuk minum steguk itulah yang dijadikan tujuan utamanya. Akibatnya, mereka saling sikut kiri dan kanan, sibuk memperebutkan pohon besar yang paling rindang dan banyak airnya, sampai kemudian badai topan datang memorakporandakan simpanan air, bahkan mencerabut pohon rindang yang mereka singgahi.
Itulah jika manusia lebih mengutamakan persaingan dan adu kemenangan, padahal yang dikehendaki oleh Tuhan adalah menjaga diri (taqwa), berbagi, bersikap adil dan merata. Di dalam Al-Quran, istilah taqwa disandingkan dengan adil, sikap tenggang rasa, welas asih, empati dan memanusikan manusia. Begitu pun dengan kekayaan ilmu dan intelektual, karena secerdas apa pun ilmu manusia, hakikatnya hanyalah setetes air di lautan samudera yang maha luas.
Di dunia medsos, debat-debat kusir tentang agama berseliweran. Begitu banyak orang yang membanggakan diri paling pintar sejagat, padahal ia hanya memiliki setetes air saja dari lautan ilmu yang dianuegarahkan. Jika Tuhan berkehendak, cukup dengan memberi tumor sebesar biji kacang ijo yang menyempil di prefrontal cortex (otak depannya), maka hilanglah memori ingatan manusia, amnesia, bahkan ia pun dengan mudah melupakan nama Tuhannya.
Lalu, apa yang mesti disombongkan jika segala sesuatu yang kita miliki hanyalah karunia dan anugerah Allah? Bahkan, detak jantung, setiap tarikan dan hembusan nafas, juga hakikatnya hanyalah titipan dan amanat yang dikaruniakan Tuhan. Seringkali kita mendengar penceramah atau pengkhotbah berteriak-teriak membesarkan nama Tuhan dengan penuh keangkuhan dan kesombongan. Kita pernah mendengar kesaksian seorang penulis Banten yang bertandang di kediaman Romo Mangunwijaya, saat pendeta itu membantu masyarakat Kali Code dan Kedungombo yang belum mendapat ganti-rugi yang layak dari pemerintah Orde Baru.
“Saya membaca suatu majalah, ada tokoh agama yang berteriak menuduh Romo Mangun sebagai komunis, bagaimana tanggapan Romo?” tanya sang penulis. Dengan tenang dan kalem, Romo Mangun malah menjawab, “Bukan cuma tokoh agama Islam, bahkan dari kalangan pastoral juga ada yang menuduh saya PKI.”
Itulah yang seringkali disebut sebagai “atheisme kaum beragama”. Secara formal mereka mengaku Islam, Kristen atau Hindu-Budha, namun hakikatnya memiliki vibrasi dan frekuensi rendah, karena prinsip hidupnya terus-menerus diselubungi rasa takut, panik, dan berambisi untuk menyerang lawan bagaikan fungsi amigdala (otak bagian tengah dan belakang) yang banyak berperan pada binatang-binatang buas. Kadangkala mereka bersikap ekstrim dalam suatu tesis dan keyakinan tertentu, tanpa sanggup mengembangkan diri dari antitesis menuju sintesis. Akan tetapi, pikiran mereka terdistorsi oleh sirkuit yang menetap, hingga terus berputar-putar dari tesis menuju antitesis, dari satu ekstrim menuju ekstrim lain, hingga berujung pada penghancuran mental dan moral dirinya sendiri.
Mereka melakukan salat dan mendengar khotbah Jumat, juga orang Kristen ke gereja dan mendengar khotbah pendeta. Namun, mereka tak sanggup menjiwai ajaran Muhammad maupun Yesus, agar pandai bersabar dan bersyukur. Sedangkan, frekuensi dan vibrasi tertinggi terdapat pada jiwa-jiwa mereka yang pandai bersyukur. Lalu, untuk apa mereka pergi ke gereja ataupun salat, jika dimaksudkan hanya takut pada neraka, atau sekadar menggugurkan kewajiban semata? Salat mereka hanya terhenti pada tataran syariah, tanpa mau mengembangkan diri pada kualitas ibadah yang ditujukan demi rasa syukur (hakikat). Padahal, Nabi Muhammad ketika ditanya oleh istrinya, “Untuk apa melakukan salat? Bukankah sudah dijamin surga bagimu?” Seketika itu, Rasulullah justru menjawab: “Afala uhibbu an akuna abdan syakuro.” (Bukankah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?).
Di sini tercermin, bahwa Rasulullah sendiri merasa perlu untuk terus meningkatkan kualitas syukurnya pada Sang Pemilik dan Penggenggam jagat semesta ini. Meskipun, beliau orang termulia dan tersaleh, tetapi tetap beliau mengakui statusnya sebagai “hamba Allah” yang merasa terpanggil untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan rasa syukurnya.
Terkait dengan meningkatkan kualitas syukur, daripada kesombongan sebagai antitesisnya, kita mengenal kisah sufistik ketika Nabi Musa ditegur langsung oleh Tuhan di Bukit Thursina: “Ya Musa, coba tunjukkan kepada-Ku, adakah makhluk di permukaan bumi ini yang tidak lebih suci, serta tidak lebih mulia dari Anda?”
Musa pun mendatangi pasar-pasar budak, dan melihat para budak yang berkulit putih, cokelat dan hitam, tetapi kemudian ia berpikir, boleh jadi orang-orang berkulit hitam itu adalah makhluk-makhluk terpilih, meskipun mereka seorang budak. Bukankah Siti Hagar (istri Nabi Ibrahim) juga dulunya adalah seorang budak? Dan bukankah Nabi Yusuf juga pernah diperlakukan sebagai budak belian selama bertahun-tahun?
Akhirnya, tak seorang yang dia bawa untuk menghadap Tuhan. Namun, di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan bangkai anjing bulukan, kamudian ia bermaksud hendak membawa bangkai anjing itu ke hadapan Tuhan. Tapi kemudian, ia teringat kisah-kisah tentang anjing yang berjasa dalam menjaga tuannya, atau seorang wanita yang menolong seekor anjing agar ia dapat bertahan hidup.
Maka, Nabi Musa pun menghadap Tuhan dengan tangan kosong, tanpa membawa satu pun makhluk Tuhan yang lebih rendah derajatnya ketimbang dirinya. “Oleh karena itu, perhatikan Wahai Musa,” demikian Allah memperingatkan dengan tegas, “seandainya Anda mendatangi Aku bukan dengan tangan kosong, maka Aku akan membatalkan Anda sebagai Nabi dan utusan-Ku.” (*)
Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak, Banten, juga penulis esai untuk harian nasional Kompas, Media Indonesia, Republika dan lain-lain








