Filosofi Zuhud dan Hidup Bersahaja

oleh -1367 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Mu’min Roup

Pada saat duduk di antara dua sujud, orang yang melaksanakan salat membaca beberapa doa, di antaranya “Cukupkanlah saya.” (wa ijburni). Bacaan ini justru mendahului kalimat, “Berilah saya rizki” (wa irzuqni). Hal tersebut identik dengan filosofi kecukupan yang lebih utama ketimbang jumlah banyak, namun tanpa disertai kecukupan. Apalah artinya banyak secara kuantitas, jika seseorang memiliki segala sesuatu yang bukan merupakan prioritas bagi kebutuhan hidupnya?

Tak ada jaminan bagi elit politik maupun pejabat publik yang memiliki kekayaan melimpah, lalu sanggup menahan godaan uang dan kedudukan tinggi. Korupsi sangat berkaitan erat dengan mentalitas sebagian bangsa yang tak pernah memiliki rasa cukup. Hanya penyelenggara negara yang memiliki rasa cukup akan sanggup mengukur risiko, hingga cenderung tak tergoda oleh nafsu-nafsu yang meninabobokan.

Sikap moral yang terkandung di dalam “rasa cukup” mendorong manusia berdamai dengan dirinya sendiri. Secara religius, rasa cukup itu sangat berhubungan dengan “rasa syukur”, karenanya lebih memiliki imunitas keimanan, bahwa Tuhan Maha Menyaksikan segalanya. Pertarungan melawan godaan berupa pamrih material pun sedapat mungkin bisa dimenangkan.

Berdamai dengan diri sendiri lahir dari pergulatan nilai yang berlangsung sengit dalam kalbu manusia. Sedangkan, manusia yang tidak merasa cukup selalu melihat ke atas (Jawa: ndangak), selalu merasa kurang, betapapun melimpahnya kekayaan duniawi yang telah dimilikinya.

Para koruptor Pertamina dan mereka yang tertangkap OTT bukanlah orang-orang yang tergolong rendah secara ekonomi, tetapi mereka memiliki sifat ngongso, artinya selalu ingin mengambil dan meraup lebih banyak lagi. Uang dan segala bentuk material jadi obsesi yang tak pernah berakhir. Ketakutan akan kemiskinan mempunyai andil besar atas maraknya korupsi di negeri ini.

Di bulan Ramadan ini, hendaknya bangsa ini bermuhasabah dan melakukan redefinisi, bahwa orang kaya semestinya memiliki jiwa besar, karena banyak kemungkinan atau pilihan untuk meningkatkan diri secara eksistensial. Kekayaan tidak selalu identik dengan mental pragmatisme dan hedonisme. Ia merupakan himpunan nilai yang menjadi modal bagi manusia melakukan pemberdayaan untuk meningkatkan peradaban dan jatidirinya. 

Secara idealis, orang-orang kaya semestinya berada di garis depan dalam hal keadaban dan kebudayaan. Karena dengan kekayaannya, ia memiliki peluang besar melakukan perubahan mental dan spiritual demi meraih kejayaan manusia yang memiliki martabat tinggi. Dengan kekayaannya, mestinya ia memiliki etika, etos kerja, dan daya cipta tinggi untuk mencapai tingkat kemuliaan hidup.

Merasa cukup

Sejatinya, mereka yang memiliki rasa cukup secara material layak disebut manusia yang telah melampaui kemakmuran awalnya. Mereka dapat disebut “manusia selesai” karena telah berhasil mengatasi segala godaan duniawi. Mereka memiliki kepekaan dan kepedulian, hingga sanggup melahirkan karya-karya besar, serta memiliki andil untuk menyumbang bagi jalannya keadilan dan kemanusiaan.

Manusia yang telah terpenuhi kemakmuran awalnya, akan memiliki kepedulian pada kemuliaan hidup. Karena yang dicari bukan semata-mata prestise dan kesuksesan, tetapi sejauhmana prestise itu mampu melahirkan kebahagiaan dan kemuliaan hidup. Oleh karena itu, saya berani berkesimpulan bahwa keterpurukan suatu negeri, karena minimnya orang-orang “selesai” yang telah melampaui kemakmuran awalnya, baik di tingkat penyelenggara negara, politisi hingga para pengusaha sekalipun.

Dampak dari semuanya itu bisa kita saksikan bersama, bahwa peran sosial, politik, dan ekonomi hanya dipahami sebatas wahana perburuan kepentingan dan keuntungan yang berujung pada terpenuhinya ambisi dan obsesi duniawi semata. Penghayatan perasaan teramat “miskin” sampai-sampai mendorong perilaku dan karakteristik untuk bergerak liar, menyeruduk ke segala arah, membobol kantong kekayaan negara, baik dari hasil pajak, migas, sampai APBN sekalipun.

Puncak dari kemiskinan jiwa itu, terakumulasi pada hasrat dan nafsu yang dapat dilihat secara telanjang dan kasatmata, bahwa kekuasaan dan kemegahan, adalah godaan paling manis sekaligus paling jahat. Orang-orang semacam itu, tak mampu melihat kedalaman dirinya maupun orang lain, tetapi hanya kedangkalan yang wadak dan kulit-kulit luarnya saja.

Negeri ini membutuhkan surplus orang-orang “selesai” yang telah melampaui kemakmuran awalnya. Hal itu tidak identik orang kaya, tetapi orang yang batinnya merasa cukup, merasa bahagia, hingga memiliki kelapangan dan kesempatan untuk dapat membahagiakan orang lain.

Orientasi diri

Akhir-akhir ini, sebagian masyarakat seakan kehilangan orientasi nilai dan harapan akan perubahan menuju peradaban yang lebih tinggi. Etika dan etos bangsa dipasung dalam mesin bernama “pembangunan” kemudian mereka digiring ke dalam pola-pikir yang seragam agar menjadi “manusia pekerja”.

Pengertian manusia seutuhnya tidak diartikan sebagai individu-individu unik yang mampu mencapai derajat insan kamil, melainkan manusia dengan perspektif tunggal, satu dimensi, yang tidak rela adanya paham atau ideologi apapun yang dianggap tidak disukainya.

Para pejabat dan elit politik yang sebagian bercokol di kursi kekuasaan, ikut pula menggeser fungsi Pancasila menjadi ideologi “kudu sugih” dengan moto hidup, “sing sabar ora keduman” (yang sabar tidak kebagian). Mereka menjelma menjadi rezim yang memiskinkan negara-bangsa sendiri. Penyelenggara pemerintahan, sadar atau tak sadar, telah mendorong bangsa ini menjadi “bangsa tukang”, termasuk intelektual tukang yang harus menyembah kepada kepentingan kapitalistik.

Di dalam rezim uang, kebudayaan yang buruk akan selalu menampakkan perangainya. Sensitivitas atas harga diri dan martabat memang sangat rendah. Begitu mudahnya mereka pamer kekayaan di tengah jutaan rakyat miskin, sementara mereka terus menumpuk kepemilikan ribuah hektar tanah, mobil mewah, rumah dan vila-vila megah.

Kasus korupsi trilyunan di Pertamina, hendaknya membuka mata-hati semua pejabat dan elit politik kita, agar tidak lagi berkhayal untuk mengeruk dan mengumpulkan harta dengan cara mengeksploitasi kekuasaan. Hidup ini hanya sekali, mari kita berlomba untuk menunjukkan diri kita agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Rakyat sangat berharap, bahwa mereka harus sanggup mengakhiri mimpi buruk bangsa ini, dengan kemampuan integritas dan dedikasi tinggi. Jadilah negarawan sejati, bukan hanya menjadi politikus dan penguasa semata.

Sudah cukup lama buku sejarah bangsa ini menganggur. Selama puluhan tahun negeri ini belum lagi melahirkan tokoh dan pemimpin besar. Hal itu dikarenakan para penyelenggaranya sibuk memperkaya diri dan tenggelam dalam hedonisme. Bangsa ini menjadi celaka jika para pemimpinnya masih mengandalkan mitos-mitos tentang popularitas dan pencitraan, yang selama ini telah memperbodoh publik. Para pemimpin yang melumuri diri dengan pencitraan dan popularitas terbukti tak mampu bekerja secara optimal untuk menyejahterakan rakyat, kecuali untuk kepentingan pragmatis belaka.

Bangsa ini menghendaki para pemimpin yang memiliki integritas tinggi hingga membuat dirinya bermaslahat bagi segenap rakyat. Pada saatnya nanti, generasi anak-cucu akan menemukan mereka sebagai tuan rumah bagi sejarah bangsa ini. Cermin keteladanan itu sudah ada pada para pendahulu kita. Jejak-langkah para bapak bangsa, seperti Soekarno, Hatta dan Sjahrir, telah memberikan raut-raut kepemimpinan yang memiliki otoritas tinggi terhadap perjalanan demokrasi bangsa ini. Kekuatan dan ketangguhan menjawab tantangan zaman, menjadikan mereka eksis dan hadir di tengah-tengah kita.

Bangsa ini menghendaki para pemimpin yang dipentingkan, dan dirindukan, bukan sekadar “orang menarik” yang selalu tampil di media-media daring. Bangsa ini menghendaki pemimpin yang amanah, menjaga martabat dan kemuliaan, karena mampu menunjukkan dirinya bermanfaat bagi kepentingan rakyat banyak. ***

Penulis adalah Peneliti dan Dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.