Fatamorgana Kehidupan Duniawi

oleh -1481 Dilihat
banner 468x60

Oleh: KH Achmad Faisal Hadziq

Dalam pidato bertajuk “Mawas Diri”, Kiai Rifa’i Arief, pendiri pesantren Rumah Literasi (Daar el-Qolam), Banten, membandingkan orang yang hidupnya sudah qana’ah dengan orang yang kaya harta, “Ana wamaliku ad-dunya sawa’un.” Pemahaman yang lebih filosofis dari ungkapan tersebut, bahwa dalam banyak kasus, orang kaya terkadang kesulitan membangun hubungan dan hubungan yang otentik, karena khawatir bahwa persahabatan, loyalitas, bahkan cinta, hanya mungkin karena persoalan status dan jumlah kekayaan yang dimiliki.

Selain itu, ketakutan akan hilangnya reputasi seringkali menjadi aset utama bagi mereka yang menimbun harta secara berlebihan. Ini bukan berarti hidup qana’ah anti terhadap kekayaan, akan tetapi anti bergantung pada harta kekayaan yang bersifat nisbi dan fatamorgana belaka. Memang di sisi lain, kekayaan itu dapat mendatangkan kenyamanan, tetapi hal tersebut belum identik dengan hidup tenang dan damai.

Secara eksplisit dalam pidatonya, Kiai Rifa’i menegaskan bahwa seseorang yang tidak berdamai dengan dirinya, seberapa pun kayanya, akan tetap merasa miskin. Sebaliknya, mereka yang memiliki kedamaian batin bisa merasa cukup meskipun menjalani hidup sederhana. Di sisi lain, orang kaya juga disibukkan dengan upaya mempertahankan citra kesuksesan. Mereka tidak boleh terlihat gagal di mata publik. Secara manusiawi, hal ini akan menimbulkan tekanan batin bagi dirinya dan keluarganya.

Suatu kali dalam pernyataannya, Kiai Rifa’i menyarankan pentingnya umat beragama agar hidup kaya, agar manusia banyak berderma dan membantu orang lain. Namun di sisi lain, beliau memberikan tekanan agar manusia tidak menggantungkan seluruh kebahagiaan dan rasa aman pada pundi-pundi kekayaan. Kekayaan bisa memberi kenyamanan, bisa membuka peluang pendidikan, kesehatan, dan rekreasi. Tetapi, ia tidak bisa memberi ketentraman dan ketenangan batin.

Dalam pandangan Islam, kekayaan itu bersifat “netral” seolah tidak memihak. Allah menjamin penghidupan setiap makhluk di dunia ini, bahkan terhadap binatang kecil yang melata di kedalaman bumi sekalipun. Dalam prinsip qana’ah yang dikumandangkan Kiai Rifa’i Arief, kekayaan akan berbahaya jika salah dalam pengelolaan dan pemanfaatannya. Apabila manusia terseret menjadi budak dari kekayaan, maka kekayaan akan menjadi sumber penderitaan yang membelenggu jalan hidupnya. Tetapi, jika kekayaan itu dikelola sebagai “alat” untuk kepentingan banyak orang, misalnya bagi kepentingan nafkah dan pendidikan bagi anak-anak yatim dan terlantar, maka ia akan menjelma sebagai penolong ketenangan batin agar dapat meraih kemakmuran dan kebahagiaan sejati.

Jika kita mengikuti acara acara Podcast atau Talkshow di kanal YouTube, kita menyaksikan betapa banyak orang-orang kaya yang mengaku hidupnya tidak nyaman dan merana. Kita sebut saja salah satu orang terkaya di abad ke-20, Howard Hughes, yang mengaku menderita delusi paranoid di hari-hari orang tuanya. Sastrawan John Steinbeck dalam buku “Dataran Tortilla” juga menggambarkan seorang yang hidupnya terpuruk dan menderita, justru setelah memenangkan lotere senilai jutaan dolar.

Senada dengan ungkapan Syekh Hasyim Asyari, Kiai Rifa’i juga menekankan pentingnya kekayaan untuk menyebarkan ilmu dan membangun inspirasi, sehingga menjadi alat kebaikan yang bermaslahat. Pandangan tentang pentingnya qana’ah yang diluncurkan dalam pidato “Mawas Diri” menandakan pesan sentral agar kita introspeksi diri, serta bertanya pada diri sendiri: “Apakah selama ini saya menguasai kekayaan, ataukah justru kekayaan yang menguasai hidup saya?”

Oleh karena itu, penting untuk dicamkan bagi para pejabat dan elit politik negeri ini, yang seringkali mencari kekayaan untuk melarikan diri dari masalah. Jika dikaitkan dengan pidato Kiai Rifa’i Arief beberapa dekade lalu, ketahuilah bahwa kekayaan harta sama sekali bukan penyelesai dan solusi dari masalah. Ia hanya mengubah wujud permasalahan. Bagaimana pun Islam mengajarkan kita agar menyatakan realistis dalam memaknai uang dan harta kekayaan. Kita diperintahkan untuk menggunakan, mengelola, serta menikmatinya dengan bijak, tetapi jangan lupa, kita tidak boleh menggantungkan hidup-Nya.

Kehidupan bersama keluarga yang tenang dan bahagia, jauh lebih bermakna daripada nominal besarnya dalam saldo bank. Betapa banyak orang-orang yang hidupnya zuhud dan sederhana, namun memiliki jiwa yang lapang dan merdeka, dibandingkan para miliarder yang hidupnya merana dan nelangsa seperti yang saya sebutkan di atas. (*)

Penulis adalah Akademisi dan Pengasuh Ponpes La Tansa 2 di Rangkasbitung, Lebak, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.