Oleh: Mu’min Roup
Sebenarnya, tidak ada takdir hidup yang sia-sia tanpa hikmah dan rahasia indah. Nalar dan imajinasi kita belum cukup untuk menduga secara tepat apa yang akan terjadi dan menimpa hidup kita. Untuk itu, kita diperintahkan untuk berdoa, meminta, memasrahkan urusan hidup dengan cara meningkatkan pengabdian kita kepada Tuhan.
Selalu ada waktu kita memperoleh nikmat sebagaimana adanya waktu kita mendapatkan musibah. Satu hal yang harus kita yakini, sebagaimana Tuhan berkuasa memberikan kejutan berupa musibah, sungguh Tuhan juga berkuasa memberikan kejutan nikmat hidup dalam waktu sekejap.
Manusia beriman diperintahkan agar berbaik sangka kepada Tuhan, sepahit apapun derita hidup yang sedang dialaminya. Sebagaimana Nabi Isa pernah menyatakan dalam Al-Kitab (Efesus 4: 31-32), bahwa segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
Memang tidak selamanya manusia akan mengalami kesempitan hidup, begitu juga tidak selamanya menghadapi kelapangan. Manusia diperintahkan agar konsisten, istiqomah, jangan berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Tuhan, meskipun tengah dirundung gelimang cobaan dan ujian berat.
Dia Yang berkuasa menghidupkan yang mati dan mematikan yang hidup, sudah pasti sangat berkuasa untuk membahagiakan hati yang sedang pilu. Sangat mudah bagi-Nya untuk menyelesaikan urusan hidup yang tak kunjung usai.
Kita sering mendengar petuah sakti dari para pendeta dan ulama, ketika dimintai nasihat oleh muridnya, yakni “hendaknya kita bersabar dalam menghadapi cobaan dan ujian hidup ini”. Sabar adalah kata yang ringan diucapkan tetapi kepentingannya sungguh luar biasa. Hingga Tuhan sendiri menekankan bahwa sabar adalah kata kunci terbaik. Seringkali, orang mengeluhkan sesuatu karena belum mahir mengidentifikasi masalah dalam dirinya. Padahal, Nabi Muhammad menyarankan pentingnya kesibukan kita untuk membaca diri, bermuhasabah, karena hidup manusia sarat dengan berbagai kekurangan dan kekhilafan yang dilakukannya.
Tak bisa dipungkiri bahwa hidup manusia sangat dilumuri dosa dan kesalahan. Banyak hal yang membuat kita, disadari atau tidak, memiliki andil tersendiri dalam penyelenggaraan ketimpangan dan kerusakan tatanan kosmos yang diamanatkan Tuhan agar kita (selaku khalifah) merawat dan melestarikannya. Selain itu, kita harus konsisten meyakini permaafan Tuhan, sebagaimana termaktub dalam Lukas 17:3-4, “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata ‘aku menyesal’, maka kau harus mengampuni dia.”
Setiap manusia hidup mesti disodorkan berbagai masalah, cobaan, kesempitan, diguncang beragam problema dan prahara. Yang membedakan adalah, bagaimana orang itu bersikap ketika menghadapi masalah dalam hidupnya. Ada orang yang mengambil sikap dengan tetap senyum, tapi tidak sedikit yang melampiaskan dengan mengumbar amarah, bahkan memfitnah, memprovokasi, dan mencaci-maki orang lain.
Meskipun, mereka kelihatan banyak amalnya, melimpah harta kekayaannya, namun belum tentu tenang dan lapang jiwanya. Ketahuilah, bahwa hal itu cuma pandangan kasatmata manusia. Belum identik dalam penilaian dan pandangan di mata Tuhan.
Kita kelihatan bersih dan terhormat, hakikatnya karena Tuhan masih menutupi aib dan kesalahan kita. Tetapi, jika Tuhan menghendaki yang lain, sangat mudah bagi-Nya untuk membuka dokumen rahasia amal-amal kita. Lalu, siapa yang sanggup menyimpan rekam jejak manusia, jika Tuhan menghendaki footprints itu segera terbuka secara transparan. “Beruntunglah orang yang mahir mengevaluasi dirinya, daripada sibuk mengorek-ngorek kesalahan orang lain.” Hadis Nabi ini sangat filosofis dan sangat dalam maknanya. Untuk itu, jika kita ingin tergolong manusia bertakwa, salah satu syaratnya, kita harus pandai mengidentifikasi diri.
Bukan sibuk mengkalkulasi aib dan kesalahan orang, lalu merasa berhak menghakimi pihak lain secara sewenang-wenang. Demikian pula dinyatakan dalam Lukas 6:37, “Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.”
Di malam Lailatul Qadar yang penuh keberkahan ini, mari kita bersimpuh dan memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan, hingga kita tergolong hamba yang meraih derajat ketakwaan di sisi-Nya. Hal ini selaras dengan doa Nabi Muhammad yang fenomenal: “Tuhanku, sungguh Engkau Maha Pemaaf, dan mencintai hamba-Mu yang pemaaf, untuk itu maafkanlah aku….” (*)
Penulis adalah Dosen dan panaliti UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, penulis esai dan prosa di Republika, NU Online, Tribunnews.com, tangselpos.id, dan lain-lain







