Dari Hijrah Jasmani Menuju Hijrah Rohani

oleh -933 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Alim Witjaksono

Menurut sosiolog terkemuka Robert Merton, ketika suatu masyarakat (bangsa) menjalani perubahan, maka terjadilah transisi dari bentuk paguyuban ke sebuah sistem, dari organic structure menuju mechanical structure. Pada momen ini, biasanya muncul para pembaharu yang bersuara secara serempak, baik dari kalangan penulis dan sastrawan, intelektual, ilmuwan, hingga tokoh-tokoh agama. Tapi seumumnya, para kreator perubahan tak lepas dari orang-orang yang mengganggu dan menghalangi pergerakannya, terutama dari para pemegang status quo yang menganggap perubahan akan mengusik stabilitasnya.

Tidak jarang aktor-aktor perubahan (change leaders) ini kerap menghadapi situasi yang pahit dan getir, antara mereka yang menyuarakan harapan baru, ketimbang mereka yang masih terkungkung menikmati masa lalu. Para kreator yang dizalimi dan dikriminalisasi telah terjadi di mana-mana, dan kita pun mengenal sosok-sosok pahlawan yang tetap harum namanya sepanjang masa, seperti Martin Luther King, Bunda Theresa, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela hingga Wiji Thukul, Munir, Marsinah dan seterusnya.

Tentu saja setiap manusia punya sisi baik maupun sisi buruk, sisi benar maupun salah, termasuk dalam perjalanan hidup Bung Karno sebagai bapak bangsa. Tetapi, apakah fair bagi kita untuk mengungkit secuil kesalahan yang pernah ia lakukan, ketimbang jasa-jasanya yang teramat besar bagi perjalanan kemerdekaan dan kemandirian, setelah tiga abad lebih bangsa ini tertindas oleh penjajahan dan perbudakan.

Sungguh tidak adil bagi intelektual mana pun jika mengorek-ngorek kesalahan Bung Karno, lantas secara tidak proporsional jasa sebesar itu ditutup-tutupi dengan jalan memperbesar aib dan kesalahannya. Apakah pantas bangsa ini menggelapkan sejarahnya, seperti yang pernah dilakukan oleh sebagian seniman dan sejarawan yang disponsori oleh induk semang Orde Baru?

Ketika bangsa ini berpolemik tentang kebaikan dan kejahatan seorang penguasa, kita pun harus jujur dan proporsional untuk melihat seberapa besar jasa-jasa yang pernah dilakukan seorang tokoh, ketimbang kesalahan yang pernah ia perbuat. Kecuali jika tokoh dan pemimpin tersebut sudah melewati batas-batas prinsipil yang diharamkan Tuhan, misalnya ia menghilangkan paksa para aktivis dan kreator perubahan, tanpa alasan yang bisa dibenarkan.

Kreator perubahan

Salah satu karakter utama orang musyrik adalah hasad dan dengki melihat pencapaian orang lain, terlebih pencapaian itu diraih oleh orang yang menjadi rival dan musuhnya. Di abad ke-19 lalu, tersebutlah sosok ambisius bernama Jean Michael Claude Richard, seorang direktur taman botani di kepulauan Reunion. Ia menaruh dendam kesumat pada seorang petani muda Edmond, yang menemukan sistem penyerbukan bagi suburnya pohon-pohon vanilla. Suatu ketika, Edmond diperkarakan di pengadilan, seakan-akan petani remaja itu telah mencuri dan menyebarluaskan hak cipta yang telah dirahasiakan oleh perusahaan besar milik Richard.

Proses kriminalisasi tersebut tak lain karena obsesi “sang juragan” yang ingin dikenal publik, bahwa dialah sang perintis dan penemu tunggal dari teori penyerbukan tanaman vanilla di Eropa. Saat itu, memang sedang marak digandrungi para peneliti dan ilmuwan botani di seantero Eropa. Namun, dalam waktu cepat, sistem penyerbukan vanilla telah disebarluaskan oleh bocah remaja Edmond, dalam suatu praktek langsung di lapangan. Sehingga, penemuan dan kinerja Edmond tersebut, telah memberikan berkah dan kemakmuran bagi kalangan para petani di sekelilingnya.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, tanaman yang sangat disukai raja-raja Eropa itu hanya tumbuh di dataran Meksiko. Namun kemudian, cepat menyebar oleh para penjajah Spanyol ke Filipina, serta dibawa oleh Inggris ke negeri jajahannya, bahkan dibawa Belanda ke Nusantara. Hingga memasuki awal abad ke-20 sistem penyerbukan yang disebarluaskan Edmond (tanpa pamrih) telah dikenal luas oleh para petani Belanda, yang kemudian mengajarkannya kepada para petani-petani di Hindia Belanda.

Dalam buku The Secret History of Creation yang ditulis dengan gaya sastra, kita memahami lebih seksama, bagaimana awal mulanya, si bocah Afrika bernama Edmond itu dulunya pernah dijadikan budak oleh keluarga besar Fereol di Prancis. Saat itu, di rumah Fereol, Edmond diberi kebebasan untuk mengutak-atik segala jenis penyerbukan tumbuh-tumbuhan, hingga ia pun berhasil menemukan sistem penyerbukan vanilla. Bahkan, sebelum Richard memperkenalkan teori ilmiahnya, selama puluhan tahun, tanaman itu telah dipelihara keluarga Fereol di kebun miliknya. Oleh perawatan Edmond, ia dapat berbuah banyak, dan keluaraga besar itu pun diberkahi kemakmuran dan rizki yang melimpah.

Setelah Edmond dibebaskan sebagai budak (1848), Edmond memilih tinggal di kepulauan Reunion, dan masyarakat kepulauan itu seketika mempraktekkan sistem penyerbukan vanilla, sampai kemudian membuahkan kemakmuran bagi para penduduknya. Sejak masa pembebasan itulah, inovasi Edmond semakin menyebar luas ke seluruh penjuru, termasuk negeri Belanda yang terang-terangan mengakui dan mempraktekkan metode penyerbukan Edmond di seluruh Jawa dan Nusantara.

Rahasia perusahaan

Ribuan petani Eropa dan Asia memperoleh keberkahan ilmu yang ditemukan Edmond, sememtara Richard bersikeras merahasiakan ilmu tersebut sebagai rahasia perusahaan yang tak boleh disebarluaskan. Inilah karakteristik kesyirikan yang merasa gerah melihat kesuksesan orang lain. Karena dalam pikirannya, cukup keberhasilan itu hanya layak bagi dirinya sendiri. Sedangkan, bagi siapa pun yang “membongkar” rahasia perusahaan, dianggap aib, cela, dan dosa besar yang harus dimusnahkan. Kita mengenal istilah SMS dalam terminologi Aa Gym, yang diartikan sebagai seseorang yang senang melihat orang susah, serta susah melihat orang senang.

Tipologi semacam itu tercermin jelas pada watak orang-orang yang hatinya berpenyakit (NPD), akibat keranjingan berita-berita medsos yang memengaruhi jiwa dan kepribadian umat manusia di akhir zaman ini.

Beberapa tahun setelah menyebarluaskan metodenya dengan penuh keikhlasan, Edmond segera dipidanakan oleh Richard si penderita NPD itu. Seperti yang terjadi pada kebanyakan change leader dan kreator besar manapun, sejarah hidupnya dikorek-korek. Bukan bermaksud untuk mempublikasikan kebaikan-kebaikannya, tetapi justru untuk mengungkit kesalahan sekecil apa pun yang pernah dilakukan Edmond.

Bayangkan, jika Edmond hidup di era revolusi digital saat ini, diserang oleh Richard yang begitu ambisius dengan pencitraan diri, ingin populer serba instan tetapi tak punya karya dan kreasi apa pun. Boleh jadi sang obsesif itu akan membayar mahal para konsultan media, pengacara, lalu membayar pasukan penyebar kebencian (buzzer) yang memiliki akun-akun anonim. Boleh jadi perkebunan Fereol juga digerebek aparat, dan Edmond dipenjarakan hanya karena “pengaduan masyarakat” atas suruhan dan provokasi orang-orangnya Richard.

Akhirnya, keluarga besar Fereol (mantan majikan Edmond) mengadakan counter attack dan serangan balik dari sisi publikasi. Bagi mereka, sistem penyerbukan yang diklaim sebagai penemuan Richard, sebenarnya sudah menyebar-luas oleh seorang petani muda dan pekerja keras (Edmond), lalu penemuan itu tak ubahnya sebagai ilmu baru di kalangan para petani, yang disebarluaskan tanpa pamrih. Keluarga Fereol berhasil memenangkan perkara Edmond di muka meja hijau, bahwa Edmond-lah sang pelaku perubahan dan kreator sesungguhnya. Berkat perjuangan Edmond pula, kepulauan Reunion begitu makmur dan sejahtera, memberkahi ratusan ribu petani vanila hingga ke negeri-negeri mancanegara.

Nama Edmond kemudian direhabilitasi dan diabadikan dalam sejarah. Metode penyerbukannya kelak dinamakan “Le geste dE’dmond” (Metode Edmond), dan ia dinobatkan sebagai pahlawan dan pemimpin tanpa singgasana. Ia bukanlah tipikal kemusyrikan yang dalam terminologi Al-Quran menobatkan dirinya selaku tokoh pembangunan, namun sejatinya Richard hanyalah seorang berjiwa picik dan kedil, yang merusak mental dan peradaban umat manusia.

Richard adalah tipologi seorang musyrik yang suka melempar batu melalui tangan orang lain. Richard adalah tipikal orang yang merasa mendidik dan memberdayakan umat, akan tetapi dia hanya sibuk membodohi dan memperdayakan orang lain. Baginya, hakikat ilmu harus diperdagangkan dan diperjualbelikan. Seakan harus menjadi rahasia perusahaan, sementara perusahaan lain harus berfungsi sebagai rival dan pesaingnya. Begitu pun di kalangan dunia pesantren, di mana pesantren lainnya tak layak menjadi mitra bagi penyebaran misi pendidikan Islam secara universal.

Dalam kaitan ini, Rasulullah menegaskan bahwa Allah akan mengampuni dosa hamba-hamba-Nya sebesar apa pun, kecuali kesyirikan. Sebab, syirik inilah yang menjadi pangkal semua dosa besar, karena ia dapat memperalat teks-teks agama untuk kepentingan hawa nafsu, serta bersembunyi dari penglihatan manusia. Padahal, pengamatan dan kesaksian Allah adalah senyata-nyatanya penglihatan atas dosa dan kesalahannya. Itu artinya, orang musyrik tak mendapat syafaat di hari akhir, karena ia berusaha berakhlak di mata manusia, namun tidak beradab di hadapan Allah.

Orang semacam Richard, seringkali kita temukan pada komunitas masyarakat agamis yang tak mau melakukan hijrah jasmani menuju hijrah rohani. Mungkin saja ia melakukan hijrah dari yang lama kepada yang baru, dari satu tempat ke tempat lain, tetapi ia tak pernah mau meninggalkan ketergantungan dari makhluk-makhluk, kepada Sang Pencipta (Al-Khaliq).

Itulah yang disinyalir Al-Quran sebagai ahli-ahli kitab yang kerjanya hanya membodohi dan mengelabui umat. Padahal, fungsi pengajaran dan pendidikan harus tanpa pamrih, harus bertujuan universal demi untuk mencerdaskan masyarakat seluas-luasnya. (*)

Penulis adalah Peneliti dan pengamat sastra kontemporer Indonesia, juga menulis artikel dan prosa milenial di berbagai media nasional, cetak dan online

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.