Oleh: Alfakir Ahmad Rafiuddin
Budaya masyarakat global yang terimbas konsumerisme, lalu diadopsi oleh kebiasaan orang Indonesia, memang cukup memprihatinkan. Budaya yang berakar pada kapitalisme itu, meniscayakan dampak negatif berupa skeptisisme dan ketakpedulian yang menggejala pada bangsa-bangsa dunia.
Dalam buku saya “Marwah Pesantren” banyak diulas mengenai budaya skeptisisme yang membuat seseorang hanya sibuk memikirkan dirinya, tanpa peduli dengan kepentingan umat. Sehingga, ketika suatu musibah melanda suatu masyarakat atau bangsa lain, seakan-akan manusia berhak mengklaim bahwa peristiwa naas itu bukanlah urusannya. Padahal, dalam ajaran Islam sendiri, Nabi Muhammad menyatakan, bahwa penderitaan yang menimpa kaum beriman, semestinya harus dipahami sebagai luka dalam satu anatomi tubuh. Apabila salah satu organ tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh lainnya akan merasakan yang sama.
Secara ironik, bulan puasa Ramadan yang mestinya dijadikan momentum penghayatan dan pengendalian diri, di negeri ini selalu menjadi ajang persaingan politis-ekonomis, sehingga mental-mental konsumtif itu tak urung dikesampingkan. Arus konsumeristis tak ubahnya dengan mental tamak dan serakah, yang harus dilawan dengan memupuk dan melatih diri agar menjadi manusia peka dan solider.
Dalam konteks ini, seorang profesor psikologi dari Jerman, Tania Singer pernah menegaskan, bahwa para pebisnis sukses di dunia manapun sejatinya tak lepas dari sikap empati dan kepedulian tinggi terhadap sesama manusia. Lebih tegas lagi, Singer menyatakan anti-tesisnya, bahwa manusia bukanlah homo economicus yang hanya mementingkan diri sendiri, tetapi dalam dirinya ada tuntutan untuk ikut merepresentasikan kebutuhan dan perasaan orang lain.
Peka dan peduli
Bisnis di dunia hiper modern akhir-akhir ini seakan saling bersaing untuk mematikan potensi rohani yang ada dalam diri manusia. Mereka memblokir kebutuhan rohani manusia dengan prinsip, “Saya harus punya lebih.” Mereka sibuk membangun motivasi untuk meraih prestasi, persaingan dan keuntungan pribadi. Prinsip yang cenderung primitif ini, hanya menggelembungkan saraf ekonomis dalam otak manusia. Mereka semakin terbelenggu ke dalam delusi ketakutan (paranoid), seakan-akan manusia hanya bisa sukses dengan mengoptimalkan prestasi, persaingan dan keuntungan duniawi semata.
Kepedulian yang sebenarnya sudah ada dan tertanam dalam jiwa manusia (caring system) mengalami pendangkalan manakala manusia tak mampu membedakan kesuksesan dan kemuliaan hidup. Yang dikejar-kejar hanyalah kesenangan sesaat, bukan kemuliaan dan kebahagiaan sejati. Bisnis modern seakan ditakdirkan untuk berseberangan dengan nilai-nilai kemuliaan. Konsep puasa dan mengendalikan diri dari hawa nafsu, sehaluan dengan caring system, di saat manusia menahan diri dari lapar dan dahaga agar tercipta keseimbangan dan keselarasan batin dengan kecenderungan material selama sebelas bulan penuh.
Di dalam puasa, sepantasnya seorang muslim berpikir mendalam, bahwa ekonomi dan keuntungan bisnis tidak harus dipacu untuk memperbanyak konsumsi dan menumpuk modal sebesar-besarnya. Puasa harus dijadikan wahana pelatihan rohani untuk memupuk sikap empati dalam diri, agar tercipta keseimbangan yang memadai. Sebab, tanpa adanya keseimbangan, manusia akan terjerumus dalam ketidakbahagiaan, tersiksa oleh egoisme dan hawa nafsu, terbelenggu oleh persaingan yang saling mengorbankan, juga akan menjadi budak dari mental konsumtif yang tak berkesudahan.
Dalam berpuasa, manusia dituntut untuk mengolah caring system yang ada pada dirinya, agar dikembangkan menjadi caring economics, yakni ekonomi yang berkepedulian. Masayarakat modern harus berani membalik logika dari prinsip yang egositis, bahwa “aku harus punya lebih”, menjadi prinsip ekonomi berkepedulian. Dengan memberi (mengurangi) justru membuat rejeki akan bertambah dan bertambah lagi. Inilah konsep yang dalam terminologi Islam disebut zakat, infaq atau sedekah, yang memiliki relevansi ajaran dengan konsep puasa Ramadan.
Teladan bapak bangsa
Pada hari lahirnya Pancasila (1 Juni 1945), Soekarno selaku bapak bangsa berpidato: “Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Negara Indonesia adalah semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu. Tidakkah menurut Bung Hatta, bangsa Indonesia terjadi oleh keinsafan yang terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan? Tidakkah keinsafan itu bertambah besar karena sama seperuntungan, malang sama diderita, mujur sama didapat. Dan tidakkah bangsa ini terjadi karena jasa bersama, kesengsaraan bersama, dan karena riwayat bersama yang tertanam dalam hati dan otak kita?”
Selama ini, bangsa kita seakan menjauh dari ide-ide dan gagasan Pancasila. Seakan hanya terdengar sebagai slogan pemanis hidup bernegara. “Hidup kita seakan berjalan ke arah yang berseberangan dengan Pancasila,” demikian tegas budayawan Sidhunata, “mungkin itulah sebabnya, otak kita jadi kehilangan saraf-saraf sosialnya.” Akibatnya, kita kehilangan bela rasa dan kepedulian sosial. Kita tak mencintai nilai-nilai Pancasila, akibatnya hati kita kaku dan beku. Sehingga, kita tidak bisa menangisi penderitaan sesama anak bangsa. Politik kita diam-diam telah memetieskan Pancasila, akibatnya politikus kita jadi melulu konsumtif dan rakus, serta bergerak atas dasar prinsip keserakahan belaka.
Demikian pula ditegaskan Syekh Hasyim Asy’ari dalam buku “Pemersatu Umat Islam Indonesia” oleh K.H. Abdul Hakim Mahfudz, pengasuh pesantren Tebuireng, Jombang. Buku itu dibedah bersama beberapa waktu lalu di pesantren kami Nurul Falah (Tebuireng 09), Rangkasbitung, dan dihadiri pula oleh penulis Banten, Hafis Azhari dan Aziz Nawawi, penulis buku “Santri Mendunia” yang merupakan cicit dari Syekh Nawawi Al-Bantani.
Keserakahan yang merajalela di kalangan kaum politisi, seakan tak ada sangkut-pautnya dengan kewajiban berpuasa selama sebulan penuh. Praktik puasa hanya menjadi aksesoris dan alat politisasi bagi kepentingan kekuasaan, karena tidak ada relevansinya dengan kepentingan memakmurkan dan menyejahterakan taraf hidup rakyat. Bangsa ini laiknya ayam-ayam kekurangan pangan dan gizi, karena lumbung padinya tertutup tembok tebal kekuasaan kapitalistik yang intoleran.
Bangsa ini seakan terpecah dua menjadi kubu orang kaya dan orang miskin. Terhadap penderitaan Ibu Pertiwi, anak-anaknya seakan tidak peduli karena hatinya sudah mengeras. Lebih menyedihkan lagi, anak-anak tak dapat menyesali dan menangisi tingkah lakunya yang salah dan keliru. Itulah yang membuat Ibu Pertiwi selalu bersusah hati, seakan sedang menangisi anak kandungnya sendiri.
Di sisi lain, kita membaca adanya sinyal dari sebagian politisi yang berjuang atas nama kebebasan, yang berarti kebebasan untuk melampiaskan nafsu dan birahi kekuasaannya. Politisi macam itu tidak akan sanggup menciptakan ruang kebebasan demi kesejahteraan publik, tetapi merebut wilayah kebebasan demi memupuk kekuasaan dan keuntungan sendiri dan golongannya.
Dengan menjalani puasa selama sebulan penuh, semestinya bangsa ini banyak berkaca diri, hingga tidak mau terbelenggu oleh setan-setan keserakahan yang memperdayakan hidup manusia. Prinsip keserakahan telah menjerumuskan bangsa-bangsa dunia menjadi masyarakat berkultur konsumeristis. Hal ini paralel dengan sabda Nabi Muhammad yang menyatakan, bahwa peperangan yang sejati bukanlah menghadapi musuh di medan pertempuran, tetapi kesanggupan manusia menaklukkan ego dan hawa nafsu yang membelenggu hidupnya. ***
Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah (Tebuireng 09), Lebak, Banten









