Oleh: Muhamad Pauji
Teori memadamkan kebakaran dalam politik modern, tak ubahnya dengan teori mengatur skor dalam pertandingan sepakbola di kampung saya, antara Kesebelasan Jombang Wetan (KJW) melawan tim nasional (Timnas) yang diundang khusus oleh Caleg Fulan, agar kemenangan pada pertandingan sore itu berada di tangan KJW dengan skor 3-1.
Secara pribadi, saya kurang tahu berapa bayaran yang ditombokkan kepada pelatih Timnas itu, untuk kemudian dibagi-bagi kepada para pemainnya yang berjumlah 11 orang, ditambah dengan pemain cadangan juga. Yang jelas, mereka rela dan ridho dikalahkan oleh tim kampung udik yang pengalaman sepakbolanya baru seumur jagung. Bahkan, mereka juga tak punya pelatih khusus untuk membuat mereka menjadi pemain profesional. Di samping itu, ada kabar burung bahwa uang suap yang dibayarkan itu tidak melibatkan pelatih dari Timnas, melainkan atas inisiatif para pemain sendiri melalui kesepakatan kerja yang ditandatangani kapten sepakbola dengan Caleg Fulan.
Kekalahan Timnas oleh KJW disambut dengan gegap-gempita ribuan penonton yang membanjiri lapangan bola di sekitar kecamatan Jombang. Pak Camat dan Kepala Desa Jombang Wetan duduk berdampingan dengan sang Caleg Fulan, yang terus saja tertawa sumringah di sepanjang acara pertandingan tersebut. Sesekali sang Caleg mengatakan kepada para kepala daerah, bahwa bibit-bibit baru persepakbolaan kita sudah mulai tumbuh dengan pesatnya. Pak Camat mengiyakan disusul dengan Pak Kepala Desa ikut manggut-manggut juga. Sesekali mereka mencomot hidangan konsumsi yang konon dari hasil kuliner ibu-ibu Jombang Wetan yang berinisiatif menyemarakkan pertandingan itu.
Setelah peluit panjang dibunyikan, sorai sorai gegap gempita ribuan hadirin yang membanjiri lapangan tersebut menghiasi pandangan mata Caleg Fulan. Beberapa pemuda menghambur sambil mengangkat sang Caleg tinggi-tinggi, sehingga nampak menonjol ke atas ketimbang para kepala daerah lainnya. Ibu-ibu sudah tidak heran lagi ketika ada yang memberitahu bahwa KJW menang atas tim nasional dengan skor 3-1. Menurut ibu-ibu, namanya juga pertandingan, setiap bola bulat dianggap sebagai nasib dan untung-untungan. Lumrah saja sekiranya KJW menang atas Timnas.
Tetapi, bagi yang paham dunia persepakbolaan tentu menimbulkan tanda-tanya besar. Ibaratnya, seorang pemenang bulutangkis tingkat desa, apa mungkin bisa mengalahkan Jojo maupun Taufik Hidayat? Kira-kira dong! Ada udang apa di balik bakwan itu, sampai-sampai tepungnya begitu tebal hingga udangnya kelelep. Tapi bagi yang melek politik, serta memiliki insting konspirasi yang canggih, akan paham belaka, pastilah ulahnya yang punya hajat, dan siapa gerangan kalau bukan Sang Caleg Fulan itu.
Bagaimana ia berhasil mengatur skor 3-1, dan berapakah ia harus mengorbankan koceknya untuk membayar tiap-tiap pemain Timnas yang diundang, sampai rela dipermalukan oleh pemain kampung udik yang tak punya pengalaman bersepakbola? Saya tidak tahu, apakah siasat permainan si Fulan untuk memenangkan dirinya dalam kancah politik telah diilhami oleh cerita dari tanah Jawa mengenai “Jaka Tingkir” pada abad ke-16 lalu.
Alkisah, Jaka Tingkir dikenal sebagai pendekar kelas kampung. Orang-orang menganggapnya sakti karena memiliki mantra dan ajian yang dapat menaklukkan binatang yang mengamuk. Konon, dengan mantra tertentu ia bisa membuat binatang seperti kesurupan, tetapi dengan mantra lainnya ia mampu menundukkan binatang yang mengamuk itu.
Suatu hari, ketika gonjang-ganjing politik begitu memanas di Kerajaan Demak, Jaka Tingkir berupaya menciptakan kekacauan kota dengan melepas kerbau sakti yang sudah dibacakan mantra agar ia mengamuk. Para warga kota ketakutan melihat kerbau yang meluntang-melanting kesurupan. Mereka berlarian ke sana kemari guna menghindari serangan kerbau sakti itu. Tak ada seorang pun yang mampu menaklukkan kerbau yang sedang kesetanan itu.
Menyaksikan pasukan kerajaan Demak yang kewalahan memadamkan api keributan dan kemarahan massa, Jaka Tingkir justru tertawa dengan sumringah. Seketika ia turun ke gelanggang, membaca ajian dan mantra yang kemudian dengan mudah ia taklukkan kerbau itu. Ia berhasil menjinakkannya, dan masyarakat merasa tenang dan tentram karena adanya pahlawan yang heroik, dapat mengalahkan keganasan kerbau sakti yang meresahkan ibukota itu. Perjalanan politik sesuai dengan skenario dan agendanya. Jaka Tingkir dipanggil oleh Raja Demak, hingga kemudian diangkatnya menjadi Adipati Adiwijaya.
Dalam konteks Indonesia saat ini, ada tafsiran masyarakat yang mengidentikkan kerbau sakti itu dengan pasukan khusus dari tentara bayaran, yang ditugaskan untuk membikin kekacauan publik, hingga menimbulkan keresahan dan kepanikan massa. Kerbau mengamuk yang membikin keonaran itu menjadi kamuflase dari “sang calon penguasa” untuk menampilkan diri sebagai pahlawan pemadam kebakaran.
Adolf Hitler pernah juga mengatur siasat dan strategi yang sama. Ketika ada keterdesakan yang menggebu serta ambisi yang memuncak, maka jalan pintas pun terjadilah. Kerusuhan massa itu dimulai akibat berkobarnya api yang membakar gedung parlemen di pusat kota Jerman. Pada tanggal 30 Januari 1933, tepat pukul 12.00 – melalui jalur konstitusional – Presiden Hindenburg yang sudah sepuh, tiba-tiba menunjuk Adolf Hitler selaku Kanselir seluruh Jerman, serta perdana menteri negara bagian Prusia dengan ibukota Berlin.
Kewenangan politik langsung dimanfaatkan Hitler, hingga secara sepihak ia membangun pengadilan-pengadilan militer serta menangkapi orang-orang yang dianggap bertentangan dengan visi dan misi dari partainya (Nazi). Saat itu, nyaris tidak ada wacana yang berimbang, bahwa pembakaran gedung itu sebenarnya atas perintah Hitler kepada para kaki-tangannya yang mengenakan seragam serba cokelat.
Ketika kekuasaan berada dalam genggamannya, ia mengumbar kampanye-kampanye sambil mewujudkan cita-cita politiknya untuk pembangunan kesatuan Jerman Raya. Negara-negara bagian federal kemudian menjadi provinsi-provinsi dari negara kesatuan fasis pimpinan satu orang tunggal. Semua serikat buruh dan organisasi yang dianggap berhaluan kiri, akhirnya dibungkam dan diberangus.
Maka, lahirlah negara baru (ordo baru) dengan sistem kekuasaan totaliter yang dikendalikan oleh satu partai berkuasa dan paling dominan. Hitler mendeklarasikan diri, bahwa ia tidak mentoleransi adanya kebijakan apapun yang tidak disukai olehnya. Semuanya dikamuflase dengan majelis perwakilan rakyat yang boneka, dengan gaya-gaya teror, intimidasi dan kekerasan.
Dalam waktu singkat, terbentuklah tulang-tulang punggung sistem intel, informan dan polisi rahasia, dengan cara-cara penganiayaan terdakwa atau tercurigai.
Sistem pengadilan, mahkamah agung dan kejaksaan, berikut para pejabatnya dikontrol oleh aparat pemerintahan yang identik dengan kepentingan satu partai tunggal. Segala gaya, mentalitas dan cara-cara kerja masyarakat menjadi militeristik. Yang berlaku hanyalah sistem komando dari Sang Dalang serta ketaatan mutlak dari para wayang.
Dalam konteks saat ini, trik-trik membangun kekuasaan secara tidak wajar, tidak fair yang berpola model Fulan, Jaka Tingkir hingga Adolf Hitler, semakin marak dipermainkan oleh petualang-petualang politik di sekitar kita. Mereka kasak-kusuk memasuki lembaga pendidikan, pasar-pasar, hingga ke lingkungan pesantren bersama para tim suksesnya, menempelkan wajah-wajah mereka di sepanjang jalan hingga mobil-mobil angkutan umum.
Kini, setelah lima tahun menjabat anggota dewan, Fulan dan beberapa mantan tim suksesnya nongkrong kembali di gardu ronda, yang letaknya di perempatan kampung Jombang. Hampir tiap malam mereka bermain catur dan bertanding bulutangkis, meski kemampuan mereka hanya sebatas menjadi pecatur dan pebulutangkis kelas kampung. ***
Penulis adalah pegiat organisasi Orang Indonesia (OI), menulis esai dan prosa di berbagai media nasional luring dan daring.







