Apakah Potensi Perang Dunia Sudah Ada di Ambang Pintu?

oleh -2078 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Yoga Duwarto

Kondisi dunia pada saat ini sungguh berada dalam kondisi geopolitik yang semakin meningkat memanas, yang kemudian memunculkan pertanyaan: apakah kita sudah di ambang Perang Dunia III? Bahkan beberapa analis dan pemimpin global sudah beberapa kali memperingatkan bahwa situasi ini bisa mengarah kepada konflik berskala besar, yang mirip dengan dua perang dunia sebelumnya.

Kita mengetahui konflik antara Rusia dan Ukraina telah menarik perhatian dunia. Sejak invasi oleh Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, wilayah Ukraina telah berubah menjadi medan pertempuran bagi kekuatan besar yang saling berkonflik.

Di satu sisi, Rusia jelas mendukung kelompok separatis pro-Rusia di Ukraina Timur, sementara di sisi lain, Amerika Serikat dan sekutunya yaitu negara-negara NATO memberikan dukungan kepada pemerintah Ukraina.

Yang mana sebenarnya ini telah menciptakan situasi proxy war, yaitu kedua belah pihak berusaha mencapai tujuan strategis mereka tanpa harus terlibat langsung dalam pertempuran.

Sebagai contohnya, dunia juga mengetahui Rusia menggunakan pasukan Wagner, yaitu suatu unit paramilitary yang diasumsikan dibentuk dan dikomandani oleh Yevgeny Prigozhin, untuk bergerak merebut kota-kota strategis di Ukraina, demi kepentingan Rusia.

Demikian juga bila mengamati situasi konflik Timur Tengah, setelah dimulai dengan serangan kelompok Hamaz dari Gaza ke Israel, semakin terlihat perubahan situasi menjadi konflik antara Israel dan Iran. Yang mana Iran telah bergantung pada kekuatan proxynya yaitu Hamaz, Hezbollah dan Houthi selama beberapa dekade.

Kemudian negara Iran ini kini sedang menghadapi dilema setelah serangan Israel yang efektif menyerang Hezbollah, di Lebanon Selatan. Serangan Israel yang menghancurkan dan membunuh banyak kepemimpinan Hezbollah dan juga gangguan internal keamanannya telah menimbulkan kerugian besar bagi strategi Iran dalam mengekstrak pengaruhnya di kawasan tersebut.

Iran dan Hezbollah kini menghadapi dilema bagaimana cara bereaksi tanpa mengalami kerugian tambahan. Jika mereka memutuskan untuk terus melancarkan serangan balasan dengan roket-roket dan rudal-rudal, mereka akan menghadapi respons keras dari Israel yang dibantu tehnologi dari Amerika dan dapat berpotensi akan pecahnya perang besar yang Teheran tidak siap hadapi, akibat kondisi internal negara Iran. Bahkan, serangan balasan Iran sendiri dapat dikatakan telah gagal dalam mengganggu lajunya aktivitas militer Israel, ini menandakan kelemahan strateginya dalam menghadapi gempuran musuh yang kuat.

Dalam konteks ini, Indonesia juga menghadapi tantangan tersendiri setelah serangan Israel terhadap Tentara Perdamaian PBB di Lebanon yang telah melukai dua tentara perdamaian Indonesia. Dan kemudian Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengecam keras serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan juga menyerukan kepada semua pihak untuk menghormati keselamatan pasukan PBB.

Indonesia, sebagai negara penyumbang pasukan terbesar untuk misi UNIFIL di Lebanon dengan lebih dari 1.200 personel, memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi anggotanya dan juga mendukung misi perdamaian dunia. Maka Indonesia sebaiknya mengambil langkah-langkah konkret setelah terjadinya insiden ini.

Pertama, pemerintah harus terus mendesak PBB untuk lebih jauh meningkatkan perlindungan bagi pasukan perdamaian di lapangan serta memastikan bahwa pelanggaran terhadap mereka tidak dapat dibiarkan tanpa konsekuensi.

Kedua, pemerintah Indonesia perlu memperkuat diplomasi dengan negara-negara lain untuk semakin membangun koalisi yang mendukung adanya perlindungan pasukan PBB juga mendorong dialog antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.

Selain itu, pemerintah Indonesia segera dapat mempertimbangkan untuk meningkatkan kapasitas medis dan logistik bagi pasukan perdamaian agar mereka lebih siap menghadapi situasi berbahaya di masa depan. Mengingat pentingnya peran Indonesia dalam misi perdamaian internasional, langkah-langkah ini tidak hanya akan melindungi tentara perdamaian Indonesia tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam diplomasi global.

Kemudian beralih jauh dari kawasan Timur Tengah juga terdapat potensi konflik yaitu di Laut China Selatan, juga telah menambah berat ketegangan situasi global. Yang dimulai ketika China memperluas klaim teritorial lautnya, sehingga negara-negara seperti AS dan sekutunya semakin meningkatkan kehadiran militer mereka di kawasan tersebut. Terlebih dengan terjadinya saling provokasi kedua belah pihak yaitu China dan Taiwan, telah menciptakan risiko konfrontasi langsung yang dapat melibatkan negara-negara besar.

Misalnya, AS telah mengirim kapal induk USS Ronald Reagan ke daerah tersebut sebagai tanggapan atas aksi agresif China. Sementara itu, Australia juga telah meningkatkan kehadiran angkatan lautnya di regional tersebut untuk mendukung kekuatan AS dalam menjaga kebebasan navigasi laut.

Secara keseluruhan terlihat bagaimana negara-negara pemilik senjata nuklir seperti AS, Rusia, dan Prancis tetap berupaya untuk menghindari konflik langsung (head to head) dan lebih menggunakan strategi proxy war dalam mengatur kekuatan rival mereka.

Misalnya, AS dan Inggris telah mengintersep drone-drone Iran untuk melindungi teritorial Israel, sementara Suriah juga turut campur tangan dengan menembak sejumlah interceptor-interceptor dari Israel. Namun, sekali lagi untuk penggunaan senjata nuklir tetap menjadi tabu bagi semua pihak, karena implikasinya akan sangat fatal bagi seluruh umat manusia dan diketahui resikonya oleh semua negara pemilik senjata nuklir mematikan ini.

Mengingat risiko sangat besar dari penggunaan senjata nuklir, semua pihak tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip diplomatik untuk menghindari eskalasi konflik. Setiap kali ada tekanan atau ancaman, para pemimpin dunia selalu ingat akan risiko besar dari penggunaan senjata nuklir. Dan jalan menuju meja perundingan dan penyelesaian damai masih selalu diupayakan terbuka lebar, kemudian juga komunitas internasional terus bekerja keras untuk mendorong proses diplomatik agar berhasil.

Sebagai contohnya, bagaimana negara-negata Uni Eropa terus menerus melakukan upaya diplomatik untuk penyelesaian konflik Rusia-Ukraina melalui forum-forum internasional seperti G20 dan OSCE.

Meskipun ada banyak tanda yang menunjukkan kemungkinan terjadinya perang besar, terdapat beberapa faktor yang juga berfungsi sebagai penghalang naiknya eskalasi konflik. Dan negara-negara besar saat ini lebih memilih untuk menghindari konflik head-to-head dan tetap menggunakan strategi proxy war. Sebab mereka juga menyadari bahwa konfrontasi langsung akan dapat berujung pada bencana global, terutama bila terjadi adanya penggunaan senjata nuklir yang dapat menghancurkan seluruh umat manusia.

Oleh karena itu, meskipun situasi geopolitik saat ini sangat kompleks dan penuh tantangan, harapan untuk mencegah perang besar masih ada selama semua pihak tetap berkomitmen mencari solusi damai. Keberanian seluruh kekuatan negara-negara untuk terus berdialog dan mencari jalan tengah merupakan kunci utama dalam menjaga perdamaian dunia dan menghindari tragedi besar seperti perang dunia.

Dan kita bersama seluruh umat manusia tetap berharap adanya kebersamaan dan perdamaian melingkupi seluruh penjuru dunia.

Minggu, 13 Oktober 2024

Penulis adalah Peneliti dan Pemerhati Kebijakan Publik

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.