Abad Pertengahan: Antara Penerus Tradisi Intelektual atau Matinya Tradisi Intelektual

oleh -981 Dilihat
Ilustrasi (Foto Kompas)
banner 468x60

Oleh: Sixtus Junior Faon

Abad pertengahan yang ditandai dengan runtuhnya kekaisaran Romawi oleh bangsa barbar seringkali dipandang sebagai periode kemunduran budaya yang sangat signifikan. Kekaisaran Romawi yang menjadi simbol keagungan peradaban nyatanya runtuh dan diporak-porandakan oleh bangsa-bangsa barbar (Visigoth) yang menjarah Roma pada tahun 410. Dengan runtuhnya kekaisaran Romawi tentu melibatkan pula ambruknya struktur sosial, hukum, perdagangan, maupun akademi yang sarat akan warisan-warisan klasik filsafat Platon dan Aristoteles.

Bertolak dari kenyataan historis tersebut, banyak sekali pandangan modern yang mengultimatum Abad Pertengahan sebagai dark ages (era kegelapan) atau era minus pengetahuan. Pandangan-pandangan tersebut tentu bertolak dari fakta sejarah yang menunjukkan bahwa Eropa kala itu dilanda “turbelensi” moral, sosial, dan intelektual. Abad kegelapan disebut-sebut sebagai “sirkus” di mana Gereja secara totaliter memegang kendali atas semua bidang kehidupan, baik itu politik maupun intelektual. Namun hal tersebut tidak digali secara mendalam perihal alasan Gereja mengambil alih penerusan peradaban Eropa yang berada di ambang kepunahan akibat penjarahan bangsa barbar.

Setelah penjarahan besar-besaran oleh bangsa barbar tehadap kekaisaran Romawi Barat dan meruntuhkannya, satu institusi yang tetap berdiri kokoh ialah Gereja. Tatanan sosial runtuh, ekonomi ambruk, warisan intelektual klasik kehilangan pijakan, dan satu-satunya lembaga yang hidup adalah Gereja. Pembahasan kali ini lebih diarahkan ke bidang intelektual dikarenakan era abad pertengahan seringkali dijuluki sebagai era dominasi iman Kristiani minus intelektual. Etienne Gilson, dalam History of Christian Philosophy in the Middle Ages, sebagaimana yang di kutip oleh Patris Neonnub dalam sesi perkuliahan Filsafat Skolastik, menegaskan bahwa filsafat tidak mati bersama ambruknya Roma. Filsafat hanya kehilangan “rumah” lama dalam forum-forum politik, dan menemukan “rumah” baru dalam asuhan Gereja Katolik.

Gereja sebagai institusi yang masih bertahan tentu tidak berongkang kaki melihat warisan intelektual klasik yang sedang berada diambang kepunahan. Gereja pada masa ini memainkan peran ganda, yakni sebagai institusi rohani sekaligus penerus intelektual dari balik tembok-tembok biara dengan tekun menyalin teks-teks klasik yang masih tersisa. Filsafat klasik yang dulunya diterapkan di forum-forum publik kini beralih menjadi “kacamata” untuk menyelaraskan iman dan nalar. Dengan istilah yang menarik Patris Neonub menyebut Gereja bukan hanya “penjaga altar”, tetapi juga “penjaga perpustakaan.” Jika Gereja tidak mengambil alih teks-teks klasik dari ambang kepunahan, tentu dunia modern akan pincang untuk memahami pemikiran Platon maupun Aristoteles, serta pemikir klasik lainnya.

Gereja dengan demikin menjadi lahan tumbuh-kembangnya Platonisme, Stoisisme, maupun retorika-retorika Cicero. Gereja menjadi kurator sekaligus tranfigurator yang menjamin hidupnya tradisi Filsafat klasik. Gerakan-gerakan monastisisme dalam Gereja dengan mencintai keheningan turut memberi sumbangsih bagi salinan-salinan warisan klasik yang dikerjakan dengan konsentrasi penuh. Gereja tampil dengan peran ganda; di satu sisi Gereja tetap menjalankan fungsi rohani, di sisi lain Gereja hadir sebagai sosok terakhir yang bertanggung jawab terhadap warian klasik yang hampir punah untuk peradaban umat manusia kedepannya.

Peran Gereja sebagai pena yang membuktikan ketangkasannya di hadapan pedang barbar yang membinasakan menyediakan wadah bagi lahirnya para pemikir skolastik awal yang hidup dalam masa peralihan dari patristik ke skolastik, yakni Boethius, Pseudo Dionysius Areopagit, Isodore dari Seville, dan Anselmus dari Canterbury. Boethius berdiri sebagai jembatan antara pemikiran klasik dan abad pertengahan dengan penekanan bahwa filsafat sejatinya tidak bertentangan dengan iman.

Pseudo Dionysius berandil sebagai jembatan yang mempertemukan filsafat neoplatonisme dan mistik Kristiani. Isodore dari Seville hadir bukan sebagai pemikir orisinal melainkan kurator ulung yang mengumpulkan warisan-warisan filsafat klasik dalam satu karyanya Etimologie. Anselmus dengan konsep fides quarens intellectum (iman mencari pengertian/pembenaran) menunjukkan bahwa sesungguhnya filsafat dan teologi tidak saling mengeliminasi melainkan saling menopang.

Perlu diketahui pula bahwasannya abad pertengahan dengan lahirnya skolastisisme dengan sintesis iman dan nalar memberi sumbangsih besar bagi lahirnya univeristas-universitas pertama seperti, Paris (filsafat dan Teologi), Bologna (hukum), dan Oxford (pengetahuan secara luas), yang sebelumnya merupakan sekolah-sekolah katedral. Fakta sejarah menunjukkan bahwa sistim universitas dewasa ini merupakan sistim yang diadopsi dari sistim universitas abad pertengahan yang lahir dari rahim biara.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa abad kegelapan merupakan era runtuhnya kejayaan Romawi, namun tidak dengan ilmu pengetahuan. Gereja hadir sebagai pelita peradaban baru ditengah runtuhnya peradaban lama yang disebut-sebut sebagai dark ages. Meminjam istilah Patris Neonnub, “bangsa barbar menghancurkan Roma dengan pedang, Gereja membangun Roma dengan pena dan doa”

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira, Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.