Kemampuan Tubuh Sembuhkan Diri

oleh -168 Dilihat
banner 468x60

Mengapa ada orang yang tidak mudah tertular batuk atau pilek? Mengapa ada penderita kanker yang berhasil sembuh kembali? Ini sebagian fenomena yang terus berusaha ditemukan jawabannya oleh ilmuwan.

Tubuh punya kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri. Para ahli kesehatan kini semakin mampu mengungkap “rahasianya,” yang disebut Salutogenese (Salus = sehat; Genesis = asal mula). Dalam Salutogenese yang jadi fokus adalah kesehatan, bukan penyakit.

Contoh konkretnya, misalnya: seorang pasien selalu mengalami gangguan tidur, karena stres berat dalam pekerjaan atau keluarga. Tentu sebagai solusinya ia bisa minum banyak obat, untuk dapat tidur. Tapi lebih baik jika ia bertanya, kondisi seperti apa yang dibutuhkannya agar dapat tidur dengan baik? Dengan cara itu, ia akan membangkitkan kemampuan tubuhnya untuk menyembuhkan diri sendiri. Karena agar bisa mengatasi penyakit, orang harus menggunakan kemampuan menyehatkan tubuh yang dimiliki masing-masing individu.

Kemampuan menyembuhkan yang dimiliki tubuh manusia bisa dibuktikan jika menderita luka. Tubuh punya kemampuan membangun dan mereparasi kembali sel-sel yang rusak, sehingga luka bisa mengecil dan akhirnya pulih kembali.

Di samping itu, kesehatan pikis juga mempengaruhi kesehatan tubuh. Jika orang mengalami stres, tubuh akan memproduksi lebih banyak kortisol, dan ini menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, orang lebih mudah tertular penyakit.

Sebaliknya jika orang rileks, neurotransmiter dari otak menstimulasi sistem kekebalan tubuh. Bagaimana otak dan organ tubuh lainnya bekerjasama untuk menjaga kesehatan tubuh masih harus diteliti lebih jauh lagi. Tapi sudah terbukti, proses ini berlangsung lebih baik jika orang merasakan ketenangan. Jika orang merasa senang atau bahagia, tubuh membentuk lebih banyak hormon Serotonin dan Endorfin. Kedua hormon ini juga ikut memperkuat kekebalan tubuh.

Profesor Wolfram Schüffel, kepala klinik untuk Psikosomatik di Universitas Marburg mengatakan, dengan kemampuan tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri, dampak penyakit bisa dilemahkan. Sebuah cabang ilmu pengetahuan baru yang disebut Psikoneuroimonologi berupaya mengungkap apa yang terjadi, jika jiwa “menyembuhkan” tubuh. Bagaimana jiwa, sistem saraf dan sistem kekebalan tubuh saling berkorelasi menjaga kesehatan individu.

Pernahkah Anda mendengar tentang ‘the power of dream’ atau ‘kekuatan mimpi’? Sesungguhnya pikiran kita hebat. Ketika kita percaya bisa meraih suatu hal, hal tersebut bisa terjadi. Tahukah Anda bahwa kita bisa mengandalkan pikiran kita untuk menyembuhkan penyakit yang kita derita? Terdengar klise? Faktanya, di dunia medis pun, kekuatan pikiran terhadap kesembuhan sudah diteliti lebih lanjut oleh para ahli. Berikut ini penjelasannya.

Kesembuhan bisa didapat dengan mengandalkan metode pikiran-tubuh atau mind-body. Metodenya adalah dengan mengandalkan pikiran dan emosi untuk mempengaruhi kesehatan tubuh. Jangan salah, pengobatan ini telah diaplikasikan semenjak dahulu kala, seperti pada pengobatan tradisional Cina atau pengobatan Ayurvedic. Berbeda dengan pengobatan yang dari Barat, pengobatan tradisional tersebut menghubungkan kaitan antara pikiran dan tubuh.

Kalau begitu, mengandalkan kekuatan pikiran termasuk ke dalam pengobatan tradisional? Tidak juga. Pada tahun 1964, psikiater George Salomon menemukan bahwa seorang pasien yang menderita rematik arthritis semakin memburuk ketika mereka depresi.  Salomon menginvestigasi dampak dari emosi terhadap sistem kekebalan tubuh, ia menemukan adanya kaitan antara psikologi, saraf, dan imunitas.

Pikiran-tubuh mulai dianalisis lebih lanjut pada tahun 1975 ketika Robert Ader, seorang psikolog, menunjukkan bahwa mental dan emosional dapat mempengaruhi sistem tubuh. Kita sering mendengar bahwa ketika seseorang stres, ia menunjukkan gejala perubahan fisik. Sama halnya ketika kita berpikir bahwa kita akan sembuh dari penyakit, tubuh pun akan merefleksikan apa yang berasal dari pikiran.

Ketika Anda stres secara fisik dan emosi, tubuh akan mengeluarkan hormon stres yang dapat mempengaruhi sistem dan organ tubuh. Saat kita cemas, tidak hanya stres yang menjadi dampaknya, jantung Anda pun akan mengalami gangguan. Stres yang menumpuk dapat menyebabkan depresi, inilah yang membuat tubuh sulit untuk menyembuhkannya sendiri. Perlu Anda ketahui bahwa tubuh memiliki kemampuan alami untuk menyembuhkan diri.

Ketika Anda sakit, tak jarang Anda pun menjadi stres. Mungkin Anda memikirkan keluarga yang mengurusi Anda, biaya pengobatan, masalah di sekolah maupun kantor, hingga pengobatan yang lama. Stres merupakan dampak pikiran negatif. Memang belum ada bukti pasti bahwa pikiran negatif dapat menimbulkan suatu penyakit, namun para peneliti menunjukkan bahwa emosi negatif merupakan hal yang tidak sehat jika dibiarkan. Peneliti juga tidak tahu pasti penjelasan ilmiah mengenai cara kerja pikiran positif terhadap kesembuhan seseorang. Intinya adalah, pikiran positif bukan untuk menyelamatkan seseorang, tetapi untuk membentuk kesejahteraan dari dalam jiwa.

Penelitian baru-baru ini, yang dikutip situs Psychcentral, melakukan survei pada mahasiswa Hukum pada tahun pertamanya. Pada pertengahan semester, mahasiswa yang optimis menghadapi semester depan, menunjukkan fungsi sel kekebalan tubuh yang lebih baik dibanding dengan mahasiswa yang cemas. Hyphothalamus mampu mentransfer emosi menjadi respon fisik melalui neuropetides (hormon pembawa pesan antara pikiran dan tubuh). Hypothalamus juga mengontrol nafsu makan, level gula darah, temperatur tubuh, adrenal, jantung, paru-paru, pencernaan dan sistem peredaran darah. Tubuh dan pikiran kita memang didesain untuk saling berhubungan. Maka dari itu, saat Anda sakit, hanya pikirkan kesembuhan dan pikiran positif lainnya saja.

(kompilasi berbagai sumber)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.