Iran Gempur Tel Aviv, Israel Serang Balik Jantung Iran: Konflik Semakin Membara

oleh -1355 Dilihat
banner 468x60

Konflik berskala besar antara Iran dan Israel memasuki babak baru yang paling mematikan sejak eskalasi dimulai awal Juni. Senin (16/6/2025), Iran kembali melancarkan serangan rudal ke sejumlah kota utama Israel, sementara Israel menggencarkan serangan balasan ke berbagai fasilitas strategis di Iran.

Setidaknya 5 warga Israel dilaporkan tewas, dan lebih dari 100 lainnya luka-luka akibat gelombang rudal balistik yang ditembakkan dari wilayah Iran menuju Tel Aviv, Petah Tikva, dan Haifa. Rudal yang digunakan diyakini merupakan tipe canggih, termasuk seri Haj Qassem dan Qassem Bassir, yang dikembangkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menegaskan sistem pertahanan Iron Dome dan Arrow berhasil mencegat sebagian rudal, namun tidak mampu menahan semua serangan. Beberapa rudal dilaporkan berhasil menghantam wilayah padat penduduk.

Menanggapi serangan tersebut, Israel menggelar operasi besar-besaran bertajuk “Rising Lion”, menghantam lebih dari 100 target di wilayah Iran, termasuk pusat riset nuklir di Natanz dan Fordow, depot minyak, pangkalan IRGC, hingga sistem radar utama.

Sumber militer Israel menyebut operasi ini berhasil melumpuhkan sejumlah fasilitas kunci Iran dan menewaskan lebih dari 200 orang, termasuk ilmuwan nuklir dan personel militer elite.

Ketegangan meningkat ketika laporan dari sumber intelijen Barat mengungkap bahwa Mossad telah membangun pangkalan drone rahasia di dalam wilayah Iran, dan memanfaatkan jaringan lokal untuk menyerang dari dalam. Serangan ini juga didukung oleh sabotase sistem komunikasi dan radar milik Iran.

Sementara itu, di ibu kota Iran, Tehran, situasi kian mencekam. Ribuan warga melarikan diri ke arah utara setelah serangan udara menghantam kawasan industri dan jaringan listrik utama. Pemadaman listrik dan internet terjadi secara luas, mendorong aktivasi jaringan alternatif seperti Starlink.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam pernyataan terbarunya menegaskan bahwa AS tidak terlibat langsung dalam operasi militer Israel, namun menyatakan siap bertindak jika Iran menyerang kepentingan atau pangkalan militer AS di kawasan.

Sejumlah pemimpin dunia, termasuk dari Uni Eropa dan G7, menyerukan penghentian kekerasan dan mendorong gencatan senjata segera. Namun, baik Iran maupun Israel menolak opsi tersebut untuk saat ini.

“Ini adalah babak baru perang terbuka,” ujar seorang analis militer Israel kepada media internasional. “Kami tidak akan mundur sebelum Iran kehilangan kemampuan serangan balistiknya.”

Hingga saat ini, Israel menunjukkan dominasi teknis dan keunggulan operasi militer lewat presisi dan efektivitas serangan udara serta intelijen. Namun, Iran berhasil mengejutkan banyak pihak dengan kemampuan rudalnya yang kini menembus sistem pertahanan udara Israel, menunjukkan peningkatan teknologi militer yang signifikan.

Pengamat menilai bahwa bila eskalasi terus berlangsung tanpa intervensi diplomatik, kawasan Timur Tengah berpotensi masuk dalam perang regional terbuka yang melibatkan pihak ketiga seperti milisi pro-Iran di Lebanon, Suriah, Irak, bahkan Yaman. (Kompilasi berbagai sumber)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.