Ketika kita mendengar perbincangan di publik tentang seksualitas baik itu di tiktok, instagram, youtube dan media lainnya, kita mungkin akan menemukan dua pandangan berbeda tentang seksualitas. Pandangan pertama datang dari masyarakat tradisional dan pandangan kedua datang dari masyarakat modern. Masyarakat tradisional akan mengatakan bahwa itu adalah hal yang tidak baik karena seksualitas adalah sesuatu yang hanya dapat diperbincangkan di ranah privat.
Berbeda dengan masyarakat modern. Bagi mereka perbincangan seputar seksualitas adalah hal wajar. Seksualitas, dalam kacamata banyak budaya dan agama dilihat sebagai sesuatu yang sakral, anugerah yang berharga dan mempunyai makna yang amat dalam bagi kehidupan manusia. Akan tetapi, seksualitas seakan kehilangan kesakralannya ditengah kemajuan dunia yang semakin modern dan liberal yang melahirkan juga pandangan-pandangan yang pragmatis dan permisif tentang seksualitas.
Perkembangan media dan teknologi adalah faktor utama yang mendorong perubahan ini. Perkembangan internet dan media sosial telah membuat akses mudah ke konten seksual, bahkan tanpa batasan usia sehingga anak kecil dapat mengakses video-video yang berbau pornografi, dan bahkan pornografi, yang dulu dianggap tabu, kini menjadi konsumsi sehari-hari bagi banyak orang.
Perkembangan media sosial juga telah turut melahirkan aplikasi-aplikasi “hijau” yang memudahkan banyak orang untuk bebas melakukan kegiatan seksual. Bahkan sebagian orang menjadikan aplikasi “hijau” untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Hal ini membantu normalisasi eksploitasi seksual dan menjadikan seksualitas sebagai barang yang dapat dijual, bukan lagi sesuatu yang sakral dan suci.
Seksualitas sebagai sebuah eksebisi
Selain itu, seksualitas dewasa ini juga dilihat sebagai sebuah ajang eksebisi, yakni suatu situasi di mana orang-orang memamerkan, mempertontonkan, dan mengeksploitasi tubuh mereka ke ruang publik entah itu secara langsung maupun tidak langsung (melalui perantaraan media sosial). Banyak dari kita yang menjadikan tubuh dan seksualitas sebagai alat untuk mengekspresikan diri, bahkan sampai tahap menjadikannya sebagai sarana untuk mendapat pengakuan sosial.
Misalnya saja situasi yang kita lihat akhir-akhir ini di mana banyak orang yang senang menggunakan pakaian yang “kekurangan kain” sehingga sebagian tubuh yang seharusnya tidak dilihat banyak orang akhirnya dapat dilihat, atau konten-konten sensual yang di onlyfans, dan masih banyak lagi aktivitas seperti itu yang kita temukan diberbagai platform media sosial.
Mungkin hal itu biasa-biasa saja bagi orang yang budayanya seperti itu tetapi akan menjadi sebuah keprihatinan bagi sebagian masyarakat yang tidak hidup dalam budaya seperti itu. Contoh lain misalnya beberapa kejadian di kota Kupang di mana beredar beberapa video yang berisi seorang pria sedang memperlihatkan alat vitalnya sambil melakukan onani. Di sini, budaya malu seakan hilang total dan yang ada hanyalah libido.
Seksualitas sebagai sebuah eksebisi telah membawa kita jauh dari ajaran moral yang kita dapat entah itu dari adat istiadat maupun dari agama. Orang kehilangan rasa malu sehingga tidak tanggung-tanggung untuk mempertontonkan unsur-unsur seksualitas di ruang publik. Seksualisasi tubuh bukan lagi sekadar ekspresi, tetapi alat untuk meraih perhatian, pengikut, atau uang. Maka yang terjadi adalah sebuah paradoks: kebebasan yang dibentuk dan diarahkan oleh logika pasar. Di sinilah seksualitas kehilangan ruang privatnya.
Seksualitas yang permisif
Munculnya budaya permisif membuat seksualitas juga menjadi sangat permisif. Masyarakat bahkan hukum dalam arti tertentu membiarkan hal ini tanpa adanya kontrol yang ketat. Budaya permisif yang berkembang ditengah kita seperti menghipnotis kita untuk tidak peduli dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Hubungan badan diluar nikah, hidup bersama tanpa komitmen, kumpul kebo, dan eksplorasi seksual yang semakin terbuka kini dianggap sebagai hal yang wajar.
Kita seperti merasa wajar-wajar saja kalau ada pasangan yang belum menikah tapi sudah hidup bersama, atau membiarkan orang bercumbu di depan kita tanpa peduli dan membiarkan hal itu terjadi. Di sini, rasa bersalah seperti menjadi benar karena orang berpikir bahwa tidak salah saya berhubungan badan dengannya karena dia adalah pacar saya. Kita sepertinya memperbolehkan pelanggaran moral itu terjadi dengan alasan masing-masing urus diri. Ketika kita terus membiarkan hal seperti itu terus terjadi maka lambat laun kita akan kehilangan pijakan.
Kita akan hidup dalam satu situasi yang lain yang berbeda dengan keadaan dulu. Pada akhirnya, seksualitas yang permisif tidak bisa ditolak atau diterima secara hitam putih. Ia adalah gejala zaman, hasil dari dinamika sejarah, ekonomi, dan budaya. Yang perlu kita lakukan bukan sekadar menilai, tetapi merenung: apa yang kita cari dari kebebasan seksual? Kepuasan? Identitas? Koneksi? Atau makna yang lebih dalam dari sekadar persentuhan tubuh?
Perubahan-perubahan sosial yang terjadi telah membawa malapetaka bagi kesakralan seksualitas. Benar bahwa seksualitas bukanlah hal yang tabu, tetapi juga bukan hal yang harus diabaikan. Penyimpangan moral yang terjadi dalam seksualitas harus dibenahi. Memang tidak mudah untuk membenahi problem ini tetapi sebagai individu-individu yang berbudaya dan menjunjung tinggi nilai moral, kita perlu berjuang untuk menyadarkan orang lain akan kesakralan seksualitas sebagai suatu anugerah yang luhur.
Dalam situasi di mana seksualitas semakin dipermainkan dan dijadikan alat konsumsi, tantangan terbesar kita adalah mengembalikan pemahaman bahwa seksualitas bukan hanya soal tubuh, tetapi juga soal tanggung jawab moral dan relasi antarmanusia. Seksualitas tidak bisa dilepaskan dari konteks etika karena menyangkut martabat pribadi manusia, hubungan antar pribadi, serta komitmen terhadap nilai-nilai luhur yang dibangun bersama dalam masyarakat.
Setiap tindakan seksual seharusnya menjadi ekspresi cinta yang bertanggung jawab, bukan pelampiasan hasrat semata. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran etis, bukan hanya dari individu, tetapi juga dari keluarga, lembaga pendidikan, dan institusi agama untuk terus mengedukasi tentang pentingnya menjaga kesakralan seksualitas dalam dunia yang terus berubah.
Seksualitas yang kehilangan kesakralannya bukanlah sekadar akibat dari perkembangan zaman, tetapi juga akibat dari hilangnya kesadaran akan nilai dan tanggung jawab moral. Di tengah dunia yang semakin permisif dan pragmatis, penting bagi kita untuk tidak kehilangan arah. Seksualitas harus dikembalikan pada makna aslinya sebagai anugerah yang luhur, bukan sekadar barang konsumsi atau komoditas pasar. Sebagai orang beriman dan berbudaya, kita diajak untuk tidak hanya menilai perubahan ini, tetapi mengambil bagian dalam membangun kembali narasi seksualitas yang bermartabat, sakral, dan manusiawi.
Oleh: Remigius Taek, Anggota Komunitas Pikiran Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang







