Sobat Sehat dan Ikatan Alumni FKM UI Pendampingan Psikososial Korban Gempa di Nagekeo

oleh -643 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Mbay – Tujuh pekan setelah gempa mengguncang Flores Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian warga Desa Waekokak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo masih merasa trauma dan takut setiap kali tanah kembali bergetar. Pemulihan karena itu tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah dan fasilitas publik. Rasa aman dan kesehatan psikologis warga juga perlu dipulihkan agar memiliki ketahanan mental menghadapi bencana yang dapat mengancam setiap saat.

Trauma mendalam akibat gempa bumi di Nagekeo khususnya mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Lewat aksi nyata yang bersinergi dengan pemerintah, Sobat Sehat dan Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (ILUNI FKM UI) pada Jumat (2/10/2026) turun langsung ke lapangan untuk memulihkan mental para penyintas sekaligus menyalurkan bantuan.

Gempa bermagnitudo 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026 tidak hanya merusak tempat tinggal warga. Hingga pertengahan September, pemerintah daerah mencatat sekitar 14.000–15.000 gempa susulan, dengan 185 di antaranya dirasakan masyarakat. Status tanggap darurat yang ditetapkan sejak 15 Agustus kemudian berakhir pada 27 September 2026, dan Nagekeo memasuki masa transisi darurat menuju pemulihan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Komunitas Sobat Sehat melalui program Bantu Sehat: Pulihkan Asa Nagekeo. Bersama Pemerintah Desa Waekokak dan Puskesmas dengan dukungan ILUNI FKM UI dan Priority, Sobat Sehat memberikan bantuan kebutuhan dasar sekaligus pendampingan psikososial bagi warga dewasa dan anak-anak terdampak gempa.

Dalam situasi tersebut, kesehatan psikologis menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Founder Komunitas Sobat Sehat sekaligus Sekretaris Jenderal ILUNI FKM UI, Sri Gusni Febriasari, S.K.M., M.Psi.T., mengatakan pemulihan pasca bencana tidak dapat dipisahkan antara aspek fisik dan psikologis.

“Rumah bisa dibangun kembali, tetapi rasa aman juga harus dipulihkan, terutama bagi anak-anak yang akan membawa pengalaman ini hingga dewasa,” tutur Gusni.

Kegiatan diawali dengan doa bersama lintas agama yang dipimpin oleh Romo Yanto Soka dan Ustaz Asrul. Warga Katolik dan Muslim Desa Waekokak berdiri berdampingan, mendoakan keluarga yang kehilangan, warga yang masih bertahan di tenda, serta keselamatan Nagekeo dari bencana susulan.

Momen hening itu menjadi pengingat bahwa di tengah musibah, kebersamaan dan iman menjadi sumber kekuatan yang menyatukan warga.

“Bencana ini menguji kita semua, tetapi juga mengingatkan bahwa kita tidak pernah berjalan sendiri. Tuhan hadir melalui tangan-tangan yang datang menolong dan melalui tetangga yang saling menguatkan. Mari kita jaga harapan dan terus saling menopang,” tutur Romo Yanto.

Demikian pula Ustaz Asrul mengatakan, musibah sebagai ujian iman bagi umatNya agar mengasah kesabaran dan kebersamaan menghadapi situasi bencana.

“Musibah adalah ujian, dan kesabaran serta kebersamaan adalah kekuatan kita untuk melewatinya. Hari ini kita berdoa bersama sebagai saudara, tanpa sekat. Semoga Allah memberi ketabahan kepada warga Nagekeo dan melindungi kita dari bencana berikutnya,” ujar Ustaz Asrul.

Pendampingan dilakukan melalui aktivitas psikososial bagi orang dewasa dan ruang bermain aman bagi anak-anak. Warga mendapatkan edukasi mengenai reaksi psikologis pasca bencana serta latihan sederhana untuk mengelola kecemasan. Sementara anak-anak diajak menggambar, mendengarkan dongeng, dan bermain sebagai medium untuk mengekspresikan pengalaman mereka.

“Anak-anak sering kali menyimpan rasa takutnya dalam diam. Lewat gambar dan permainan, mereka bisa mengungkapkan apa yang sulit diucapkan,” ujar Siti Kholidiyatus Sa’diyah, M.Psi., Psikolog.

Siti juga menekankan pentingnya peran orang tua untuk mendengarkan anak, menjaga rutinitas, dan memberikan rasa aman melalui kehadiran.

Pemulihan juga diarahkan agar tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Tim Sobat Sehat berkoordinasi dengan pemerintah desa dan puskesmas untuk merujuk warga maupun anak yang membutuhkan penanganan lanjutan ke layanan kesehatan pemerintah. Pendekatan ini diharapkan menjaga kesinambungan pendampingan sekaligus memperkuat peran layanan kesehatan primer dalam pemulihan pasca bencana.

Selain pendampingan psikososial, Sobat Sehat menyalurkan bantuan berupa kebutuhan pangan, air mineral, alas tidur, perlengkapan kebersihan dan kesehatan, serta alat tulis bagi anak-anak. Bagi Sobat Sehat, rangkaian ini merupakan bagian dari upaya membangun ketangguhan komunitas, dengan memperkuat modal sosial, kemampuan warga untuk bangkit, dan akses terhadap layanan kesehatan primer.

“Warga dan komunitas adalah pihak pertama yang hadir saat bencana, dan pihak yang paling lama tinggal untuk memulihkannya. Karena itu, pertahanan kesehatan di wilayah rawan bencana harus dibangun dari bawah,” kata Sri Gusni.

Bagi warga Waekokak, pemulihan mungkin masih panjang. Namun, setelah rumah mulai dibenahi, bantuan disalurkan, dan anak-anak kembali bermain, ada satu hal yang tak kalah penting untuk dibangun kembali: keberanian untuk merasa aman dan menatap hari esok.

Untuk diketahui, Sobat Sehat adalah komunitas kesehatan berbasis pemuda di bawah naungan Yayasan Asa Karya Muda, dengan semangat “Peran Pemuda Sehatkan Nusantara” dan #sehatdimulaidaridirisendiri. Melalui program CEK FIT, GERAK FIT, SEHATI, Bantu Sehat, Sobat Sehat Talks, dan Volunteer Nusantara, Sobat Sehat mendorong peran aktif generasi muda dalam upaya promotif dan preventif kesehatan masyarakat di seluruh Indonesia. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.