Mahasiswa UNDANA Bahas Kepemimpinan Perempuan, Ketangguhan Bencana pada Peringatan Hari Perempuan Internasional 2026

oleh -827 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Sebanyak 90 mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Nusa Cendana (UNDANA) mengikuti kegiatan peringatan International Women’s Day (IWD) 2026 bertema “Perempuan NTT Berbagi untuk Berdaya” yang diselenggarakan oleh Program SIAP SIAGA Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama BEM UNDANA, Forum Pengurangan Risiko Bencana NTT, dan Tenggara Youth Community.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Pascasarjana UNDANA, Kupang, Senin (30/3/2026) ini menjadi ruang diskusi mahasiswa untuk memperkuat pemahaman tentang peran strategis perempuan—terutama perempuan muda—dalam menghadapi bencana dan perubahan iklim yang menjadi tantangan nyata di NTT.

Team Leader Program SIAP SIAGA Indonesia, Lucy Dickinson, menegaskan bahwa perempuan sering berada di garis depan respons bencana di tingkat keluarga dan komunitas, namun keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan masih perlu diperkuat.

“Ketika kita berbagi pengetahuan, pengalaman, dan kepedulian, kita sedang membangun kekuatan bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain, dan untuk masa depan bersama,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa NTT merupakan wilayah dengan risiko bencana yang tinggi, mulai dari kekeringan, angin kencang, hingga siklon tropis seperti Siklon Seroja tahun 2021.

“Dalam situasi seperti ini perempuan sering berada di garis paling depan—di rumah, di komunitas, bahkan di lapangan. Untuk memastikan keluarga dan lingkungan tetap bertahan, perempuan muda juga biasanya juga jadi andalan untuk penyebaran informasi. Namun, kita juga harus jujur bahwa suara perempuan, khususnya perempuan muda belum selalu di dengar secara penuh dalam pengambilan keputusan. Padahal ide, semangat dan kepedulian dari perempuan muda sangat dibutuhkan,” tandasnya.

Lucy menegaskan bahwa mahasiswa bukan sekadar peserta kegiatan, tetapi bagian dari solusi.

“Karena bencana dan perubahan iklim adalah hal yang nyata dan terjadi sekarang.Maka kita tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai berkarya menuju resiliensi. Kita bisa melakukan hal kecil seperti membagikan informasi kesiapsiagaan bencana, mengedukasi teman-teman di sekitar kita, menggunakan media sosial untuk kampanye positif, atau sekadar menyampaikan pendapat. Semua itu adalah langkah nyata,” ucapnya.

Lucy Dickinson berharap kegiatan ini tidak hanya menginspirasi, tetapi juga melahirkan gagasan dan gerakan nyata yang berkelanjutan.

“Saya ingin mengajak kita semua untuk terus percaya bahwa setiap perempuan memiliki potensi yang luar biasa. Perempuan muda adalah pimpinan dan ketika perempuan diberi ruang, diberi kesempatan dan saling mendukung maka perubahan besar pasti terjadi. Mari kita terus berkarya, terus bergerak, dan terus saling membutuhkan, pungkasnya”

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNDANA, Dr. Siprianus Suban Garak, M.Si, yang membuka kegiatan ini menyampaikan harapannya agar mahasiswa memperoleh nilai tambah melalui diskusi yang berlangsung. Ia juga menegaskan bahwa mahasiswa merupakan bagian penting dari solusi dalam menghadapi tantangan sosial dan kebencanaan di daerah.

Kegiatan ini menghadirkan talk show bertema “Perempuan dalam Resiliensi Bencana dan Perubahan Iklim” dengan narasumber Yasinta Adoe, nelayan perempuan muda dari komunitas pesisir Kota Kupang, dan Melsi Anita Mansula, pendiri Bank Sampah Mutiara Timor, Area Manager SIAP SIAGA NTT, Silvia Fanggidae, hadir sebagai penanggap.

Dalam paparannya, Yasinta Adoe membagikan pengalaman mendirikan komunitas Majelis Nelayan Bersatu, yang lahir dari kesadaran akan ancaman nyata perubahan iklim terhadap kehidupan masyarakat pesisir.

“Anggota komunitas kami kebanyakan perempuan. Banyak yang berpikir nelayan itu hanya laki-laki. Padahal ada nelayan-nelayan perempuan hebat yang melaut sampai sangat jauh. Kami sering berada digaris depan saat krisis atau bencana melanda, memikul beban ganda untuk memulihkan ekonomi keluarga sambil menjaga ekosistem pesisir,” ujarnya.

Ia juga menggambarkan perubahan garis pantai yang dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir.

“Garis pantai perlahan menghilang. Kenaikan muka air laut bukan lagi ancaman masa depan—ia sudah menelan ruang hidup kami hari ini. Laut datang menjemput halaman kami. Beta tinggal di Pasir Panjang. Dan perubahan yang beta lihat benar-benar itu adalah dulu kalau keluar rumah beta berdiri di sekitar Hotel Sotis sekarang maka yang beta lihat adalah laut. Tetapi yang sekatrang yang beta lihat adalah hotel yang menghalangi semua pandangan ke laut. Dan akses ke laut saja hampir tidak ada lagi,” bebernya.

Yasinta menekankan pentingnya aksi nyata melindungi pantai dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari kampus yang terus diaplikasikan.

“Itu menjadi Pelajaran bagi kami. Kalau kita tidak mempunyai aksi nyata untuk melindungi Pantai kita maka apa yang akan kita wariskan untuk generasi yang akan datang? Saya percaya bahwa kakak-kakak mahasiswa yang ada di sini lebih bisa atau lebih mampu menggunakan ilmu kakak-kakak untuk menjaga lingkungan, termasuk lingkungan laut,” kata perempuan tamatan SMA ini.

Pengalaman tersebut mendorongnya bersama beberapa teman mendirikan komunitas Majelis Nelayan Bersatu pada tahun 2023 memperjuangkan tiga isu prioritas: pembangunan pemecah gelombang, asuransi aset nelayan, serta akses pinjaman perbankan tanpa jaminan.

“Kita butuh ruang terbuka hijau bukan Pembangunan yang menghalangi mata untuk melihat Pantai. Bahkan jangan sampai akibat kebijakan pembangunan menyulitkan nelayan perempian atau nelayan lainnya mengakses laut. Ketika dibangun hotel atau restoran, otomatis akses ke laut akan semakin sulit. Cerita tentang Pantai ini luar biasa, begitu banyak perjuangan kaum Perempuan untuk memperjuangkan Pantai ini tetap ada, dijauhkan dari pembangunan beton. Sejak penolakan Pembangunan saya masih duduk di bangku SMP, dan saya masih ingat dengan jelas bagaimana saya menggunakan pakaian seragam turun serta bersama keluarga dan Masyarakat lain untuk menyuarakan penolakan Pembangunan di situ,” tandasnya.

Yasinta mengatakan para nelayan perempuan senantiasa saling menguatkan karena memiliki kemauan yang sama dalam mencari nafkah.

“Kami nelayan perempuan saling menguatkan. Barang kotong bisa cari, uang kotong bisa cari, tapi orang seperti kotong yang punya kemauan kotong mau cari di mana?” tandasnya.

Pembicara kedua, Melsi Anita Mansula, membagikan pengalamannya membangun Bank Sampah Mutiara Timor sebagai gerakan perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.

“Persoalan sampah di Indonesia tidak pernah selesai karena anggaran yang diberikan pemerintah untuk menangani sampah itu di bawah satu persen, sementara sampah diproduksi setiap hari,” ungkapnya.

Sebagai seorang sarjana Perencanaan Tata Kota, alih-alih melakukan intervensi di bidang perencanaan tata kota yang menurutnya sangat politis dan membutuhkan modal yang banyak, Melsi memilih mengubah perilaku masyarakat dalam memilah sampah dengan memberikan insentif.

Upayanya mengubah perilaku masyarakat ini membutuhkan waktu. Dua tahun pertama sejak mulai melakukan sosialiasi hanya mendapatkan reaksi negative dari anggota Masyarakat dan barulah pada tahun 2020 mulai terbentuk kelompok-kelompok di komitas terbatas yang menjadi mitra-mitra bank sampah yang ia dirikan. Melalui pendekatan intensif dan edukasi, gerakan tersebut kini menjangkau sekitar 3.000 kepala keluarga yang tersebar di 19 kelurahan pada enam kecamatan di Kota Kupang.

Aktivitas para mitra bank sampah ini selain membantu lingkungan menjadi lebih bersih dan tertata juga membantu ibu-ibu dalam mendapatkan penhasilan tambahan.

“Hasil memilah dan menjual sampah bahkan digunakan untuk membiayai kebutuhan rumah tangga sampai membiayai SPP anak.”
Dari pengalaman saya, orang-orang seperti kak Sinta, yang berjuang untuk tempat tinggalnya akan lebih terbuka untuk berubah, sedangkan orang-orang yang lebih mapan dalam penghasilan maupun pendidikan justru mindsetnya susah dirubah. Sebagai orang muda jangan gampang putus asa dan mengerah kalau punya mimpi untuk mengubah sesuatu,” bebernya.

Para peserta kegiatan ini terdiri dari unsur BEM, BPM, organisasi mahasiswa lintas fakultas, serta komunitas kepemudaan mengikuti kegiatan ini. Komposisi peserta diupayakan berimbang secara gender dan mencerminkan keterlibatan mahasiswa yang aktif dalam isu sosial, gender, dan kebencanaan.

Diskusi juga diperkaya dengan sesi refleksi peserta serta mini lokakarya penyusunan ide kampanye media sosial bertema IWD 2026. Melalui lokakarya ini, peserta merumuskan pesan-pesan kunci tentang pentingnya keterlibatan perempuan dalam pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim di tingkat kampus maupun masyarakat.

Program SIAP SIAGA berharap kegiatan ini dapat memperkuat jejaring mahasiswa sebagai agen perubahan sosial serta mendorong lahirnya narasi positif tentang kepemimpinan perempuan dalam membangun ketangguhan daerah terhadap krisis bencana dan perubahan iklim. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.