Hadapi Lonjakan Bencana, BPBD Kota Kupang Gandeng Driver Online sebagai Sistem Respons Darurat Lewat Program TOP Ranger

oleh -115 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Di tengah lonjakan tajam kejadian bencana dan keterbatasan personel, Pemerintah Kota Kupang mengambil langkah strategis dengan menggandeng pengemudi transportasi online sebagai bagian dari sistem respons darurat. Inisiatif ini diwujudkan melalui program Transportasi Online Peduli Relawan Bencana (TOP Ranger)—sebuah model kolaborasi public-private partnership (PPP) dalam penanggulangan bencana.

Sebagai bagian upaya penguatan implementasi program, Kamis (25/6/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang berkolaborasi dengan Program SIAP SIAGA NTT menggelar Workshop Lanjutan Penyusunan Modul TOP Ranger untuk memfinalisasi dan mengesahkan Modul Bimbingan Teknis TOP Ranger sebagai standar pelatihan relawan pengemudi online.

Workshop ini diikuti oleh tim penyusun modul, BPBD Kota Kupang, perwakilan pengemudi online dan perwakilan Program SIAP SIAGA NTT. Para peserta secara intensif menelaah, menyempurnakan, dan memverifikasi materi yang akan menjadi dasar pelatihan sebelum diterapkan melalui bimbingan teknis dan simulasi lapangan.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Kupang, Ernest S. Ludji, S. STP., MSi. dalam sambutannya menyatakan kebanggaannya akan partisipasi berbagai pihak dalam proses pembuatan modul-modul ini.

“Saya bersyukur karena akhirnya kita sampai pada tahap penyusunan modul ini. Ini bukan produk BPBD semata melainkan produk pemerintah Kota Kupang. Saya berharap bapak ibu ada pada kebanggaan yang sama seperti kebanggaan saya bahwa bapak ibu mempunyai andil dalam pembentukan produk ini,” kata Ernest.

Ia berharap Top Rangers menjadi mata dan telinga semua pemangku kepentingan dalam memantau dan melaporkan setiap peristiwa bencana yang dimulai dari pencegahan sampai tidakan penanganan dan penanggulangan.

“Awalnya saya hanya berharap Top Rangers ini menjadi mata dan telinga kita, artinya menjadi pelapor saja dari setiap peristiwa bencana. Namun ternyata sudah berkembang menjadi tangan dan kaki kita juga, artinya melakukan pertolongan pertama, membantu distribusi logistik dan melakukan evakuasi. Sangat luar biasa jika itu bisa tercapai,” kata Ernest.

Sejak awal pembentukkan Top Rangers, telah diidentifikasi empat peran para pengemudi online yang akan diperkuat yaitu membantu evakuasi, penyampaian informasi darurat, distribusi logistik dan pendampingan masyarakat terdampak.

Namun dalam diskusi hari diberikan perhatian secara khusus pada dua modul yaitu fungsi penyampaian informasi kedaruratan dan evakuasi. Sedangkan menyangkut distribusi logistik dan pendampingan masyarakat terdampak karena mempunyai tingkat kerumitan dan mengandaikan koordinasi dengan berbagai organisasi perangkat daerah maka akan dilakukan dalam tahap berikutnya.

Urgensi program ini sangat nyata. Kota Kupang menghadapi berbagai ancaman bencana hidrometeorologi—mulai dari banjir, angin kencang, tanah longsor, hingga siklon tropis dan kekeringan. Data BPBD Kota Kupang menunjukkan, sepanjang tahun 2021-2025 terjadi 620 bencana di Kota Kupang. Dan di tahun 2024 terjadi 177 kejadian bencana, dan di tahun 2025 terjadi 77 bencana di Kota ini.

Di sisi lain, kapasitas personel penanggulangan bencana masih terbatas dibanding luas wilayah dan kebutuhan layanan. Kondisi ini menuntut pendekatan baru yang lebih kolaboratif dan inovatif.

Di sinilah TOP Ranger mengambil peran penting. Program ini memanfaatkan kekuatan sektor swasta—dalam hal ini pengemudi transportasi online—yang memiliki mobilitas tinggi, jangkauan luas, dan beroperasi hampir 24 jam. Dengan karakteristik tersebut, mereka berpotensi menjadi first responder yang mampu menjangkau lokasi lebih cepat dibandingkan sistem konvensional.

Lebih dari sekadar inovasi, TOP Ranger juga menjadi contoh konkret kemitraan pemerintah dan sektor swasta dalam mempercepat respons darurat. Melalui inisiatif ini, para pengemudi diharapkan dapat berperan dalam: menyebarluaskan informasi peringatan dini, membantu evakuasi warga terdampak, dan mendukung distribusi logistik saat tanggap darurat.

Namun demikian, BPBD menegaskan bahwa peran ini harus dijalankan secara profesional , terukur dan aman. Karena itu, penyusunan modul pelatihan menjadi langkah krusial untuk memastikan setiap relawan memiliki kompetensi yang memadai dan bekerja sesuai prosedur.

Dalam workshop, peserta membahas materi kunci yang akan menjadi isi modul, termasuk manajemen evakuasi taktis dan inklusif, penanganan kelompok rentan dan penyandang disabilitas, serta diseminasi sistem peringatan dini yang inklusif.

Area Manager SIAP SIAGA NTT, Silvia Fanggidae, memberi apresiasi kepada proses penyusunan modul ini yang menurutnya partisipatif dan inklusif karena tidak saja melibatkan para pengemudi online tetapi juga melibatkan pengemudi perempuan.

“Dengan kehadiran para pengemudi online, mereka bisa langsung memberi input bagi modul-modul ini, jadi mereka bukan hanya menerima dan melaksanakan tetapi bisa memberikan sumbangan pikiran,” kata Silvi.

Proses ini, kata Silvia, untuk memastikan prosedur-prosedur menjadi Top Ranger itu bisa dilaksanakan untuk para driver sebagai aktor utama, juga memastikan apa yang dilakukan sejalan regulasi dan aturan yang ada.

“Proses ini adalah untuk memastikan bahwa prosedur-prosedur menjadi Top Ranger itu aplikatif untuk para driver sebagai aktor utama. Di sisi lain juga memastikan bahwa apa yang dilakukan sejalan regulasi dan aturan yang ada. Ini sebuah proses yang partisipatif yang memastikan bahwa inovasi itu aplikabel dan tetap pada jalur regulasi dan etika yang harus dipenuhi.”

Finalisasi modul ini diharapkan menghasilkan dokumen yang komprehensif, terstandar, dan siap diterapkan dalam pelatihan dan simulasi. Selain itu, para peserta juga menyusun rencana tindak lanjut untuk memastikan penguatan kapasitas relawan TOP Ranger berjalan secara berkelanjutan.

Inisiatif ini menandai pergeseran pendekatan penanggulangan bencana menuju model kolaborasi multi-pihak, yang melibatkan pemerintah, masyarakat, sektor swasta, akademisi, dan mitra pembangunan. Melalui TOP Ranger, kolaborasi tersebut kini diterjemahkan secara nyata di lapangan—menghubungkan kecepatan sektor privat dengan mandat pelayanan publik.

Di tengah ancaman bencana yang semakin kompleks akibat perubahan iklim, TOP Ranger menunjukkan bahwa respons cepat tidak lagi hanya bergantung pada siapa yang bertugas, tetapi juga pada siapa yang paling siap dan paling dekat dengan lokasi kejadian. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.