Dari Ri’i untuk Indonesia Emas: Gereja dan Pemerintah Berjalan Bersama Membangun Martabat Manusia

oleh -126 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Ruteng – Semangat sinodalitas dan kolaborasi antara Gereja dan Pemerintah menjadi fokus utama dalam seminar bertajuk “Sinodalitas Gereja dan Pemerintah dalam Mewujudkan Indonesia Emas” yang digelar Paroki Santu Antonius Padua Ri’i, Sabtu (25/7/2026). Seminar tersebut merupakan salah satu agenda utama dalam rangkaian perayaan Pesta Emas (50 Tahun) Paroki Santu Antonius Padua Ri’i.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Paroki Ri’i itu menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Maria Caecilia Stevi Harman, anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), dan Drs. Ansel Alaman, M.Si, aktivis sosial kemasyarakatan. Seminar diikuti oleh Orang Muda Katolik (OMK), tokoh masyarakat, para guru, serta siswa-siswi dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Kehadiran berbagai unsur masyarakat mencerminkan semangat sinodalitas, yakni berjalan bersama dalam membangun kehidupan Gereja sekaligus bangsa.

Membuka kegiatan tersebut, Pastor Paroki Santu Antonius Padua Ri’i, RD Tarsi Syukur, menegaskan bahwa Gereja dan negara tidak boleh berjalan sendiri-sendiri dalam menjawab berbagai tantangan zaman. Menurutnya, kerja sama antara keduanya merupakan syarat penting untuk membangun masyarakat yang bermartabat.

“Agama dan negara harus sejalan. Tantangan dunia saat ini harus dihadapi bersama-sama. Kerja sama menjadi hal yang fundamental, sebab pembangunan manusia jauh lebih penting daripada sekadar pembangunan fisik,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila pembangunan benar-benar menempatkan manusia sebagai pusat perhatian. Mengutip ajaran sosial Gereja yang ditegaskan Paus, ia mengatakan bahwa kemajuan harus berpihak kepada mereka yang lemah dan rentan.

Menurutnya, kekuasaan tidak boleh dijalankan dengan keangkuhan, melainkan dengan semangat pelayanan. Spirit sinodalitas—yang mengedepankan dialog, partisipasi, dan kerja sama—harus menjadi dasar relasi antara Gereja dan pemerintah agar nilai-nilai Kerajaan Allah semakin nyata dalam kehidupan masyarakat.

Senada dengan hal tersebut, Camat Cibal menyampaikan bahwa Indonesia Emas bukan hanya menjadi program pemerintah, tetapi juga harus menjadi cita-cita bersama seluruh warga bangsa, termasuk umat beriman.

Ia mengatakan bahwa setiap warga negara pada hakikatnya juga adalah warga Gereja yang memiliki tanggung jawab moral dalam menentukan arah pembangunan bangsa.

“Indonesia Emas bukan hanya harapan pemerintah, tetapi juga harus menjadi isi doa umat beriman. Masa depan bangsa bergantung pada kualitas manusia yang mampu menghidupi nilai-nilai iman, persaudaraan, dan tanggung jawab,” ujarnya.

Tantangan Moral di Era Digital

Dalam pemaparannya, Dr. Maria Caecilia Stevi Harman mengajak peserta melihat secara kritis berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia dalam perjalanan menuju Indonesia Emas. Menurutnya, pembangunan tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi atau infrastruktur, tetapi juga tentang kualitas moral dan karakter masyarakat.

Ia menyoroti maraknya judi online, penyebaran hoaks, penggunaan media sosial yang berlebihan, serta meningkatnya budaya provokasi yang memicu polarisasi di tengah masyarakat. Fenomena tersebut, katanya, menjadi ancaman serius bagi kohesi sosial dan kehidupan demokrasi.

Dr. Stevi juga menyinggung berbagai persoalan pembangunan yang sering memunculkan dilema di tengah masyarakat. Salah satu contohnya adalah proyek geotermal yang di sejumlah daerah memunculkan pro dan kontra, bahkan menimbulkan perbedaan sikap antara masyarakat, Gereja, dan pemerintah.

Menurutnya, konflik semacam itu sering kali terjadi karena kebijakan tidak diawali dengan dialog yang memadai dan kurang memahami kebutuhan nyata masyarakat. Akibatnya, program yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan justru memunculkan polemik baru.

“Program pemerintah sering kali tidak tepat sasaran karena tidak berangkat dari kebutuhan masyarakat. Implementasi yang kurang melibatkan masyarakat akhirnya menimbulkan konflik yang berkepanjangan,” ujar Stevi.

Ia menekankan bahwa pembangunan harus dilakukan secara partisipatif dengan mengedepankan komunikasi, transparansi, dan penghormatan terhadap martabat manusia agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat.

Menjadi Kristen yang Revolusioner

Sementara itu, Drs. Ansel Alaman, M.Si mengajak umat beriman untuk menghayati iman secara kontekstual melalui keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Menurutnya, menjadi orang Kristen berarti berani menjadi “revolusioner” dalam arti menghadirkan perubahan yang membawa kebaikan bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa misi keselamatan Allah tidak hanya ditujukan kepada individu, melainkan kepada seluruh umat manusia. Karena itu, setiap orang beriman dipanggil menjadi relawan Allah yang memperjuangkan martabat manusia, merawat lingkungan hidup, dan membangun kehidupan bersama yang adil.

“Menjadi Kristen berarti menjadi relawan Allah bagi kemanusiaan. Iman tidak boleh berhenti di altar, tetapi harus hadir dalam perjuangan membangun masyarakat yang lebih adil dan sejahtera,” tegasnya.

Ansel menilai berbagai persoalan seperti korupsi, ketimpangan distribusi kekuasaan, praktik politik yang tidak etis, serta lemahnya penegakan hukum masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan Indonesia Emas. Hukum, menurutnya, harus menjadi instrumen keadilan, bukan alat tawar-menawar politik.

Ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap profesi-profesi strategis, khususnya guru, yang berperan membentuk generasi masa depan. Di sisi lain, pesimisme sebagian generasi muda terhadap masa depan bangsa harus dijawab melalui pendidikan karakter dan pemberdayaan masyarakat.

Menurut Ansel, penguatan komunitas basis, katekese yang berkelanjutan, pemberdayaan petani, pelatihan keterampilan, serta pembentukan komunitas belajar di tingkat desa dan paroki merupakan langkah konkret untuk membangun masyarakat yang tangguh. Selain itu, ia mengajak umat menjadi agen perubahan dengan menghidupi dan menyuarakan Empat Pilar Kebangsaan, sekaligus menjadikan semangat sinodalitas sebagai cara membangun Indonesia yang inklusif.

“Kebijakan publik harus mampu merangkul seluruh elemen masyarakat. Sinodalitas mengajarkan kita berjalan bersama, saling mendengarkan, dan mencari solusi demi kesejahteraan bersama,” tegasnya.

Membangun Harapan Bersama

Seminar ini tidak hanya menjadi ruang refleksi intelektual, tetapi juga momentum memperkuat komitmen bersama antara Gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun bangsa. Di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, politik, dan budaya, semangat sinodalitas diharapkan mampu melahirkan budaya dialog, gotong royong, dan pelayanan yang berpusat pada martabat manusia.

Melalui penyelenggaraan seminar tersebut, Paroki St. Antonius Padua Ri’i menegaskan bahwa perayaan Pesta Emas bukan sekadar mengenang perjalanan 50 tahun pelayanan, tetapi juga menjadi titik tolak untuk memperbarui komitmen Gereja agar terus hadir sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperjuangkan keadilan, kesejahteraan, dan terwujudnya cita-cita Indonesia Emas 2045. (Jimi Maleng/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.