Bupati SBD, Ratu Ngadu Bonnu Wulla Berkunjung ke Lokasi Bencana Gempa

oleh -121 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Waitabula – Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Ratu Ngadu Bonnu Wulla menunjukkan kepedulian sebagai pimpinan daerah kepada warga yang terdampak bencana gempa bumi.

Bupati perempuan pertama di Sumba itu sigap dan menyempatkan diri berkunjung ke lokasi bencana gempa seperti di Pero Konda dan sekitarnya.

Kunjungan terlaksana pasca gempa bermagnitudo 6,1 yang mengguncang SBD Minggu pagi, 4 Oktober 2026, pukul 06.55 WITA.

Bupati Ratu tidak datang sendiri. Ia datang bersama sejumlah Kepala Dinas dan Camat serta aparat TNI/Polri.

Dalam kunjungannya, Bupati Ratu ingin memastikan kondisi warga tetap aman dan memberikan penguatan agar tidak panik terhadap isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Saya datang untuk memastikan masyarakat Kodi dalam keadaan aman. Pemerintah daerah hadir bersama rakyat. Saya minta semua warga tetap tenang, waspada terhadap gempa susulan, dan hindari bangunan yang retak,” pesannya.

Bupati mengatakan, Pemerintah Kabupaten SBD akan terus berkoordinasi dengan BMKG, BNPB dan Polda NTT untuk pemantauan di lapangan.

“Kami sudah siagakan BPBD dan Puskesmas. Jika ada warga yang mengalami trauma atau luka, segera lapor. Jangan terpancing hoaks, ikuti info resmi dari BMKG dan pemerintah daerah,” tegas Ratu Wulla.

BMKG mencatat pusat gempa berada di laut 14 kilometer barat daya Kodi pada kedalaman 10 kilometer dan tidak berpotensi tsunami, dengan pemutakhiran 59 kilometer barat daya Kodi kedalaman 30 kilometer akibat aktivitas Sesar Waikabubak.

Tercatat 173 kali gempa susulan dengan magnitudo Magnitudo 1,5 hingga Magnitudo 4,3. Guncangan terkuat dirasakan di Kodi, Balaghar dan Kodi Bangedo dengan skala VI MMI, sementara Tambolaka, Waikabubak dan Raba IV MMI.

Gempa membuat rumah sejumlah warga rusak. Tidak hanya rumah, warga yang terdampak harus memilih mengungsi secara mandiri pasca gempa itu.

Beberapa diantaranya memilih mengungsi di desa tetangga bahkan beberapa diantaranya memilih sekolah sebagai tempat beristirahat sementara sembari melihat situasi yang ada.

“Iya keluarga saya sudah duluan pergi mengungsi. Tinggal saya sendiri di sini,” demikian kata warga Pero Konda, Arsyad Ahmad kepada wartawan saat melihat kondisi rumahnya yang ikut rusak akibat gempa.

Arsyad mengatakan, pilihan mengungsi adalah pilihan terbaik saat ini untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Terlebih lagi kata dia, banyak informasi yang menyebut kalau nantinya ada gempa susulan.

“Begitu yang kami dengar makanya kami keluar saja sementara. Saya sendiri juga lagi siap untuk ikut keluarga saya,” kata Arsyad lirih.

Hal yang sama pun disampaikan Kades Pero Konda, Koda Sigore yang di kesempatan itu mengatakan kalau warganya memilih mengungsi karena masih trauma terhadap peristiwa gempa yang terjadi itu.

“Iya ada beberapa yang memilih mengungsi di keluarga mereka di luar desa ini. Itu karena ada rasa trauma karena gempa yang terjadi begitu cepat dan tiba-tiba,” kata Koda.

Selain itu, gempa itu, kata dia, mengingatkan warga akan insiden di tahun 1972 lalu dimana wilayah tersebut pernah diterpa oleh tsunami.

“Apalagi mereka dapatkan informasi ada gempa susulan sehingga mereka memilih keluar. Selain mengungsi keluar desa, ada juga warga yang memilih tetap di rumah mereka walaupun rumah mereka rusak akibat gempa tersebut,” ujarnya.

Tercatat satu orang korban luka, empat unit rumah rusak berat, 13 unit rumah rusak sedang, 282 unit rumah rusak ringan. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.