RADARNTT, Larantuka – Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen menyebut swasembada pangan sebagai bukti lompatan produktivitas petani Lamaholot. Berbicara swasembada pangan, yang sesungguhnya membicarakan bukan hanya hasil panen, melainkan martabat. Pangan adalah bahasa paling jujur dari relasi manusia dengan tanahnya.
“Bagi orang Lamaholot, pangan adalah soal harga diri. Ketika petani bisa makan dari tanahnya sendiri, di situlah kedaulatan dimulai,” tutur Anton Doni Dihen, dalam Acara Syukuran Swasembada Pangan Nasional oleh BPP se-pulau Adonara, Rabu (7/1/2026).
Anton Doni Dihen, memandang swasembada pangan sebagai proses, bukan peristiwa. Amartya Sen mengingatkan bahwa ketahanan pangan bukan semata soal ketersediaan, tetapi juga soal akses dan keberlanjutan (Sen, 1981). Kesadaran ini tampak ketika kebijakan daerah mulai memberi ruang pada praktik bertani lokal.
“Pemerintah tidak boleh datang sebagai guru yang merasa paling tahu. Kita harus belajar dari petani, dari kebiasaan tanam mereka, dari cara mereka menjaga tanah dan air,” ujar Anton Doni Dihen.
Tradisi bertani masyarakat Lamaholot mencerminkan apa yang oleh Elinor Ostrom disebut sebagai tata kelola sumber daya bersama—di mana tanah dan air dirawat sebagai milik kolektif (Ostrom, 1990). Ketika negara hadir untuk memperkuat, bukan menggantikan, praktik ini, produktivitas tumbuh tanpa memutus akar budaya.
Namun, tandas Anton Doni Dihen, pemerintah hadir mendampingi petani dalam meraih keberhasilan yang mengandung panggilan moral.
“Swasembada bukan akhir perjalanan. Tantangan iklim dan masa depan petani muda harus dijawab dengan kebijakan jangka panjang,” kata Anton Doni Dihen.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir Flores Timur mengalami peningkatan produksi jagung dan padi (sekitar 20 persen). Di balik angka itu, tersimpan kerja panjang petani yang setia membaca musim, merawat tanah dan air, sering kali dalam keterbatasan.
FAO menegaskan bahwa masa depan pangan dunia bertumpu pada petani kecil dan sistem pertanian berkelanjutan (FAO, 2017). Dari Flores Timur, pesan itu menemukan relevansinya: bahwa ladang-ladang Lamaholot bukan hanya ruang produksi, melainkan ruang harapan.
Acara syukuran Swasembada Pangan Nasional berlangsung di Markas Orang Indonesia (OI) Adonara Ormas Iwan Fals di Desa Waiburak Kecamatan Adonara Timur, dihadiri Bupati, Kadis pertanian, Camat Adonara Timur, Plt Camat Wotan Ulumado, Camat IleBoleng, unsur TNI (Koramil Adonara 1624/02 Adonara), BPP se- pulau Adonara, Kepala Desa se-Adonara, para penyuluh pertanian dan para petani milenial.
Ketua OI Adonara Yami Dosinaen mengapresiasi kegiatan syukuran swasembada pangan yang berlangsung di komunitas yang dinahkodainya.
Dosinaen berkesan menarik karena banyak pihak terlibat ada petani milenial, Poktan, Gapoktan, Camat se Adonara, Koramil Adonara, Lurah dan akades, Kadis Pertanian dan Bupati Flores Timur.
“Semoga dengan syukuran ini semangat petani, bertani dan mencintai Tani Tanah dan Alam,” ucap Koordinator BPP Duablolong.
Yami Dosinaen berharap pertanian semakin bertumbuh dan berkembang seiring waktu, terutama di kalangan kaum muda sebagai pemegang estafet pembangunan pertanian pasca generasi tua. (TIM/RN)







