Dari Kupang ke Mamboru Berakhir di Kenangan

oleh -906 Dilihat
banner 468x60

Ciptakanlah kenangan indah dalam perjalanan hidupmu, karena itu yang akan menjadi warisanmu.
-NN

Perjalanan kenangan itu dimulai tepatnya dari kota karang, Kupang medio Maret 2024. Masa itu adalah masa saya merasa akan ada hal baik dibalik pengalaman perjalanan ke Sumba. Kesempatan kedua ke bumi Pasola membuat sesuatu yang begitu menggebu, ingin segara dikeluarkan. Ada banyak pertimbangan atas perjalanan ini, tapi ada juga sesuatu yang harus dituntaskan di sana.

Salah satu dari yang ingin saya tumpahkan itu adalah tentang kehidupan orang Sumba yang sangat kental budayanya. Kondisi ini juga bercermin dari kehidupan sekitar saya sendiri. Gregetnya boleh dibilang saat saya tiba di Sumba Tengah, Anakalang dan berkunjung ke rumah orang yang cukup berpengaruh di sana. Kerabat dan keluarga terlihat masih berkumpul karena sehari sebelumnya baru saja diadakan ‘peminangan’ untuk maju dalam Pilkada November nanti.

Orang yang saya dan beberapa teman temui datang lengkap dengan pakaian adat lelaki Sumba. Setelah 30 menit berlalu dia datang dan menyapa kami. Bersamaan sapanya kepada saya, dia pun menyapa teman-teman saya bahkan sempat bertanya tentang perjalanan kami kemarin. Nampaknya beliau memang sudah terbiasa kedatangan banyak orang.

Saya terkesima meilihat indahnya warna tenun Sumba dipakai orang Sumba asli di tanah Sumba. Dan, pemandangan ini benar tertanam di kepala. Tentang bagaimana bangganya memakai pakaian adat Sumba dengan bermartabat. Dari visualnya tentunya beliau mempunyai kasta tinggi di Sumba. Dari dulu Masyarakat Sumba sudah mengenal kasta yaitu, Maramba, Merdeka dan Hamba.

Lalu, perjalanan penelitian dimulai dan diskusi kami tidak jauh dari budaya, kebiasaan dan pola hidup di Sumba umumnya. Hampir lupa, tujuan saya ke Sumba bukan saja menggali informasi Sumba umumnya tetapi cerita tentang Mamboru. Ya.. Mamboru sebuah Kerajaan yang pernah ada dan berdiri di Sumba Tengah di tahun 1915. Mamboru terdengar asing untuk saya yang bukan orang Sumba.

Ada yang Istimewa dengan Mamboru di dasar hati saya paling dalam.

Sebagai Perempuan yang menyukai jalan-jalan dan penelitian, kehidupan Kerajaan Mamboru menarik dan unik. Bukan masalah saya menempuh perjalanan berkilo-kilo untuk sampai di Mamboru atau alergi yang tiba-tiba muncul saat sudah di Mamboru, tapi lebih karena saya mau menyelami Mamboru dan seluruh kekayaannya tanpa dibatasi sekat per-kastaan.

Jadi terpikirkan… inilah perjalanan Nampak tilas tulus saya dengan Mamboru sebuah kerajaaan yang meninggalkan banyak Sejarah, pola hidup dan budaya batu kubur yang terkenal itu. Pertanyaan lain muncul apakah mewawancarai keturunan Mamboru yang tersisa sudah cukup? Apakah dua minggu di Mamboru sudah afdol? Apakah informasinya jenuh? Betulkah semua yang digali itu memang “senjata” paling dasyat untuk menunjukkan Mamboru kepada dunia?

Bersamaan itu pula, saya harus berkata jujur bahwa beberapa buku referensi tentang Sumba yang saya baca di Perpustakaan dan artikel jurnal serta bertanya ke orang Sumba di Kupang menjadi pegangan saya saat itu di Mamboru. Saya membandingkan, mencari korelasi ternyata kenyataan yang saya dapat lebih dari Istimewa. Mamboru itu anugerah Tuhan. Dari ujung Sumba Timur ke Sumba Barat Daya hanya orang Mamboru yang konsisten dengan warna hitam dan putih pada kain tenunnya. Dimana pada selembar sarung itu hanya dibentuk dengan satu warna putih saja atau hitam saja sebagai dasarnya. Sangat minim motifnya bahkan kadang tidak ada.

Mamboru kamu nampak sedehana tetapi sebenarnya kaya. Saya kesusahan mencari diksi untuk menggambarkan betapa….

Betapa susah payah Tuhan menciptakanmu dan terima kasih Tuhan untuk Mamboru ini.

Tempat dan orangnya sama-sama bikin nyaman. Banyak kenangan dan stres hilang bertebaran. Beberapa foto yang mendadak bertebaran di media sosial yang seringnya juga diselip kata-kata puitis nan romantis dari hasil dialog dini hari dan dari penyair terbaik negeri ini.

Kenangan perjalanan menghapus penat yang membelenggu. Apalagi Ketika saya di duduk anjungan KM. Dharma Kartika 5 saat fana merah jambu sedang indah-indahnya. Kala itu kalimat nan puitis seperti menyerbu tanpa permisi. Luar biasa sekali.

Hingga saya bertekad untuk mencoba menulis. Apa pun yang ada di kepala dalam bentuk tulisan catatan di handphone. Saya memang lebih sering menulis di sana karena yah seperti kebanyakan orang handphone itu teman setia yang tidak akan protes diajak menerjang badai sekalipun. Tak pernah lupa perjalanan kenangan ini harus melahirkan tulisan ilmiah tentang pola hidup orang Mamboru.

Dan, pada akhirnya terima kasih Sumba untuk indahmu. Mamboru terima kasih untuk ceritamu. Saya janji akan selalu menulis swastamita-mu, eufoni merdumu, derana kuatmu sebagai tanah dengan berjuta budaya yang kadang jarang dilirik. Saya yakin perjalanan kenangan dari Kupang ke Mamboru ini menjadi metanoia bagi refleksi hidup saya hingga nanti milyaran eunoia pun selalu tercipta dan positive vibes itu ada.

Di kamar. Di Café. Kupang, Juni 2024
Oleh: Henny Lada

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.