‘Mama Maria’ Minta Mantu Bisa Bahasa Inggris, Kita Siswa-Mahasiswa Cuma Mau “Asal Lulus”?

oleh -186 Dilihat
banner 468x60

Lagi rame di NTT sampai Papua dan wilayah-wilayah lain, lagu berjudul ‘Veronika’ tidak cuma bikin orang joget atau jadi soundtrack Reels/TikTok. Ada satu baris lirik yang nyelip pelan tapi mengena: ‘Dia pu mama suka laki-laki bisa bahasa Inggris’. Intinya, “Mama Maria mungkin suka Bahasa Inggris, jadi anak mantunya harus bisa bahasa Inggris.”

Kedengarannya sederhana. Bahkan agak lucu, seperti syarat mertua zaman now. Tapi kalau dibedah pakai kacamata edukatif, ini tentu tidak terbatas pada sebuah lakon dalam drama rumah tangga. Ini cerminan ekspektasi sosial terhadap kompetensi abad ke-21.

Dalam teori sosiologi pendidikan, keluarga (termasuk figur “mama mertua”) sering berperan sebagai ‘hidden curriculum’ yang diam-diam menetapkan standar kelayakan generasi muda. Mama Maria tidak minta mantunya jago main musik atau hafal silsilah suku. Dia minta penguasaan bahasa Inggris. Kenapa? Karena di era konektivitas global, bahasa asing bukan lagi “nilai tambah”, melainkan “syarat dasar”. Kadang, kita kerap menganggap lagu viral sebagai hiburan receh, padahal secara semiotik ia sedang berteriak halus: “Hey, dunia sudah berubah. Standar naik. Kamu adaptasi, atau ketinggalan kereta.”

Makanya, penampilan SMA II Ende di Apel Hardiknas 2026, bagi saya, bukan gara-gara untuk isi acara di momen historis kebangsaan itu. Itu pilihan strategis. Dengan mendendangkan ‘Veronika’ di panggung yang secara simbolik mewakili semangat pendidikan nasional, mereka sedang mengirim pesan terselubung. Jangan sepelekan lagu ini. Jangan anggap viral itu cuma tren sesaat. Ini pengingat buat siswa SMA dan mahasiswa. KALAU MAMA MARIA SAJA PUNYA ‘QUALITY CONTROL’ BUAT CALON MENANTU, MASA KITA TIDAK PUNYA STANDAR BUAT DIRI SENDIRI?

Pendidikan setingkat SMA dan perguruan tinggi hari ini bukan cuma soal lulus ujian, dapat IPK, atau wisuda foto-foto. Ini soal kesiapan berdialog dengan dunia. Bahasa Inggris bukan musuh, bukan beban kurikulum yang bikin pusing, tapi jembatan. Mama Maria mungkin pakai pendekatan “mertua galak”, tapi esensinya selaras dengan visi MERDEKA BELAJAR yakni PUNYA KOMPETENSI YANG DIAKUI, BUKAN CUMA NILAI DI KERTAS.

Siswa-siswi dan para mahasiswa sekalian…. kalau mantunya Mama Maria harus bisa Inggris, masa kalian mau puas dengan “bisa asal lulus”? Dunia kerja, riset, pertukaran pelajar, bahkan industri kreatif lokal sudah menuntut literasi global. Nge-scroll konten luar negeri tidak cukup. Nonton film tanpa subtitle pun belum jadi bukti kompetensi. Yang dibutuhkan adalah keberanian berbicara, menulis, dan berpikir lintas batas bahasa.

Jadi, lain kali kalau dengar ‘Veronika’ di beranda, jangan cuma scroll. Dengarkan liriknya. Tersenyumlah. Lalu buka catatan, latihan speaking, atau ajak teman ngobrol pakai bahasa Inggris (biar Mama Maria (baca: sekolah, kampus, orang tua, masyarakat) bangga, atau setidaknya tidak kecewa). Pendidikan bukan cuma terjadi di ruang kelas. Ia ada di lagu viral, di harapan orang tua, di panggung Hardiknas, dan di tekad kita untuk menolak jadi generasi “asal bisa”.

Selamat Hardiknas 2026. Mari jadikan setiap tren sebagai cermin, dan setiap lirik sebagai motivasi. Siapa tahu, beberapa tahun lagi ada lagu baru yang liriknya begini:

“Aitss…Mama Maria e..sa sekarang su lancar bahasa Inggris. Menangis pun bisa pake bahasa Inggris. Kalo mama mau sa bisa coba sekarang……”

Oleh: Anselmus DW Atasoge

Penulis adalah Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende – Flores – NTT

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.