Tiga puluh tahun perjalanan Kota Kupang seharusnya menjadi penanda kematangan sebuah kota. Sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kupang telah tumbuh menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan mobilitas manusia. Wajah kota berubah, aktivitas ekonomi meningkat, dan ruang urban semakin meluas. Namun di balik pertumbuhan itu, muncul pertanyaan yang tidak bisa dihindari: apakah kesejahteraan rakyat ikut bertumbuh secara signifikan?
Data menunjukkan bahwa jawabannya belum sepenuhnya meyakinkan. Dalam satu dekade terakhir, tingkat kemiskinan di Kota Kupang memang cenderung menurun, tetapi lajunya lambat dan belum menunjukkan perubahan struktural yang berarti. Data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa angka kemiskinan kota ini umumnya berada di kisaran 7–9 persen, dengan fluktuasi pada masa pandemi. Penurunan memang terjadi, tetapi tidak cukup cepat untuk menunjukkan terjadinya mobilitas sosial yang luas. Ini mengindikasikan bahwa kemiskinan di Kota Kupang bukan sekadar persoalan jumlah, melainkan persoalan struktur: ia bertahan, berulang, dan sulit ditembus.
Di saat yang sama, tantangan ketenagakerjaan masih membayangi. Tingkat Pengangguran Terbuka di Kota Kupang secara konsisten berada di kelompok yang relatif tinggi di NTT. Struktur ekonomi kota yang didominasi sektor jasa, perdagangan, dan administrasi pemerintahan belum mampu menyerap tenaga kerja dalam skala besar. Sektor industri pengolahan masih terbatas kontribusinya terhadap perekonomian daerah. Akibatnya, banyak tenaga kerja terserap ke sektor informal dengan produktivitas dan perlindungan yang rendah.
Kondisi ini memperlihatkan satu persoalan mendasar: pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya inklusif. Dalam kerangka Inclusive Growth, sebuah kota dikatakan berhasil jika pertumbuhan mampu menciptakan kesempatan yang luas dan meningkatkan kesejahteraan secara merata. Kota Kupang belum sepenuhnya sampai pada tahap ini. Pertumbuhan ada, tetapi belum cukup dalam untuk mengangkat sebagian besar warga keluar dari kerentanan ekonomi.
Indikator konsumsi sering kali memberi kesan adanya kemajuan. Pengeluaran rumah tangga meningkat dari tahun ke tahun, mencerminkan aktivitas ekonomi yang lebih dinamis. Namun indikator ini perlu dibaca secara hati-hati. Kenaikan konsumsi tidak selalu identik dengan peningkatan kesejahteraan. Faktor inflasi dan kenaikan biaya hidup turut mendorong peningkatan pengeluaran. Dalam konteks ini, angka konsumsi lebih mencerminkan tekanan ekonomi daripada peningkatan kapasitas produksi. Kota berkembang sebagai ruang konsumsi, tetapi belum sepenuhnya sebagai pusat produksi yang kuat.
Di sinilah letak kerentanan ekonomi Kota Kupang. Ketika pertumbuhan lebih didorong oleh konsumsi daripada produksi, maka fondasi ekonomi menjadi rapuh. Kota sangat bergantung pada pasokan dari luar, sementara kemampuan menghasilkan nilai tambah lokal masih terbatas. Ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan daya tahan jangka panjang.
Masalah tersebut diperparah oleh kualitas infrastruktur yang belum merata. Berbagai dokumen sektoral pemerintah daerah menunjukkan bahwa infrastruktur dasar—mulai dari jalan lingkungan, drainase, hingga permukiman layak huni—masih menghadapi tantangan signifikan. Pembangunan memang berjalan, tetapi belum sepenuhnya bertransformasi menjadi peningkatan kualitas hidup yang merata. Ketimpangan akses terhadap layanan dasar masih menjadi kenyataan di sejumlah wilayah kota.
Akar persoalan ini tidak terlepas dari pola pembangunan yang cenderung reaktif. Kota Kupang berkembang mengikuti arus urbanisasi yang terus meningkat, tanpa diimbangi perencanaan ekonomi jangka panjang yang kuat. Pertumbuhan penduduk tidak selalu diikuti dengan penciptaan lapangan kerja yang memadai. Ekspansi ruang kota tidak selalu diiringi peningkatan kualitas layanan publik. Dalam situasi seperti ini, kota berisiko tumbuh secara fisik, tetapi tertinggal secara struktural.
Paradoks pun tak terhindarkan. Kota Kupang menjadi pusat pertumbuhan sekaligus ruang akumulasi ketimpangan. Ia menarik arus migrasi karena menjanjikan peluang, tetapi tidak selalu mampu menyediakan kesempatan yang cukup. Harapan bertemu dengan keterbatasan, dan tidak sedikit warga yang akhirnya bertahan dalam ekonomi berproduktivitas rendah.
Setelah tiga dekade, Kota Kupang berada pada titik krusial. Melanjutkan pola pembangunan yang sama hanya akan memperpanjang persoalan. Yang dibutuhkan bukan sekadar percepatan pembangunan, tetapi perubahan arah pembangunan.
Pertama, kota ini perlu memperkuat basis ekonomi produktif. Pengembangan sektor industri skala kecil dan menengah, pengolahan hasil lokal, serta penguatan rantai nilai UMKM menjadi kunci untuk menciptakan nilai tambah. Tanpa itu, ekonomi akan terus bertumpu pada perdagangan dan konsumsi semata.
Kedua, penciptaan lapangan kerja harus menjadi prioritas utama. Investasi perlu diarahkan pada sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi, bukan hanya proyek-proyek fisik yang bersifat jangka pendek. Kebijakan ekonomi harus berpihak pada penciptaan pekerjaan yang layak, bukan sekadar aktivitas ekonomi.
Ketiga, pembangunan sumber daya manusia harus dipercepat. Pendidikan dan keterampilan menjadi faktor penentu mobilitas sosial. Tanpa peningkatan kualitas tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi tidak akan berdampak luas.
Keempat, perencanaan kota harus berorientasi pada kesejahteraan. Penyediaan permukiman layak, akses air bersih, transportasi yang memadai, dan lingkungan yang sehat bukanlah pelengkap, melainkan fondasi. Kota yang tidak mampu menjamin kebutuhan dasar warganya tidak bisa disebut berhasil.
Tiga puluh tahun pertama telah menunjukkan bahwa Kota Kupang mampu bertumbuh. Namun tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pertumbuhan itu bermakna. Ukuran keberhasilan tidak lagi cukup dilihat dari ekspansi fisik atau peningkatan aktivitas ekonomi, tetapi dari sejauh mana kesejahteraan dirasakan secara nyata oleh warga.
Pada akhirnya, masa depan Kota Kupang ditentukan oleh pilihan hari ini: tetap menjadi kota yang bertumbuh tanpa transformasi, atau berani menjadi kota yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai pusat pembangunan.
TIM REDAKSI







