Intoleransi Sosial: Penyimpangan Nilai Toleransi dalam Perspektif Pemikiran John Locke dan Dogma Biblis (Matius 22:39)

oleh -863 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Arnold Briand Mite Toly

Dewasa ini sering terdengar kabar mengenai aksi saling serangantar sesama manusia yang berakar dari pelbagai konflik manusia. Perbedaan pandangan, kepentingan dan keyakinan kerap memicu perdebatan hingga pertentangan terbuka. Dalam kondisi ekstrem, konflik tersebut bahkan memotivasi manusia untuk saling meniadakan. Hal ini merupakan suatu fenomena sosial yang lumrah terjadi di mana-mana bahkan sempat terjadi di depan mata kita. Fenomena ini dikenal sebagai intoleransi sosial.

Intoleransi sosial dipahami sebagai tindakan penyimpangan sosial di mana sesama manusia saling bertentangan atas dasar perbedaan atau tidak mau menerima keberagaman. Fenomena ini esensinya merupakan penyimpangan dari gagasan toleransi yang pernah dikemukakan oleh filsuf terkemuka, John Locke sebagai prinsip hidup bersama dalam masyarakat.

Selain itu, fenomena ini juga bertentangan dengan dogma biblis yang menekankan kasih terhadap sesama manusia (bdk. Matius 22:39). Lantas apa yang menjadi hakikat terjadinya praktik intoleransi sosial dan mengapa hal ini kontradiktif dengan perspektif pemikiran John Locke dan dogma biblis mengenai kasih terhadap sesama manusia yang tertera dalam Injil Matius 22:39?. Fenomena ini perlu dikaji lebih jauh agar dapat dipahami penyebabnya sekaligus menemukan kembali nilai toleransi yang mestinya menjadi dasar kehidupan manusia.

Hakikat Terjadinya Intoleransi Sosial

Intoleransi sosial merupakan fenomena sosial yang menyimpang, di mana manusia mengkonstruksi tindakan pertentangan dan perdebatan terhadap sesamanya. Fenomena ini semakin marak terjadi kala manusia melancarkan tindakan tersebut atas dasar keberagaman yang diasumsikan seperti keberagaman agama, politik, budaya, maupun cara berpikir. Hal ini menjelmakan adanya kelemahan dalam diri manusia dalam menerima dan menghargai keberagaman tersebut yang menghambat perkembangan hidup manusia, sebagai makhluk sosial yang membutuhkan eksistensi sesamanya.

Intoleransi sosial lahir dari berbagai faktor, salah satunya adalah rasa ketidakpuasan manusia terhadap realitas yang tidak sinkron dengan keinginannya. Dari problem tersebut muncul sikap fanatisme yang berlebihan, ketidakpuasan terhadap realitas sosial, serta ketidakmampuan manusia dalam menerima dan menghargai keberagaman. Manakala intoleransi terus dipraktikkan dalam kehidupan sosial, hal itu akan membawa dampak yang merugikan bagi manusia seperti relasi yang menjadi renggang, muncul perpecahan, dan berpotensi memicu kekerasan baik verbal maupun fisik.

Intoleransi Sosial VS Pemikiran John Locke dan Dogma Biblis (Matius 22:39)

Intoleransi sosial merupakan fenomena yang sangat kontradiktif dengan pemikiran filsuf terkemuka, John Locke. Dalam karya terkenalnya yang berjudul A Letter Concerning Toleration, John Locke menegaskan bahwa masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang mampu hidup berdampingan dengan sikap toleransi terhadap perbedaan keyakinan dan pendapat. Pernyataan ini sejatinya merupakan hasil dari permenungannya atas praktik intoleransi sosial yang terjadi hampir di seluruh dunia. Maka ia mengunggah pemikirannya yang mengkritik pelbagai wujud penyimpangan dalam kehidupan manusia termasuk intoleransi sosial yang menyebabkan ketidakadilan, diskriminaasi serta mengikis rasa persatuan dan kesatuan manusia sehingga memicu konflik dan perpecahan.

Ia mengajukan sikap toleransi sebagai penanggulangan atas fenomena tersebut dalam karyanya. Sikap toleransi menjadi prinsip fundamental yang mestinya dijunjung tinggi oleh manusia agar kehidupan bersama dapat berlangsung secara harmonis dan damai. Toleransi bukan hanya sekadar sikap sosial melainkan juga merupakan prinsip moral yang wajib dimiliki oleh setiap manusia.

Sikap ini memotivasi manusia guna mengkonstruksi sikap saling menghargai dan menghormati antar sesama manusia kendati terdapat keberagaman di tengahnya. Dengan begitu, toleransi menurut John Locke adalah landasan moral yang mendasari interaksi sosial yang prima bagi manusia. Inilah prioritas pemikiran John Locke yang bertujuan menanamkan kesadaran akan urgennya sikap toleransi pada diri manusia sebagai modal utama dalam mengkontruksi kehidupan sosial yang harmonis dan damai. Di sini toleransi bukan hanya sekadar menjadi konsep filosofis, tetapi juga menjadi tuntunan bagi manusia guna mampu menjalani hidup secara berdampingan di tengah keberagaman.

Oleh sebab itu, pemikiran John Locke tentang toleransi menggerakan manusia guna memahami dan menerapkannya sebagai suatu upaya dalam mengatasi praktik intoleransi sosial yang semakin marak di dunia saat ini.

Selain melalui pemikiran filsafat seperti yang dikemukakan oleh John Locke, nilai toleransi juga ditegaskan dalam dogma biblis dalam Injil Matius 22:39 yang menyatakan bahwa manusia harus mengasihi sesamanya seperti mengasihi dirinya sendiri. Dogma kasih ini ditegaskan oleh Yesus Kristus, Sokoguru Gereja sebagai dasar kehidupan manusia. Melalui dogma tersebut, manusia diajak untuk memahami bahwa kasih, penghormatan, dan penerimaan terhadap sesama manusia merupakan fondasi urgen dalam mengkonstruksi kehidupan sosial yang damai dan harmonis. Dogma ini sejatinya dapat menjadi pegangan bagi manusia yang ingin menyuarakan toleransi kendati harus menghadapi ketegangan hidup akibat praktik intoleransi sosial melanda dunia.

Dengan demikian, perspektif biblis menjadi sarana reflektif bagi manusia guna mendalami makna kehidupan yang tolerantif. Manusia hendaknya saling menerima dan menghormati satu sama lain atau dengan kata lain tidak mendiskriminasi sesamanya. Dari sini sudah jelma benih nilai toleransi. Nilai ini memotivasi manusia guna merekonstruksi pemahamannya sebagai makhluk sosial yang membutuhkan eksistensi sesamanya dalam relasi dan kolaborasi. Hal ini membuktikan bahwasannya dogma biblis tentang kasih juga selalu menyampaikan pengertian akan urgennya toleransi dalam kehidupan sosial manusia.

Kesimpulannya, pemikiran John Locke dan dogma biblis ini senada menyuarakan toleransi antar sesama manusia. Memang masih banyak perspektif pemikiran filsuf dan dogma agama lain yang menekankan toleransi. Namun dalam konsep, kedua perspektif ini diangkat mewakili semuanya itu. Konsep ini termasuk upaya toleransi dalam menerima keberagaman.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.