“Saya Cape, Jadi Orang Miskin” Tangis Wakil Bupati Kupang di Gereja Nonbaun: Ketika Sebuah Jabatan Tak Mampu Membendung Luka Lama.
Nonbaun, Fatulelu Tengah (Jumat, 6/3/2026). Sebuah jabatan adalah perisai. Ia melindungi pemiliknya dari hujan kritik dan panasnya tuntutan. Tapi Jumat siang itu, di Gereja Imanuel Nonbaun, perisai itu runtuh. Wakil Bupati Kupang, Aurum Titu Eki, berdiri di mimbar bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai anak kampung yang lelah menyembunyikan lukanya. Dan ketika ia menangis, air matanya bukan jatuh ke pangkuan, setiap tetesnya seperti pisau yang mengiris hati siapa pun yang mendengar.
Di luar gereja, mentari bersinar secerah seribu janji politik. Jalanan rusak, becek karena hujan semalamam beradu janji seperti biasa di kampung kecil itu. Tapi di dalam Gereja Imanuel Nonbaun, matahari tak mampu menembus duka yang tiba-tiba memenuhi ruangan.
Ratusan warga, kepala desa, dan aparat kecamatan datang untuk Musrenbang, agenda tahunan yang biasanya kering seperti dedaunan kemarau. Mereka datang dengan hati biasa, dengan pikiran yang mungkin melayang pada kebun atau ternak yang ditinggal. Mereka tak tahu bahwa hari itu mereka akan pulang dengan hati yang basah oleh tangis pemimpinnya sendiri.
Wakil Bupati Aurum Titu Eki mengambil mikropon. Tangannya sedikit gemetar. Matanya sayu seperti langit sebelum hujan. “Saya bisa merasakan hal yang sama seperti bapa, mama…” Suaranya parau, seperti radio tua yang mulai kehilangan sinyal. “… karena saya juga merasakan didikan orang kampung.”
Seketika, jarak yang membentang antara pelataran mimbar dan bangku gereja runtuh seperti tembok Yerikho. Ia bukan lagi Wakil Bupati. Ia adalah anak kecil yang dulu berlari tanpa alas kaki di jalan berbatu. Ia adalah remaja yang jajanannya hanya singkong rebus. Ia adalah mahasiswa yang kiriman orang tuanya tak pernah cukup. “Tapi saya bangga akan hal itu,” katanya, meski bibirnya bergetar seperti daun kena angin.
Bangga. Sebuah kata kecil yang dipikulnya seberat gunung. Karena bangga jadi orang kampung berarti bangga pada luka yang membentukmu, tapi luka itu tetap luka, dan kadang, di saat yang tak terduga, ia berdarah lagi.
Satu Kalimat yang Meremukkan Seribu Hati, Lalu datanglah kalimat itu. Sederhana. Pendek. Tapi bobotnya seperti batu granit yang dijatuhkan ke danau yang tenang. “Saya cape jadi orang miskin…” Ruangan membeku. Napas tertahan di seribu kerongkongan.
Aurum menunduk. Tangannya meraih tisu-tisu kecil yang tak mungkin mampu menyerap semua air mata yang tumpah siang itu, apalagi air mata yang selama ini ditahannya diam-diam.
“…karena memang kondisi di daerah semakin susah… dan kita pemerintah mengakui itu.”
Pengakuan. Bukan dari rakyat, tapi dari pemerintah. Kata-kata yang tak pernah kita dengar di televisi. Tak pernah tercetak di spanduk-spanduk kampanye. Seorang pemimpin mengaku bahwa daerahnya sakit, bahwa rakyatnya merintih, dan bahwa ia tak bisa tidur nyenyak karena memikul semuanya.
Seorang mama di bangku depan menangis. Di sebelahnya, seorang bapak tua menggenggam erat topi lusuhnya, bibirnya komat-kamit berdoa. Mungkin ia berdoa untuk kampungnya. Mungkin ia berdoa untuk pemimpin yang menangis di depannya. Mungkin ia berdoa untuk dirinya sendiri, yang juga capek jadi orang miskin.
Setelah air mata sedikit reda, Aurum mencoba tersenyum. Senyum pahit yang lebih mirip perih yang dipaksakan. “Tapi itu bukan alasan untuk kita menyerah.” Ia memberitahu bahwa Bupati sedang di Jakarta. Sedang berjuang. Sedang menjadi teriakan yang sama bagi pemerintah pusat.
“Apa yang kita teriak di sini, ‘pemerintah tidak peduli kami, pemerintah tidak lihat kami, pemerintah tidak tolong kami’, apa yang kita minta TUHAN tahu.” Ia percaya ada telinga yang tak pernah tidur.
“Kami juga sama seperti kita semua bapa mama di sini,” suaranya pecah lagi. ” Saya Punya orang tua semua . Kita punya anak-anak juga di sini yang hidup susah. Kami juga melakukan hal kepada pemerintah pusat. Kami mohon jalan keluar.”
Di sini, di gereja kecil ini, batas antara pemimpin dan rakyat telah kabur seperti embus napas di kaca dingin. Mereka sama. Sama-sama orang tua yang risau memikirkan anak. Sama-sama anak yang risau memikirkan orang tua. Sama-sama manusia yang risau memikirkan hari esok.
“Kami juga dilema sebagai orang tua untuk satu Kabupaten Kupang.” Ia menghela napas. Napas panjang yang seolah mengeluarkan separuh beban dari dadanya, tapi separuh sisanya masih mengendap di sana, menggunung.
“Ada hal-hal sebagai pemerintah agar kita yang bangun,” katanya, air mata masih mengalir seperti hujan yang tak kunjung reda. “Namun ada hal-hal yang bisa kita kerja secara gotong royong.” Ia tak memerintah. Ia mengajak. Ia tak menuntut. Ia merangkul.
“Masalah isi perut kita sama-sama bangun pertanian, kita mau coba.” Kita mau coba. Tiga kata yang lebih jujur dari seribu janji manis. Karena coba berarti tak ada jaminan. Coba berarti bisa gagal. Coba berarti mereka akan berjuang bersama, dan jika jatuh, mereka akan jatuh bersama, lalu bangun bersama lagi.
Menjelang akhir, ketika suaranya hampir habis dan air matanya sudah seperti sungai yang meluap, Aurum Titu Eki mengucapkan kalimat yang akan terus bergema di gereja itu, mungkin hingga generasi berikutnya.
“Bapa.. mama..Jangan maki kami, tapi tolong doakan kami.”
Kalimat itu lembut seperti kapas, tapi kekuatannya seperti badai. Ia tak meminta maaf karena tak ada yang salah. Ia tak membela diri karena tak ada yang dituduh. Ia hanya meminta satu hal yang bisa diberikan siapa pun secara cuma-cuma: doa.
Seorang ibu muda di bangku belakang memeluk erat anaknya. Seorang bapak tua menunduk dalam-dalam, pundaknya bergetar. Di sudut ruangan, seorang pemuda mengusap matanya dengan lengan bajunya, malu-malu. Mereka tak akan memaki. Bagaimana mungkin memaki orang yang menangis di depan kita, mengaku lelah, dan hanya meminta doa?
Saat Aurum Titu Eki turun dari mimbar, ia berjalan seperti orang yang baru selesai memikul salib. Wajahnya basah. Langkahnya gontai. Beberapa warga menghampiri, bukan untuk bersalaman atau minta foto, tapi hanya untuk menyentuh tangannya sebentar, seolah ingin berkata: Kami lihat, Kami dengar. Kami doakan.
Di luar, matahari masih terik. Anak-anak mungkin masih bermain dengan ban bekas di pinggir jalan. Kemiskinan masih berdiam di kampung ini, seperti puluhan tahun lalu, seperti kemarin, seperti hari ini.
Kemiskinan tak lagi sendiri. Karena ada pemimpin yang rela menangis di pelukan rakyatnya. Ada pemimpin yang tak takut mengaku letih. Ada pemimpin yang di balik jas dan dasinya, menyimpan hati seorang anak kampung yang tak pernah benar-benar pergi.
Tuhan, kuatkan anak kampung ini. Ia sedang berusaha sekuat tenaga. Jika tangisnya bisa menjadi pupuk, jadikanlah ladang ini subur. Jika lukanya bisa menjadi air, siramilah tanah kering ini. Dan jika cintanya cukup besar, tolong bagikan pada semua anak kampung yang masih menunggu giliran untuk tersenyum.
Karena hari itu, Desa Nonbaun bukan hanya saksi Musrenbang. Desa Nonbaun adalah saksi bahwa kadang, cara terkuat untuk memimpin adalah dengan menangis. Dan cara terbesar untuk melayani adalah dengan mengaku: “Aku juga manusia.”
Di ujung tangisnya, ada harapan yang mulai tumbuh. Kecil, mungkin. Rapuh, pasti. Tapi cukup untuk percaya bahwa esok, meski berat, layak diperjuangkan. Bersama dalam doa, dalam gotong royong, dalam air mata yang menjadi benih.
Oleh: Roni Bone (Repoter LPPL RSKK 100,8 FM)







