Oleh: Jemianus Rubu
Manusia dewasa ini kian melebur dan semakin menggila dalam mekanisme kehidupan modern yang menuntut kuantitas sekaligus kualitas secara bersamaan. Nyatanya kita hidup dalam sistem yang terus bergerak maju dengan sangat cepat, di mana ukuran keberhasilan sering kali ditabulasi dalam angka-angka: produktivitas, capaian, kecepatan, dan efisiensi. Dalam arus besar semacam ini, manusia seperti terseret ke dalam dunia anonim—hadir, tetapi tidak sungguh-sungguh hadir sebagai pribadi yang utuh.
Apa yang dahulu dianggap amoral kini mengalami proses generalisasi yang membuatnya tampak biasa. Tendensi masyarakat modern menunjukkan bahwa ukuran benar dan salah semakin sering ditentukan oleh fungsi dan manfaat praktis. Rasionalitas instrumental mengambil alih pertimbangan etis yang dulu lebih reflektif. Dalam situasi ini, manusia perlahan mulai berasimilasi dengan sistem yang ia ciptakan sendiri.
Efisiensi menjadi mantra utama. Ia bukan sekadar metode kerja, melainkan telah memperoleh legitimasi sebagai nilai tertinggi. Akibatnya, manusia mulai menganalisis hidupnya bukan dari makna, melainkan dari output. Kita mengidentifikasi diri melalui sebuah pencapaian yang terukur, bukan lagi melalui kedalaman pengalaman batin. Di titik inilah, benih krisis jati diri mulai tumbuh.
Teknologi dan Ekologinya Sendiri
Teknologi modern sekarang seolah memiliki ekologinya sendiri dalam artian sebagai sebuah lingkungan otonom yang terus berkembang dengan logika internalnya. Ia tidak lagi sekadar alat bantu manusia, melainkan lebih kepada sebuah sistem yang menuntut adaptasi manusia agar tetap relevan di dalamnya. Teknologi memang telah memperkaya manusia secara material dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru yang dahulu tak terbayangkan. Namun, transformasi ini juga mengubah manusia secara radikal.
Dalam banyak aspek kehidupan, dapat dilihat bahwa saat ini manusia justru semakin terkontaminasi oleh cara kerja teknologi: serba cepat, terukur, dan minim jeda refleksi. Rasionalitas teknologis merembes ke dalam ruang-ruang yang sebelumnya bersifat manusiawi—relasi sosial, pendidikan, bahkan ekspresi emosional. Kita menyaksikannya sendiri bagaimana interaksi yang dulu hangat kini sering dimediasi oleh layar, bagaimana perhatian dipadatkan menjadi sebuah notifikasi.
Dari fenomena ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai biokrasi halus: tata kelola kehidupan yang diatur oleh logika sistem biologis-teknologis yang menuntut optimalisasi terus-menerus. Manusia didorong untuk selalu “lebih”: lebih cepat, lebih efisien, lebih produktif. Namun dalam dorongan itu, muncul represi terhadap dimensi-dimensi manusiawi yang tidak mudah diukur—kontemplasi, keheningan, dan kedalaman rasa.
Teknologi, dalam arti tertentu, memang memperluas kemampuan manusia. Tetapi tanpa kesadaran kritis, perluasan itu berubah menjadi penggantian: manusia tidak lagi mengendalikan alat, melainkan menyesuaikan diri pada ritme alat.
Inversi Relasi Manusia–Mesin
Analogi klasik melihat hubungan manusia dan mesin seperti relasi tubuh dan jiwa: manusia adalah jiwa yang memberi arah, sedangkan mesin hanyalah tubuh yang menjalankan perintah. Dalam kerangka ini, teknologi seharusnya menjadi perpanjangan kehendak manusia (J. Inocencio Menezes, 1986: 46). Fenomena ini menunjukkan inversi relasi manusia-mesin, di mana mesin justru mendominasi manusia.
Namun realitas kontemporer menunjukkan gejala sebaliknya. Dalam banyak situasi, manusia justru bertindak sebagai “tubuh” yang mengikuti logika “jiwa” bernama sistem teknologi. Jadwal kerja ditentukan algoritma, preferensi dibentuk rekomendasi mesin, bahkan perhatian kita diarahkan oleh desain platform digital.
Di sini terjadi pembalikan apriori tentang siapa yang mengendalikan siapa. Manusia semakin jarang berhenti untuk merefleksikan keberadaannya sendiri. Ia terus bergerak dalam siklus kerja–konsumsi–produksi tanpa jeda eksistensial. Hidup menjadi rangkaian fungsi yang berjalan otomatis. Proses ini sering disertai mekanisme kompensasi psikologis.
Ketika manusia merasa kehilangan makna, ia mencari pelarian instan: hiburan cepat, distraksi digital, atau aktivitas yang memberi sensasi sementara. Namun kompensasi semacam ini jarang menyentuh akar persoalan. Ia hanya menunda kesadaran akan kekosongan yang perlahan mengendap.
Jika dibiarkan, integrasi manusia dengan sistem mekanistik bisa berubah menjadi penyeragaman pengalaman hidup. Ekspresi personal menyempit, digantikan pola-pola yang dapat diprediksi.
Refleksi Kritis J. M. Lahy Atas Erosi Kesadaran Diri
Jean Maurice Lahy, merupakan psikolog dan pemikir sosial asal Prancis—menegaskan bahwa manusia modern semakin terjebak dalam kesibukan hingga kehilangan ruang untuk menyadari keberadaan dirinya sendiri (Lahy, Le Systeme Tayor, 1916: 21). Lahy banyak meneliti hubungan antara ritme kerja industri dan kondisi psikis manusia. Dalam analisisnya, percepatan kerja modern cenderung menggerus ruang refleksi yang dibutuhkan manusia untuk memahami dirinya.
Tentu pandangan Lahy masih sangat relevan sampai hari ini. Ketika kehidupan ditata oleh jadwal padat dan target berlapis, kesadaran diri menjadi kemewahan yang jarang diupayakan. Manusia sibuk merealisasikan tuntutan eksternal, tetapi jarang merealisasikan diri dalam arti eksistensial. Tanpa sebuah ruang refleksi, manusia mudah terjebak dalam ilusi kemajuan. Ia merasa bergerak maju karena indikator kuantitatif meningkat, padahal secara batin mungkin mengalami stagnasi.
Di sinilah pentingnya pendekatan edukatif yang tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga mengembangkan kesadaran kritis.
Intervensi pendidikan yang bersifat humanistik perlu diperkuat agar manusia tidak sepenuhnya larut dalam arus mekanistik. Pendidikan semestinya membantu individu menganalisis hidupnya sendiri, mengidentifikasi nilai yang benar-benar bermakna, dan menjaga keseimbangan antara efisiensi dan kemanusiaan.
Antara Manusia Real dan Manusia Ideal
Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: apakah manusia yang kita lihat hari ini masih merupakan manusia real, atau hanya manusia ideal yang hidup dalam abstraksi sistem? Banyak orang lebih cenderung berlari—secara harfiah maupun metaforis—karena merasa itulah jalan keluar spontan yang tersedia. Aktivitas tanpa henti memberi ilusi kemajuan, sekaligus menunda perjumpaan dengan kegelisahan batin.
Tanpa harapan yang reflektif, manusia berisiko lahir kembali ke dalam dunia ilusi dan alam tak sadar. Ia hidup aktif secara lahiriah, tetapi pasif secara eksistensial. Dalam kondisi ini, represi terhadap pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang makna hidup semakin kuat.
Namun situasi ini bukan tanpa kemungkinan pemulihan. Kesadaran kritis masih dapat dibangun melalui integrasi antara rasionalitas dan refleksi humanistik. Efisiensi tetap penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran nilai. Teknologi tetap berguna, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka yang menjaga martabat manusia.
Upaya dalam merealisasikan diri sangat menuntut suatu keberanian untuk berhenti sejenak dari arus otomatis. Ia membutuhkan kemampuan untuk melihat kembali—menganalisis pengalaman, mengidentifikasi kecenderungan hidup, dan menata ulang prioritas. Dengan demikian, adaptasi terhadap dunia modern tidak berarti kehilangan esensi.
Pada akhirnya, tantangan terbesar manusia kontemporer bukanlah kekurangan teknologi, melainkan kurangannya kesadaran. Jika manusia mampu menjaga ruang refleksi di tengah tuntutan efisiensi, maka teknologi dapat tetap menjadi mitra, bukan penguasa. Dan di situlah harapan bagi manusia untuk kembali hadir—bukan sekadar sebagai fungsi dalam sistem, melainkan sebagai pribadi yang utuh dan sadar akan dirinya sendiri.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang







