Menyingkap Syirik dan Dunia Perdukunan

oleh -1079 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Mu’min Roup

Masih sering menjadi pertanyaan dalam literatur Islam, mengapa dosa syirik sebegitu besarnya, sehingga dapat menghapus amal-amal baik yang dilakukan para penganut agama di muka bumi ini? Hal yang perlu saya jelaskan, bahwa perbuatan syirik itu bukan saja membohongi manusia, tetapi juga membohongi dan membelakangi wujud dan hakikat Tuhan yang ada dalam dirinya.

Dosa syirik adalah pangkal dari segala dosa dan kesalahan, bahkan ia lebih besar ketimbang dosa membunuh, mencuri maupun berzina. Dalam logika dan rumusan sederhana: jika korupsi trilyunan saja dia berani, apalagi hanya korupsi berskala milyaran. Jika membunuh Hakim Agung saja dia berani, apalagi membunuh dan mengorupsi uang rakyat jelata.

Jadi, tak bisa dipakai dengan logika terbalik, karena seorang yang maling ayam atau jemuran, belum tentu dia berani melakukan yang lebih besar dari itu. Tetapi, seorang musyrik, dia memiliki kecenderungan kuat untuk selalu “bermain” di belakang layar. Tanpa menghiraukan bahwa Allah sangat menyaksikan segala perbuatan dan kelakuannya di setiap menit dan detik.

Bermain di belakang layar, konsekuensinya dia gemar memanfaatkan “orang ketiga” dalam melancarkan aksi kejahatannya. Entah itu membunuh musuh atau lawan politiknya, entah itu mencuri atau korupsi. Bahkan, untuk memperdaya seorang wanita dan menzinahinya, tak lepas pula dari ilmu-ilmu hitam (mistik) yang dipelajari dan digelutinya.

Kita ambil contoh yang sederhana. Ketika si Musyrik merasa dendam dan dengki pada seseorang lantaran dulunya merasa dilukai atau tersakiti, maka amarah dan dendam itu seakan menempel dan permanen dalam sanubarinya. Misalnya, si Polan mengalami kecelakaan dan mobilnya menabrak pohon besar. Lalu, dia sibuk mencari-cari penyebab yang menimbulkan dirinya mengalami kecelakaan. Dia pergi ke Dukun A, yang mengatakan bahwa dia celaka karena ulah si Fulan yang telah mengutuk dan mengerjainya. Selain itu, dia datang lagi ke Dukun B yang juga menyatakan, akibat diguna-guna oleh seseorang, hingga mengakibatkan mobilnya mengalami kecelakaan. Kedua dukun yang memiliki kesimpulan yang sama itulah, yang membuat kedengkian si Polan merasa beralasan untuk membalas dendam pada si Fulan.

Dengan begitu, pikiran dan perasaan si Polan selalu terfokus untuk membalas dendam pada si Fulan, apa pun alasannya. Dia tak mau berpikir rasional, bahwa ia mengalami tabrakan lantaran ngantuk, lelah, atau bahkan teledor. Dan dia tak mau berpikir religius, bahwa apa yang dialaminya lantaran Allah mengizinkan terjadinya peristiwa itu menimpa dirinya. Pokoknya, yang dia persalahkan tetap si Fulan (outword looking), karena merasa yakin dengan “penemuan” kedua orang dukun yang pernah dikunjunginya.

Si Polan musyrik itu selalu pikirannya buntu, sulit berkembang, karena dalam penilaiannya segala hal menjadi paten dan permanen. Tak ada konsep manusia yang hidupnya terus “berproses”. Pintu ijtihad baginya sudah tertutup. “Jika dulunya, orang itu maling dan pemabuk, maka sampai kapan pun dia akan menjadi pencuri dan pemadat,” begitu dia berdalih. Dia juga gemar mencaci-maki, bahkan melecehkan dan memprovokasi orang yang tidak sefaham dengannya.

Biasanya, orang musyrik itu hanya mau berteman dengan orang-orang yang sefrekuensi dengannya, yang juga sama-sama pencinta dunia, juga pengunjung para dukun (orang pintar). Mengetahui ilmu-ilmu gaib adalah pantangan bagi orang lain, tidak bagi dirinya. Karenanya, orang musyrik itu bakhil dalam soal ilmu, karena ia merasa memiliki rahasia tersendiri yang tak berhak didapat oleh orang lain. Jika pun dia menjadi sukses dan berprestasi, ia akan merasa kesal dan jengkel jika prestasi itu diserupai orang lain. Rahasia perusahaan akan dijaga ketat olehnya, dan oleh mereka yang sefrekuensi dengannya. Perusahaan lain yang memproduksi barang dan jasa yang sama, akan selalu dianggap rival dan pesaingnya, begitu pun di dunia perdagangan, bahkan dunia pesantren sekali pun.

Kini, di era milenial ini, si Fulan yang dulu pernah mengguna-gunainya, hingga ia mengalami kecelakaan, telah mendapat hidayah dari Allah. Ia telah sadar dan tidak main dukun lagi. Ia banyak belajar tauhid dari acara-acara keagamaan yang tersiar begitu menawan, juga sikap dermawannya terus meningkat. Pemahaman agamanya dari tingkat syariat, terus berkembang dan meningkat pada tataran hakikat dan makrifat.

Sementara itu, si Polan tetap saja menyimpan dendam kesumat. Melihat tetangga kiri punya motor, ia harus punya yang lebih bermerek lagi. Melihat tetangga kanan beli mobil, ia harus mati-matian mengkredit yang lebih bagus lagi. Celakanya, ketika si Fulan bawa mobil mewah, ia harus membanting-tulang untuk memiliki yang lebih mewah lagi. Padahal, si Fulan hanya memakai mobil pinjaman dari kantornya.

Celakanya, ketika kantornya Fulan memberi bantuan dana pembangunan masjid sebesar 100 juta (atas nama Fulan). Kontan si Polan harus mengutang sana-sini agar dapat menyumbang 200 juta, supaya segera tersiar melalui toa pengeras suara. Giliran toa mengumumkan nama-nama penyumbang, pas ketika nama Polan dibacakan, tiba-tiba listrik mati seketika. Tambah stres dan kelimpungan saja dia.

Dendam kesumat terus menjelma sebagai nafsul ammarah yang terbawa sampai ke liang lahat, sementara Fulan terus meningkatkan kualitas hidupnya yang tenang dan damai, hingga mendapat doa dan barokah dari banyak orang lantaran kebaikan dan murah senyumnya. Sampai kemudian, di hari tuanya, Fulan dapat mengakhiri hidupnya dengan bekal nafsul muthma’innah, berpulang ke rahmatullah dengan ridho dan diridhoi oleh-Nya. (*)

Penulis adalah Peneliti dan dosen di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, juga aktif menulis esai dan prosa di berbagai media luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.