Merawat Hidup di Tengah Absurditas: Refleksi Tragedi Ngada

oleh -1013 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Theodorus Charel Baz

Belenggu yang berakar dari persoalan privat menuju ketiadaan menandai lahirnya fenomena bunuh diri. Siapa tak sangka, kehidupan di dunia bagi anak seusia kelas empat sekolah dasar (SD) akan berakhir dengan ratapan ingin dibelikan sebuah buku dan sebatang pena oleh si Ibu. Propaganda akan penanaman edukasi mental dari sudut pandang psikologi dan sendi sosial-ekonomi semakin disoroti. Tolak ukurnya mengetahui kejanggalan di balik tragedi untuk membuka semua selubung yang terkait, dari kedalaman persfektif kehidupan yang terpusat pada kaum marginal.

Kurangnya perhatian bagi lapisan sosial demikian, memicu problem serius bahkan nyawa taruhannya. Sebab orientasi kaum marginal juga terhimpun pada kelayakan, supaya terlepas dari keprihatinan ekonomi yang minim. Beban berskala pun ikut andil didalamnya mereduksi pemahaman tiada henti mencari jalan keluar demi menjawabi hal dasariah, sehingga apabila tidak terjawabi maka langkah sejati mencari kebebasan yang melepas penderitaan.

Tragedi ini bukan hanya peristiwa individual, tetapi cermin kegelisahan sosial yang lebih luas. Dimana yang direkam bukan hanya validitas angka tragedi bunuh diri dari kasus-kasus terdahulu yang semakin meroket, tetapi bundelan nilai sosial yang semakin terkikis karena hilangnya perhatian kepada masyarakat minor. Begitu banyak keluhan sering bergejala di lingkup tempat bermukim, tapi perhatian masih saja masif bahkan tak menyentuh keadaan hidup.

Pertanyaannya, apa yang sedang terjadi dengan merka?, haruskah usaha yang ekstra demi perbaikan ekonomi tercemin ataukah makna hidup yang belum ditemui sehingga hidup terasa absurd. Dengan demikian, menelisik dari prinsip absurd dalam terang Albet Camus terkait makna hidup menjadi pilihan tepat guna membangun keperhatinan pada jiwa yang menderita dari kacamata tragedi bunuh diri di Ngada.

Menutur Camus hidup disebut absurd ketika manusia mencari makna, tetapi dunia terasa sunyi dan tidak menjawab. Seluruh pemikirannya terpusat pada gagasan seputar absurd. Kita, manusia selalu punya iming-iming untuk mencari makna dalam segala hal. Ketika berhadapan dengan situasi dimana makna tampaknya tak dapat diindrai, kita sering berusaha menciptakannya, bahkan memandang hidup sebagai teka-teki yang tidak mempunyai jawaban pasti.

Menariknya Camus tidak terlalu condong melihat makna sebagai hal negatif. Bahwasannya memahami hidup ini absurd adalah langkah awal untuk benar-benar menjalani hidup. Keraguan dalam diri perlu tetapi jangan sampai menjadi pedoman untuk bertindak ekstrim. Tentu tak mudah namun itu adalah keharusan yang bisa melahirkan tanggap positif agar terhindar dari segala bahaya dalam diri.

Camus mengatakan bahwa bunuh diri tidak memberi solusi terbaik, karena kematian tidak memiliki makna yang lebih dalam dari pada hidup itu sendiri. Mencari jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaan seputar makna hidup adalah tugas yang mustahil, dan setiap upaya untuk memberi makna pada dunia hanya akan berakhir dengan kehancuran, karena akhirnya, apa pun makna yang kita ciptakan akan menjadi kosong.

Camus medalami absurdisme dalam menetapkan apakah bunuh diri merupakan respons yang diperlukan dunia yang tampaknya bungkam terhadap pencarian makna dan tujuan dunia. Baginya, bunuh diri adalah penolakan akan kebebasan dengan membandingkan bahwa meninggalkan absurditas realitas ke dalam ilusi, maupun kematian bukanlah jalan keluar. Jika yang absurd mencapai titik pemenuhan maka kehampaaan beralih menjadi kepenuhan dan tidak akan berpangku nasib buruk.

Absurd dan Realitas Ngada NTT

Mengulas hidup absurd sudah pasti terhubung dengan realitas Ngada/NTT bahwasannya basis dari makna hidup telah tercabut dari kurangnya perhatian dari dua sektor penting mental dan ekonomi. Pukulan hebat akhirnya semakin dirasakan dalam formasi keluarga-keluarga di tengah harapan akan pemulihan segera datang. Titik persoalan pun berada pada: Tekanan ekonomi dimana besarnya kebutuhan tidak relatif dengan pendapatan akibatnya sebagian kebutuhan tidak terjawabi karena balik lagi ke slogan uud (ujung-ujung doi), dan tampak dalam diri almarhum saat ingin dibelikan alat tulis.

Keterasingan sosial, dalam hubungan keakraban ada begitu banyak velue yang kadang kala diukur misalnya latar belakang yang diukur, mungkin saja bunuh diri bagi alamrhum langkah terakhir guna terlepas dari hujatan yang membenamkan jurang. Minimnya ruang curhat atau layanan kesehatan mental, psikologi menjadi penjaminan bagi setiap orang, dukungan terbaik adalah pendampingan dari keluarga, peristiwa Ngada bisa termasyur dari cerita tentang almarhum tidak memiliki figur ayah. Budaya diam terhadap masalah pribadi memicu lahirnya tindakan bunuh diri seperti kisah pohon cengkeh waktu lalu.

Hidup Absurd bisa muncul dari kesepian dan hilangnya makna dalam kehidupan sehari-hari. Kehendaknya tidak terlalu mencari makna hidup yang berlebihan. Menurut Camus ketika selalu mencari dan mencari segala sesuatu demi pemenuhan makna hidup, dan gagal maka kekecewaan akan gampang hadir sekaligus membawa orang tiba di dermaga kehancuran, jalannya ya adalah bunuh diri. Ulasan lain yakni kesepihan yang membawa efek buruk terhadap kejiwaan mungkin saja ekspresi jiwa yang tidak terlatih dan merindukan hadirnya orang terdekat dalam hidup. Inilah rumusan hidup absurd dengan perbandingan realitas Ngada sebagi basisnya.

Respon terhadap hidup absurd sebernanya menurut Camus bukanlah bunuh diri melainkan: Bertahan hidup, cara ini menandakan bahwa segala problem pasti akan ada jalan keluar untuk mengatasinya tak perlu melakuan hal ekstrim cukup berbenah diri dan melihat apa yang harus di kejar, bila hari ini belum berhasil pasti esok masih ada kesempatan. Memberontak dengan terus hidup, sekalipun dunia mengecam diri dengan begitu banyak persoalan yang harus dilalui menyerah dan pasrah bukanlah jalan keluar sebab tidak akan manjur bila permintaan ditukar ratapan karena kehilangan apalagi nyawa habis oleh keinginan yang belum terpenuhi entah siapa yang harus bertanggung jawab keluarga ataukah aparat pemerintah.

Menciptakan makna sendiri, dalam hidup selalu ada pikiran yang mampu menumbuhkan hal-hal baru dalam kondisi situasional hal ini berarti memulai rutinitas harian jauh lebih tepat ketimbang mengekang keinginan, terus berusaha menjadi kuncinya. Solidaritas dengan sesama, perhatian pada sesama sebagai social being sangatlah penting karena di luar sana begitu banyak penderitaan melingkupi mereka yang di tindas beban hidup sementara kesetaraan tidak sama sekali dirasakan.

Merawat hidup adalah bentuk perlawanan terhadap tindakan bunuh diri yang sangat efektif bagi keberlangsungan hidup saat ini, pasalnya gejala sosial saat ini berkisar pada kematian sebelum waktu dengan cara tergantung, salah satu alasanya karena beban sosial-ekonomi. Menjaga diri sepenuhnya sangatlah dibutuhkan dengan menghargai hak hidup walau dalam situasi genting sekalipun karena tubuh mahal harganya, bukan sekedar fisik belaka tetapi anugerah sekaligus rahmat Allah yang memberi untuk belajar di dunia dan menyiapkan bekal bagi kehidupan selanjutnya ketika waktuNya telah tiba. Tak akan ada kesempurnaan yang didapat bila sebelum waktuNya memilih untuk kembali.

“Bergerak dari peran berbagai sektor itu juga penting!”

Menimbang segala problem terutama isu sosial terhadap tidakan bunuh diri di Ngada solusi terbaik menutut peran berbagai sektor dimulai dari: keluarga, seperti hakikatnya fondasi prima bagi hidup setiap orang basisnya keluarga sebagaimana tempat awal mengenal kehidupan karena itu perlu membuka ruang dialog dalam keluarga mungkin saja dengan kesempatan ini anak dapat menyampaikan keluhannya dan orang tua dapa menyampaikan sarannya guna membangun bukan mengkritik ataupun sebaliknya di situ kehadiran mediasi keluarga menganut dan selaga problem pasti menemui solusinya. Gereja, pembinaan rohani yang menyentuh dari para aparat gereja sangat dibutuhkan misalnya katekese soal kehidupan seutuhnya selaras ajaran gereja dan tindakan nyata misalnya pembagian sembako bagi mereka yang membutuhkan. Pemerintah, kesejahteraan sosial hendaknya tidak sekedar wacana belaka namun harus sampai pada sasaran supaya bantuan sosial merata hinggah ke pelosok daerah terutama tepat sasaran bagi mereka yang sengat membutuhkan.

Komunitas adat, dengan wawasan kebudayaan yang baik perlu mensosialisasi kepada masyarakat bahwa kehidupan itu penting jika melanggar hak hidup menentang budaya leluhur. Sekolah, wadah pendidikan terbaik bukan saja kognitif yang harus ditumbuh kembangkan melainkan pendidikan kesehatan mental dimana pembelajaran bimbingan koseling bukan sekedar mengulas teori-teori tetapi menyentuh tindakan sekaligus pendampingan oleh guru bagi anak usia sekolah, sebab penting bagi perkembangan mental.

Masyarakat, lingkungan tempat tinggal juga mempunyai super power bagi kelangsungan hidup setiap orang, yang perlu dilakukan ialah solidaritas sosial dalam bentuk kepedulian terhadap sesama, sudah semestinya bila tetangga mengalami kesusahan wajib untuk membantu bukan menghakimi orang yang sedang terpuruk dengan hujatan sebab akan ada waktunya kalian juga diperhadapkan di titik yang sama.

Dengan demikian tragedi sejatinya bukan hanya persoalan individu semata melaikan persoalan bersama untuk mengevaluasi kembali apa yang sudah dijalani sehari-hari. Terbuka pada orangtua, keluarga, teman sahabat, kenalan, guru, imam, Ketua RT, Ketua KUB, Pembimbing Sekami, hematnya orang lain menjadi jaminan sosial bagi identitas hidup setiap orang. Persoalan biasanya datang karena lemahnya keterbukaan pada sesama sehingga redaksi dari pendamlah yang memutuskan untuk mengakihiri hidup karena merasa tidak berguna.

Hidup memang absurd, tetapi tetap layak bila diperjuangkan sebaik mungkin tanpa lelah atau pun menyerah dengan segala sesuatu, karena memendam setiap persoalan pribadi dalam diri sendiri dan tak mampu berbagi adalah duri yang senantiasa menusuk secara perlahan-lahan. Di tengah sunyi, manusia masih bisa saling menjadi makna melalui kedekatan guna saling merasakan apa yang dirinya atau orang lain rasakan.

Tragedi Ngada jangan hanya disesali, tapi menjadi panggilan untuk peduli. Peduli akan apa? akan jiwa yang meringis karena kelaparan, tangisan akan kebutuhan individu dan doa para pelayan, keserakahan hidup yang membendung kesejateraan bagi marginal, rangkulan tokoh budaya membina warisan moral, terlebih kepekaan akan perhatian dan kasih sayang dalam keluarga yang mendukung mental. Mungkin kisah pohon cengkeh hendak bersuara bagi segenap sektor kehidupan supaya menyulam segala persoalan dari kedalaman jiwa agar berbela rasa tumbuh dan memberi sumbangsi pada mereka yang mengalami gejolak hidup seperti demikian.

“Mari merawat hidup dengan memahami setiap persoalan yang dihadapi dan mencari jalan keluar sebagai solusi terbaik.”

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.