Matinya Rasionalitas Homo Faber: Refleksi atas Bencana Sumatera

oleh -949 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Hyerond Ndaing

Perkembangan peradaban dewasa ini menuntut manusia untuk mencari sumber alam yang menopang kehidupannya. Sebagai manusia yang bekerja atau homo faber, ia dituntut untuk bekerja bukan semata untuk mengumpulkan apa yang menjadi kebutuhan fisik semata, namun kebutuhan spiritual. Dalam pengembangan demikian, rasio menjadi salah satu hal utama dalam mewujudkan dimensi kemanusiaannya sebagai makhluk berakal budi.

Kesatuan antara kerja fisik dan kerja akal budi, menjadikan manusia semakin sadar bahwa ketika ia bekerja, hal itu bukan semata untuk kepentingan dirinya secara individu, melainkan juga untuk kepentingan sosial. Artinya dalam setiap pekerjaan entah itu untuk kebutuhan hidup sehari-hari atau untuk kebutuhan jangka panjang, sejatinya sebagai makhluk berakal budi dan juga sosial, setiap tindakannya selalu mempertimbangkan konsekuensi bagi diri sendiri, orang lain dan juga orang lain di masa depan. Dengan itu sesungguhnya secara tegas telah membedakan kerja manusia dan juga kerja hewan.

Kerja Manusia vs Kerja Hewan

Kerja dapat dikatakan sebagai suatu hal yang menjadi ciri khas bagi manusia. maka yang menjadi persoalannya ialah apa kekhasan kerja manusia dibandingkan dengan kerja binatang? Perlu ditegaskan bahwa dalam tataran biologis kerja manusia dan kerja hewan itu sama. Misalnya kerbau membajak sawah ataupun semut mengumpulkan makanannya juga termasuk kerja fisik. Akan tetapi dalam tataran intelektif, kerja manusia dengan kerja binatang itu sangat berbeda. Sehingga yang menjadi perbedaan mendasar antara kerja manusia dan hewan terletak pada penggunaan daya nalar atau daya intelektual. Maka secara ringkas perbedaan antara kerja manusia dan hewan ini terbagi dalam empat bagian.

Pertama, berkaitan dengan jenis energi yang digunakan. Hewan hanya bisa menggunakan energi biofisik. Artinya hewan di sini hanya menggunakan fisik secara biologis dalam melakukan sesuatu. Atau pun mungkin dengan psikis, namun energi yang digunakan relatif sedikit atau masih berada pada taraf yang sangat primitif. Berbeda dengan manusia yang memilikinya dan mampu mengerahkan energi psikisnya dalam tataran yang besar dan juga mampu mengerahkan energi spiritualnya.

Kedua, berkaitan dengan hasil kerja. Hewan juga bekerja seperti manusia, namun hasil kerja yang dilakukannya hanya untuk pertahanan diri atau self-survival dan spesiesnya berupa gerak, pemenuhan kebutuhan makan dan minum, menghasilkan keturunan dan membuat tempat berteduh. Maka kerja hewan di sini hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Sedangkan kerja bagi manusia merupakan suatu sarana yang lebih dari sekedar kebutuhan biologis semata, melainkan ia juga bekerja untuk kebutuhan psikis, dan lebih tinggi dari pada itu ialah untuk suatu kebutuhan spiritual. Sehingga dalam peradaban manusia mampu menabung, mengumpulkan dan memikirkan masa depan.

Ketiga, dorongan kerja. Pada hewan dorongan kerja itu berasal dari naluri. Dorongan ini terdapat pada hewan secara alamiah, bagaikan suatu kehidupan yang berfungsi secara otomatis. Sehingga naluri ini yang kemudian mendorong hewan untuk beraktifitas dengan sendirinya. Tetapi tidak dengan manusia. Bekerja merupakan aktifitas yang bebas, sebab dalam kerja, manusia yang menentukan dirinya sendiri. Hal itu ditandai dengan ia bekerja meskipun ia sendiri tidak merasakan kebutuhan secara langsung. Dalam bekerjapun manusia tidak didorong oleh satu motif tunggal, melainkan dari beragam motif yang kompleks. Ia juga mempunyai pilihan-pilihannya sendiri untuk menggunakan alat dalam bekerja.

Keempat, mengenai makna kerja. Manusia seringkali memberikan suatu makna terhadap apa yang dikerjakan dan juga terhadap kinerja kerjanya. Sedangkan binatang tidak memilikinya. Kapasitas memberi makna ini diamati dari suatu fenomena bahwa kemampuan manusia secara kualitatif lebih tinggi dari hewan. Sehingga di sini berkat kemampuan yang ia miliki dan didorong dengan akal budinya, maka pemaknaan kerja dalam arti yang luas ialah sebagai elemen mendasar bagi manusia dalam membangun etos kerja yang bermutu tinggi dalam menekuni suatu bidang yang dikerjakannya. Dan hal ini secara keseluruhan tidak dimiliki oleh binatang lain, kecuali manusia.

Dari keempat perbedaan kerja di atas dapat kita hewan bekerja tanpa menggunakan akal budi, sedangkan manusia menggunakan akal budinya. Karena memiliki akal budi dalam bekerja, maka manusia dapat menggunakan berbagai alat yang ada untuk membantu mempermudah pekerjaannya. Dengan demikian ia dapat menyelesaikan pekerjaannya lebih banyak. Namun terkadang alat yang diciptakan oleh manusia itu sendiri menjadikan ia kembali pada tingkatan terendahnya sebagai hewan, yang mana hal itu terjadi jikalau apa yang ia kerjakan bukan lagi berdasarkan pertimbangan akal budi dan nurani, melainkan lebih mengedepankan nafsu untuk memuaskan dirinya, sehingga tidak heran jikalau banyak terjadi kejanggalan yang ada saat ini. Misalnya terjadinya dehumanisasi, deforestisasi dan juga berbagai kemunduran lainnya dalam berbagai bidang.

Fakta bahwa banjir yang melanda Sumatera jikalau diamati secara teliti bukanlah semata hasil kerja alam, namun manusia yang harus bertanggungjawab secara penuh. Maka istilah bencana lama seharusnya dikaji kembali, sebab agaknya tidak relevan untuk digunakan dalam peristiwa tersebut, melainkan ‘bencana manusia’ merupakan istilah yang cocok untuk menggambarkan keadaan tersebut. Dengan hilangnya ribuan nyawa pasca banjir yang mana disebabkan oleh serudukan air dan gelondongan kayu yang katanya ‘tercabut sendiri dan juga menulis angkanya sendiri’ kita disadarkan bahwa manusia di era modern ini mengalami kemunduran, sebab manusia yang sejatinya melampau segala sesuatu sebab memiliki akal budi yang mumpuni, namun kejadian ini menandaskan bahwa akal manusia telah setara dengan hewan. Sebab apa yang dikerjakan bukan untuk kebutuhan biologis dan spiritual, juga bukan untuk suatu persiapan jangka panjang, namun kerja manusia di era ini lebih pada untuk kebutuhan biologis semata.

Oleh sebab itu perlu untuk diperhatikan kembali, memang bencana manusia di Sumatera telah meninggalkan luka dan trauma yang sangat besar bagi masyarakat yang terdampak banjir secara khusus dan masyarakat indonesia secara umum, namun hal itu dapat dijadikan sebagai titik acuan untuk perkembangan selanjutnya. Sebab manusia haruslah sebagai manusia dan jangan jadikan manusia sebagai hewan. Hal ini juga dimulai dengan usaha membangun relasi yang setara antara sesama manusia, sehingga hubungannya bukan I-It atau aku-itu, melainkan hubungan yang dibangun ialah I-Thou atau aku-engkau. Dengan adanya hubungan demikian, maka praktik dehumanisasi akan segera hilang dari peradaban kita saat ini terutama peradaban masyarakat Indonesia.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.