Oleh: Hafis Azhari
Ada rahasia tertentu yang disimpan Tuhan, ketika belum saatnya bagi kita untuk menerima kebenaran-Nya.
Belum saatnya manusia untuk dibukakan tabir, dan dengan sengaja Allah membungkamnya karena rasa kasih dan sayang-Nya kepada manusia, hingga Dia memeluk dan menahan tangan kita dalam keheningan dan kesendirian.
Kadang kebenaran harus disimpan dengan baik, dan tidak semuanya layak untuk diungkapkan. Juga tidak semua luka-luka kita boleh dikabarkan. Bahkan, satu kalimat yang kita tuliskan dan ucapkan, pasti akan berdampak pada kebaikan dan keburukan bagi diri kita dan pihak lain, serta akan menentukan nasib kita di kemudian hari. Kadang para penulis dan penceramah lupa diri, bahwa kata-kata hanya mendapat ridho Tuhan ketika disampaikan dalam kesabaran dan ketenangan. Bukan dengan nafsu, ego dan keangkuhan diri.
Dengan ketenangan, kita akan lebih jujur dan obyektif untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Bukan dengan kedengkian dan angkara murka yang membutuhkan kesenangan dan kemenangan sesaat, namun mencelakakan diri kita di kemudian hari.
Tentu kebenaran yang diridhoi Tuhan, tidak mesti terburu-buru untuk disampaikan ke publik, karena Tuhan bukanlah Dzat yang terburu-buru dalam membuka kebenaran.
Sebagian manusia menuntut agar jawaban segera diberikan, doa-doa segera dikabulkan, tanpa menghiraukan dampak yang mencelakakan bagi dirinya di kemudian hari.
Sesungguhnya, apa-apa yang ditahan dan ditunda oleh Allah, hakikatnya atas dasar cinta dan kasih sayang-Nya pada kita semua. Agar tertata hati kita, hingga lebih dekat dan akrab dengan kehendak ilahi.
Kita harus selalu yakin, bersama dengan kesulitan akan datang kemudahan. Kita diperintahkan agar bersabar, hingga terampil dalam memelihara kalbu dan ketenangan batin.
Kelak pada waktunya, kebenaran tersampaikan dengan hati lapang, tanpa perlu mendahului takdir Tuhan. Biarpun kini dilanda kesempitan dan kegundahan, tetapi Tuhan senantiasa melindungi kita jika konsisten memelihara hati dengan kelembutan.
Memang ada kebenaran yang menyembuhkan, namun tidak jarang yang melukai jika kita terburu-buru menjelaskannya. Karena itu, dibutuhkan waktu dan kesabaran, karena kebenaran mencapai sasarannya jika bergantung pada siapa dan bagaimana cara mengungkapkannya.
Jika suatu kebenaran disampaikan dengan dengki dan amarah, niscaya akan kehilangan sinar dan cahayanya, karena sifat manusia tak lepas dari beban penilaian yang salah.
Dengan sikap tenang dan diam, sambil berzikir mengingat dan bergantung pada Tuhan, niscaya hati kita akan disucikan oleh-Nya. Sebab, ketika kita menyerahkan urusan pada Tuhan, maka sikap diam pun akan menjadi pembelaan yang kuat ketimbang beretorika dengan debat dan seribu kata-kata. Tetapi, jika kita bergantung pada manusia, sesungguhnya manusia tempat kita bergantung itu pun tak mampu menangani ribuan masalah dan urusannya sendiri.
Sembunyikanlah luka-luka kita melalui sujud dan zikir di waktu sepertiga malam. Sampaikan kekecewaan kita kepada-Nya. Jangan terikat pada pengakuan dan penilaian manusia, hingga kita terbebas dari upaya pencarian yang melelahkan tentang siapa yang benar dan yang salah.
Biarlah kebenaran akan membuka diri pada waktunya, tanpa perlu memberi penjelasan yang berlebihan, karena memori dan daya ingat kita sangat terbatas. Bahkan, kejujuran sangat tergantung pada kepentingan manusia, berikut ruang dan waktu yang melingkupinya.
Adakalanya kebenaran yang kita sampaikan di masa lalu, rupanya bukan lagi kebenaran dalam pandangan kita hari ini. Tentu adakalanya kebenaran versi kita saat ini, kemungkinan tidak lagi menjadi kebenaran dalam pandangan kita di hari esok nanti.
Untuk hati dan jiwa-jiwa yang tenang, bersabarlah, karena penjelasan yang dipaksakan seringkali berakhir dengan kekecewaan yang merugikan, baik bagi diri kita maupun bagi banyak orang.
Ketahuilah, bahwa hakikat kesabaran bukan semata-mata menunggu waktu yang akan datang. Bukan juga soal memperpendek waktu yang Allah tunda dan panjangkan. Tetapi, juga soal menahan reaksi negatif, serta konsisten menjaga sikap baik agar tidak menggugurkan rahmat ilahi.
Hanya Allah sang penentu waktu, serta menanamkan kesabaran dan ketenangan dalam jiwa kita, hingga pada waktunya kita mampu memberi penjelasan tanpa disertai ego dan keangkuhan, namun dengan rasa syukur dan ketenangan batin.
Kesabaran adalah akar yang menopang struktur pepohonan. Semakin panjang akar itu menjalar, ia akan semakin kuat dan kokoh menancap di kedalaman bumi.
Sesungguhnya, sifat akar itu tersembunyi, diam tak memerlukan pujian. Ketika akar hati sudah cukup dalam, ia akan terampil bersikap tenang, biarpun seluruh manusia mencaci-maki, ia takkan terpengaruh karena Tuhan sudah menguatkan dan mengokohkan kedudukannya, serta memerintahkan penduduk langit untuk senantiasa menghibur dan menjaganya.
Jangan sampai kita merusak rahmat yang sedang ditenun dan dijahit, hingga ia menjadi rapi dan rampung. Tuhan menghendaki ketangguhan jiwa kita, agar tetap tabah dan tenang ketika pada waktunya badai-badai topan menerjang. Bahkan, kita akan sanggup menolong dan memberi teladan, agar mereka berada dalam ketenangan dan kedamaian.
Jika pun datang fitnah menerpa diri kita. Para sahabat mendesak agar kita membela diri dan menjelaskan duduk persoalannya, serta agar kehormatan dan kemuliaan terjaga. Maka, cukuplah kita menyatakan, bahwa sang waktu akan menjawabnya kelak. Sebab, jika kita bereaksi dan memberi jawaban, dikhawatirkan penjelasan kita bercampur dengan ego dan hawa nafsu, hingga Tuhan tidak meridhoinya.
Sesungguhnya, Allah sangat mencintai orang yang sabar menanggung derita, ketimbang mereka yang sibuk membela diri dengan sikap amarah. Sebab, ketika kita bersabar menahan lidah untuk membela diri, sesungguhnya Allah semakin menanamkan ketenangan dalam jiwa kita.
Kebenaran akan datang sendiri bila waktunya sudah tiba. Tenanglah dan diamlah, sebab suatu hari nanti ketika pada waktunya kita menjelaskan, maka pembicaraan kita akan disertai kewibawaan dan ketenangan, karena lahir dari jiwa-jiwa tentram dan hati-hati lapang yang sudah diridhoi oleh-Nya.
Sesungguhnya, Allah senantiasa membentuk hati dan jiwa kita, serta menghubungkan dengan jiwa-jiwa yang memiliki frekuensi yang selaras di tengah jagat mikro dan makro alam raya ini. Bersyukurlah, karena hati-hati kita sedang dibentuk dan disucikan, dan kebenaran akan saling terkoneksi antara yang satu dengan yang lainnya.
Tenanglah dan diamlah, karena tidak semua kebenaran boleh dibuka secara tergesa-gesa. Yakinlah, bahwa setiap fitnah dan pembenaran takkan membawa kedamaian dan ketenangan dalam jiwa mereka yang melakukannya. Tak perlu banyak berdebat untuk menjawab fitnah dan pembenaran. Kelak kebenaran dari Tuhan akan datang pada saat kita tak membutuhkan pembelaan dan pengakuan manusia. Tetapi, Allah senantiasa memberi ketenangan dan kelapangan dalam hati dan sanubari kita.
Allah sama sekali tak membutuhkan bukti untuk menjelaskan bahwa kita berada di pihak yang benar. Karena, setiap kebenaran pasti akan disampaikan pada waktu yang tepat menurut ketentuan-Nya.
Biarlah orang-orang memberi reaksi yang berlebihan, bahkan mencari-cari cara untuk menyudutkan dan menyalahkan kita. Tetapi, konsistenlah untuk terus berdoa dan berzikir, agar senantiasa kita dalam pertolongan dan perlindungan-Nya. Biarlah orang-orang membenci dan mencaci-maki sekalipun, karena yang menjadi target utama bukanlah kecintaan manusia dan makhluk manapun, tetapi kecintaan dan kasih-sayang dari Allah Sang Rabbul Izzati.
Ketika kesabaran sudah terpateri dalam jiwa kita, akar-akar ketenangan sudah tertancap dalam kalbu kita, serta-merta Allah akan senantiasa menguatkan dan mengokohkan kedudukan akar-akar tersebut. Sebagaimana peringatan Rasulullah, jika kita mengharap ridho Allah meskipun dibenci oleh manusia, maka Allah pasti akan meridhoi, dan pada waktunya seluruh manusia akan meridhoinya pula.
Untuk itu, seberapa bisingnya keadaan dunia ini, jiwa-jiwa yang diridhoi Allah, akan tetap tenang dan damai selalu. Namun sebaliknya, jika ridho manusia yang diharapkan, sementara Allah murka, maka pada waktunya seluruh manusia akan murka terhadapnya. ***
Penulis adalah Peneliti historical memory Indonesia, juga pengarang novel Pikiran Orang Indonesia







