Tarian Lego-Lego sebagai Emanasi Solidaritas

oleh -1496 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Sixtus Junior Faon

Tawuran merupakan salah satu bentuk perlindungan diri yang sering menjadi tameng bagi para remaja untuk menuntaskan suatu permasalahan atara dua kubu yang saling bercekcokan. Patut disayangkan bahwasannya tawuran dalam konteks remaja yang sedang bertumbuh cenderung menjadi banalitas, bahkan dianggap sebagai alternatif yang paling presisi untuk menuntaskan perselisihan remaja, sekaligus mencari popularitas dalam pergaulan antar sesama remaja. Usia remaja merupakan usia yang sangat identik dengan pencarian identitas masing-masing individu. Tawuran juga di satu sisi bisa dikaitkan sebagai upaya pencarian indentitas remaja, namun cara tersebut terlampau acuh terhadap nilai solidaritas yang perlu disemai semenjak usia-usia remaja.

Kabupaten Alor merupakan salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang cukup banyak terkena imbas kenakalan remaja belakangan ini. Poin mendasar yang tidak ditemukan dalam pergaulan remaja dewasa ini, ialah minimnya nilai solidaritas. Masyarakat Kabupaten Alor yang sejak kecil hampir seluruhnya dididik secara rigor dan patriarkis, terutama dengan latar belakang gerografis dan topografis wilayah yang sporadis (berbukit-bukit) tentu secara psikologis melahirkan watak remaja yang keras dan cenderung menolak untuk mengalah. Maka dari itu, startegi preventif untuk menumbuhkan solidaritas anak sejak kecil melalui nilai-nilai budaya merupakan salah satu langkah progresif, untuk mencegah tawuran remaja yang tidak mencerminkan nilai solidaritas

Dilihat dari kanca budaya, Kabupaten Alor merupakan salah satu kabupaten di NTT yang sangat kaya dengan budaya-budaya yang masih dilestarikan secara ketat sampai saat ini. Tarian lego-lego yang merupakan salah satu kekayaan budaya masyarakat Alor, dalam hal ini mampu berandil sebagai pedang untuk menebas demarkasi antar suku-suku di kabupaten Alor. Secara ontologis tarian lego-lego berasal dari kebiasaan menari orang-orang pesisir, yang seiring berjalannya waktu merebak ke seluruh pelosok Pulau Alor tempat suku-suku berdiam. Secara etimologi tarian lego-lego berasal dari kata dalam bahasa Abui lukkiai dari akar kata luk yang berarti tunduk dan kiai yang berarti menyanyi. Secara harafiah lego-lego berarti bernyanyi sambil menundukkan kepala untuk memohon rejeki dari para leluhur, syukur atas kemenangan pada saat berperang atau menuai hasil alam yang baik (Rosalina, dkk, 2025).

Ciri Solidaritas dalam Tarian Lego-Lego

Tarian lego-lego dilakukan dengan bentuk pola lingkaran dan setiap partisipan saling merangkul satu sama lain dengan gerakan kaki ke depan dan kebelakan dilengkapi dengan lagu-lagu serta rumusan-rumusan dalam bahasa daerah yang dikumandangkan untuk menambah harmoni dalam tarian tersebut. Tarian lego-lego terdiri dari dua macam, yakni lukkia yang dilakukan dengan cara merangkul bahu, dan mayai yang dilakukan dengan cara berpegangan tangan. Pada umumnya tarian lego-lego dilakukan dengan pola lingkarang mengelilingi mesbah karena mesbah dianggab sebagai identitas suatu suku (Rosalina, dkk, 2025).

Properti yang biasanya digunakan untuk melancarkan jalannya tarian lego-lego ialah; gong, moko, pakaian adat (tradisional), gelang kaki (giring-giring). Gong merupakan salah satu alat musik khas di Kabupeten Alor yang berbentuk bundar dan biasanya dibunyikan dengan pemukul yang dibuat khusus. Gong biasanya dibunyikan pada saat acara penyambutan, maupun sebagai tanda kedukaan. Moko merupakan salah satu alat musik khas Kabupaten Alor yang mirip dengan alat musik tifa, namun moko pada umumnya terbuat dari perunggu. Moko juga merupakan mahar yang biasanya diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan sebagai simbol kesungguhan hati memasuki kehidupan berrumah tangga. Gelang kaki merupakan atribut pada saat menari yang menambah unsur harmoni dengan suara nyanyi yang dilantunkan.

Filosofi lingkaran dalam tarian lego-lego

Tarian lego-lego memiliki struktur yang kaya akan makna simbolis. Pembentukan lingkaran menunjukkan adanya kesetaraan dan keterbukaan di dalam komunitas. Setiap peserta dalam tarian saling menggandeng bahu atau berpegangan tangan, mencerminkan ikatan antarindividu, tanpa memedulikan usia, jenis kelamin, atau status sosial. Hal tersebut merupakan wujud nyata dari nilai solidaritas yang inklusif, sesuai dengan prinsip solidaritas universal. Dalam konteks masyarakat Alor, tarian lego-lego lebih dari sekadar bentuk hiburan atau pelestarian budaya, tetapi juga berfungsi sebagai media pembelajaran sosial. Anak-anak yang terlibat dalam tarian ini sejak usia dini dipacu untuk menyerap dan mengimplementasikan nilai persaudaraan yang berbau budaya ke situasi konkret yang diguyur pluralitas.

Secara filosofis lingkaran mengandaikan suatu bentuk keterikatan yang tidak berkesudahan. Setiap individu yang menjerumuskan diri ke dalam lingkaran tersebut tentu akan menjadi bagian dalam lingkaran tersebut, dan menjadi bagian dari lingkaran tersebut berarti menanggalkan kecendrungan narsistik. Lingkaran merupakan perpaduan sempurna yang tidak memiliki garis akhir. Lingkaran tidak memiliki arche, melainkan keterjalinan terus-menerus.
Secara filosofis merangkul merupakan jawaban “iya” untuk masuk ke dalam pluralitas.

Merangkul merupakan ekspresi batin yang terwujud dalam ekspresi fisik dengan dalil menghargai oranglain sebagai makhluk sosial dan asosial. Merangkul juga merupakan bentuk keterbukaan eksistensial untuk menumbuhkan bilai solidaritas di dalam diri setiap orang. Rangkulan dalam tarian lego-lego menandaskan bahwa setiap orang yang datang dari latar belakang yang berbeda bukanlah orang lain, melainkan bagian dari sirkulasi lingkaran lego-lego itu sendiri.

Tindak kenakalan remaja seperti tawuran adalah bentuk dari kegagalan dalam menginternalisasi nilai-nilai solidaritas serta pengawasan sosial. Tarian lego-lego merupakan wadah refleksif serta menjadi cara pencegahan yang efektif karena melibatkan proses internalisasi bersama dengan bertolak dari budaya. Saat remaja terlibat dalam kegiatan budaya yang menekankan rasa kebersamaan, mereka lebih cenderung untuk menampilkan identitas dan menyelesaikan konflik dengan cara-cara yang damai dan komunikatif.

Berbagai bentuk kekerasan fisik yang terjadi saat ini merupakan cerminan bagi setiap orang untuk menegok serta “menggerus” nilai-nilai solisaritas dalam kebudayaan yang seringkali diabaikan. The Pen is Mighter than the Sword yang dikumandangkan Edwar Bulwer-Lytton, merupakan ajakan tersirat untuk kembali ke warisan lisan maupun tulisan dari kebudayaan yang sarat terselip nilai solidaritas.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira, Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.