Karya Sastra dan Benih Amuk Massa di Indonesia 

oleh -1181 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Chudori Sukra

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran.” Ungkapan bersayap dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer ini sangat relevan dengan konteks kekinian dan keindonesiaan. Sebagaimana ekonom Kwik Kian Gie dalam opininya “Saya Bermimpi Jadi Koruptor” (Kompas.id), yang mengindikasikan bahwa para koruptor kelas kakap di republik ini seakan-akan telah berimajinasi untuk menjadi “kriminal”, atau setidaknya telah bercita-cita mencuri uang rakyat sejak dari pikiran dan angan-angannya.

Terkait dengan itu, novel Perasaan Orang Banten (selanjutnya disebut POB) menggambarkan betapa moral dan akhlak bangsa kita sudah mencapai titik nadir. Hampir tak ada tokoh satu pun di dalamnya yang terbebas dari kultur yang terkontaminasi liberalisme dan pragmatisme. Mereka telah kehilangan roh dan pegangan akan martabat suatu bangsa yang beradab dan berbudi luhur.

Dekadensi moral dan akhlak yang dialami warga kampung Jombang mencerminkan pola kehidupan berbangsa dan bernegara kita, tak terkecuali kalangan pengusaha, akademisi, politisi dan aparatur negara yang mestinya berfungsi selaku umaro yang melayani dan mengayomi rakyatnya.

Dalam POB, keyakinan pada monotheisme pengarang sangat menonjol, terutama pada penokohan Kiai Muhaimin yang sanggup introspeksi, berkaca diri, lalu meluruskan orang-orang yang menyimpang dari jalan yang benar. Dari perspektif lain mengenai dunia bawah sadar, terutama pada tokoh Tohir si marbot penjaga masjid, setelah diajak minum minuman keras oleh Sodik temannya, tiba-tiba ia mabuk sempoyongan. Maka, keluarlah segala unek-unek, angan-angan, dan harapan-harapan akan cinta dalam pikirannya.

Di sini kita disentakkan oleh analisis Sigmund Freud yang penemuannya masih terus dikorek-korek oleh pakar biokimia, psikologi, neurosains hingga hari ini. Persoalan yang paling mendasar muncul, bagaimana jika satu tetes bahan kimia mampu membuat orang yang menderita hiperseks menjadi normal? Terkait dengan novel POB: bagaimana jika gara-gara satu tetes bahan kimia di mangkuk bubur kacang ijo, telh sanggup membuat Bi Marfuah yang salehah, tiba-tiba menjadi liar dan maniak daging?

Faktor kesadaran dan ketidaksadaran (alam bawah sadar) berikut penemuan-penemuan terbaru para ilmuwan inilah yang menggoyahkan sendi-sendi keimanan dan religiositas para seniman dan budayawan Indonesia. Sehingga, menurut sebagian penulis milenial, mereka kurang konsisten dalam berkarya, dan selalu hilir mudik antara kepercayaan timur dan barat, bahkan dalam mengimani tuhan dan dewa-dewi.       

Novel POB juga tidak berkecimpung dalam teritorium puisi yang bersifat surrealis. Pada bab-bab awal sudah terjadi dialog bahwa hidup ini hanyalah singgah sebentar untuk minum (mung mampir ngombe). Tetapi, pengertian “manusia gelandangan” versi negeri-negeri Asia, tampaknya berbeda dengan Timur Tengah, di mana citra gelandangan sudah mengakar dalam tradisi Hibrani, serta perjalanan 40 tahun yang dipimpin Nabi Musa, dari tanah Mesir, Laut Merah, hingga padang pasir dan bukit Sinai.

Tetapi wilayah Asia, baik Nusantara, Korea hingga Jepang lebih mendekati keyakinan dasar Hindu-Budha dari negeri India, yang menafsirkan hakikat hidup adalah “tipuan maya”, penghalang menuju kesempurnaan, bahkan kutukan dan malapetaka. Di sisi lain, filsafat kehidupan yang “maya” dari negeri India, tak pernah dianut secara keras di tanah Jawa maupun Sunda. Lihat saja tokoh-tokoh dalam novel POB yang cenderung nyantai berdendang di bawah nyiur-nyiur, dengan koral-koral laut berikut keindahan ikan-ikan hiasnya. Fenomena jimat batu yang mengundang malapetaka dalam film peraih Oscar dari Korea Selatan (Parasite) juga tak dihadapi secara serius dan tegang, tetapi dianggap guyonan mistik yang rupanya sulit dihilangkan dari keyakinan kosmik masyarakat Asia, termasuk Indonesia.

Penyakit mental dan spiritual yang banyak diidap manusia kota di negeri-negeri industri maju begitu mencolok dalam novel POB. Saya menduga bahwa pengarang novel tersebut adalah orang asing di negerinya sendiri. Nasib keluarga-keluarga miskin di Banten, selaku miniatur kebudayaan Indonesia, telah berhasil dilukiskan secara simpatik, meski disertai balutan humor-humor satiris. Hal ini mengingatkan kita pada puisi klasik Indonesia karya Hendrawan Nadesul yang berjudul sepanjang gerbong kereta: “Akan Jadi Bagaimana Nasib Anak-anakku Kalau Nanti Juga Hanya Ada Semangkuk Bubur Jagung UntuknyaSeperti Pagi Ini Aku Tengah Mengunyahnya.”

Tokoh kesepian

Dalam novel POB dijumpai beberapa tokoh penting yang merasa kesepian dalam kesendirian. Bukan hanya kesendirian secara fisik tetapi lebih mendalam lagi, secara kultural dan eksistensial. Tak terkecuali orang yang setiap hari menjaga masjid (seperti Tohir) justru terjangkiti kesepian secara spiritual, karena kehilangan kembang desa yang menjadi impian dan dambaannya (Jamilah).

Sebagai penengah, novel POB menampilkan tokoh seorang Kiai Pesantren yang mencoba menengahi segala problematika hidup. Petuah-petuah dari Kiai Muhaimin mengajak semua pihak untuk mengadakan introspeksi dan bercermin diri, sudahkah kita sebagai manusia Indonesia, menyadari segala kekhilafan dan kesalahan yang pernah kita lakukan? Sudahkah kita bertobat dan berbenah-diri atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan di masa lalu? Lantas bagaimana seorang muslim yang baik dapat memetik hikmah dari sebuah kesabaran?

Novel POB cenderung bicara apa adanya, polos, peka, jujur melihat kenyataan yang ada di sekitar kita. Penulisnya pernah menyatakan, dalam acara bedah buku di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten, bahwa, “Spirit seorang bocah harus tetap hidup dan menyala dalam diri seorang penulis, meskipun sang penulis sudah lanjut usia.” Seorang bocah seringkali berpikir biasa-biasa saja, tetapi bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Ia berpikir mendasar, simpel, dan karena itulah dapat disebut filosofis, tanpa membutuhkan logika yang njelimet dan berbelit-belit. Sedangkan, kebanyakan orang dewasa (termasuk yang intelek) seringkali memilih banyak berbohong dan berpura-pura untuk menutupi kekurangan dirinya. Orang dewasa cenderung menekan aspek-aspek kebenaran, apalagi jika kebenaran yang disampaikan tampaknya agak mengganggu perasaan orang yang melihat dan mendengarnya.

Sastra dan kejujuran

Dalam karya sastra, mengajukan pertanyaan sederhana dan mendasar, justru lebih baik daripada pertanyaan besar yang muluk dan mengada-ada. Seorang bocah biasanya mengajukan pertanyaan karena rasa ingin tahu, sementara orang dewasa pada umumnya didorong oleh ambisi untuk memenangkan argumen dan perdebatan, bukan untuk memperoleh kebenaran yang hakiki.

Narasi-narasi yang dituangkan dalam novel POB seakan “menolak” logika berpikir serba canggih dan berbelit-belit. Penulisnya yang juga kelahiran Banten berpendapat, bahwa kecanggihan berpikir seringkali menghambat tujuan pemecahan masalah. Baginya, karya-karya sastra yang terlampau logis dan intelek, cenderung menolak kejujuran dalam melihat masalah yang terjadi di sekelilingnya. Boleh jadi sang penulis melihat dengan sentimen dan prasangka. Padahal, prasangka-prasangka inilah yang membatasi diri untuk mengungkap sesuatu secara terbuka dan apa adanya.

Novel POB digagas bukan melalui tema-tema sastra yang cenderung njelimet dan muluk-muluk, seperti soal kehidupan glamor, rumah dan mobil mewah, naik pesawat yang hanya mewakili segelintir elit pribumi kita. Ia bukan sejenis karya sastra yang lahir dari mental penulis inlander yang telah kehilangan sifat lugu dan polos pada dirinya. Padahal, sifat anak-anak yang jujur dan terbuka, dapat membuat sang penulis mengamati dan melihat sudut pandang manusia Indonesia dari berbagai perspektif.

Dampak negatif dari penulis yang sulit menerima kekurangan pada dirinya, ia akan merasa kesulitan untuk mempelajari hal-hal baru. Mereka merasa nyaman mengisolasi diri sebagai kritikus, seolah merasa tentram dalam gelembung dunianya sendiri, begitu degil, sempit, dan dangkal belaka.

Bagi sebagian mereka, gagal atau berhenti sama saja dengan mengakui diri sebagai pengecut dan pecundang.

Padahal, di dunia saintifik, kegagalan dan kebuntuan adalah kontribusi terbaik bagi ilmuan agar tidak melalui jalan buntu sama dengan yang pernah dijalani. Kegagalan juga bisa memberi umpan balik, dan karenanya tak ada proses pembelajaran tanpa adanya umpan balik.

Tetapi, penulis POB yang berpikir “outside the box” tampaknya sudah siap menghadapi konsekuensi dianggap langka, aneh, dan melawan arus kerumunan. Baginya, setiap manusia Indonesia sah dan boleh saja menyatakan pendapatnya mengenai novel tersebut. Asal jangan seperti di masa Orde Baru, di mana kebebasan berpendapat dengan mudahnya dibungkam dan diberangus oleh pihak penguasa. Termasuk oleh sebagian seniman yang tak mau mengakui dirinya telah menjadi “anak emas” dewa kemenangan, serta menolak berpikir dengan akal sehat.

Bagi saya pribadi, penampilan para tokoh dalam novel POB, sebagaimana pernyataan Pramoedya di atas, bahwa tidak sedikit manusia Indonesia yang telah menjadi kriminal sejak dari pikiran. Ketika hasrat dan cita-cita menjadi kriminal telah mendapat peluang dan kesempatannya di tengah kerusuhan dan amuk massa, maka terjadilah Tohir yang marbot menjadi baku-hantam, Jamilah yang solehah terjerat pergaulan bebas, Haji Mahmud juga keranjingan judi di Pasar Kelapa, Taufik seniman membobol toko Cina, hingga Bang Jali sang politikus yang keranjingan bermesraan dengan seorang waria.

Demikian juga pesan sentral dalam novel keduanya Pikiran Orang Indonesia, Hafis Azhari seakan menandaskan, ketika mental dan pikiran kriminal sudah melekat dalam kepribadian suatu bangsa, mereka serempak turun ke jalanan saat terjadi kerusuhan massal. Mereka akan melampiaskan nafsu syahwatnya untuk mencuri dan menjarahi toko-toko, saling berebut, berkelahi, merampok dan saling membunuh. Bahkan, tidak sedikit yang melampiaskan nafsu birahinya dengan merenggut dan memerkosa anak-anak gadis di jalanan dan rumah-rumah penduduk. Mereka tak ubahnya para maniak daging yang melampaui hukum rimba belantara. (*)

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), pengasuh pondok pesantren Riyadlul Fikar, Serang, Banten, juga penulis opini dan prosa di berbagai media nasional, di antaranya Kompas, Koran Tempo, Republika dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.