Pesta Bandit di Atas Utang

oleh -982 Dilihat
banner 468x60

Saat dana donor internasional mengucur deras, para bandit langsung menggelar pesta di hotel-hotel bintang lima. Mereka merayakan utang itu seolah-olah sebuah pencapaian besar atas nama negara. Dalam pidato resmi mereka di televisi dan forum-forum dunia, bandit selalu mengatakan bahwa dana itu adalah “hasil diplomasi tingkat tinggi”, “kepercayaan global”, dan “bukan uang APBN”. Mereka menyebutnya sebagai suntikan segar untuk investasi strategis.

Namun kenyataannya, sebagian dana itu dialihkan secara diam-diam untuk gaya hidup mewah: jet pribadi, apartemen di luar negeri, mobil-mobil eksotis, perhiasan, hingga biaya pendidikan anak-anak mereka di universitas elite dunia. Mereka hidup seperti bangsawan global, jauh dari rakyat yang mereka wakili.

Sementara itu, sebagian dana lainnya ditanamkan ke proyek tambang di kebun rakyat, atas nama negara dan pembangunan. Mereka berdalih tambang akan membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan daerah. Tetapi tambang itu dikelola bersama para cukong, dan keuntungannya hanya berputar di antara mereka—rakyat hanya dijadikan pengaman sosial dan buruh sementara.

Bandit terus menyebarkan narasi bahwa “ini bukan uang APBN”, padahal ketika bunga utang jatuh tempo setiap tahun, yang membayar adalah negara—melalui APBN. Secara tidak langsung, rakyat membayar gaya hidup mewah para bandit dan membiayai kehancuran tanah mereka sendiri.

Di balik layar, mereka membentuk jaringan pengamanan hukum dan politis, memastikan tidak ada yang bisa menyentuh mereka. Jika ada yang mempertanyakan, mereka akan berkata:

“Kami tidak menggunakan uang rakyat. Ini murni dana internasional.”

Tapi faktanya jelas: yang dihancurkan adalah tanah rakyat, yang dibebani adalah masa depan rakyat, dan yang menikmati adalah segelintir bandit dan cukong. Dan ketika rakyat mulai bangkit dan bertanya, narasi pembangunan kembali diputar, dan satu utang baru kembali dinegosiasikan. Siklus pun berulang.


Setiap kali ada rakyat yang berani bersuara, mengkritik tambang yang merampas tanah mereka, atau mempersoalkan utang yang terus membebani negeri—bandit dengan lantang berkata:

“Kalau tidak suka dengan pemerintah, keluar saja dari kebun rakyat! Jangan halangi pembangunan!”

Kata-kata itu sering dilontarkan di media, baliho kampanye, bahkan disisipkan dalam pidato kenegaraan. Mereka memposisikan diri sebagai wakil negara, padahal sesungguhnya mereka sedang melindungi kepentingan bisnis pribadi dan jaringan kekuasaan mereka.

Di balik slogan itu, bandit sedang menyingkirkan warga yang kritis, memecah belah masyarakat desa, dan menjadikan kebun rakyat sebagai zona steril dari pengawasan rakyat sendiri. Setiap protes dianggap ancaman. Rakyat disuruh minggir dari tanahnya sendiri, demi lancarnya proyek tambang dan utang.

Ironisnya, di waktu yang sama, bandit tampil sebagai juru bicara perubahan iklim dan kampanye energi hijau. Mereka dengan fasih berbicara tentang transisi energi, keadilan iklim, dan masa depan berkelanjutan. Mereka bahkan tampil dalam konferensi dunia dengan setelan jas, mengklaim diri sebagai pejuang bumi.

Namun, kampanye energi hijau itu hanyalah topeng. Di baliknya, APBN kembali dikuras untuk membeli teknologi “hemat energi” dari kapitalis global—yang notabene adalah rekan bisnis para bandit. Bandit memborong panel surya, mobil listrik, hingga sistem digitalisasi energi, bukan untuk rakyat, tapi untuk menciptakan pasar bagi industri hijau milik elite global.

Hasilnya? Kapital internasional makin kaya. Bandit mendapat komisi dan pujian internasional. Rakyat tetap miskin, tetap tanpa listrik, dan tetap tak punya akses energi bersih. Bandit menggunakan jargon hijau untuk mencuci jejak tambang kotornya. Dan setiap kali ada yang bertanya, mereka balas dengan:

“Ini demi masa depan. Ini bukan uang rakyat. Ini pembangunan hijau.”

Padahal, hijau yang tumbuh hanyalah saldo mereka, sementara hutan rakyat telah tandus, sungai mati, dan masa depan generasi hilang dalam tumpukan utang.

Cerita Fiksi “Pesta Bandit di Atas Utang”. adalah cerita lanjutan setelah Bandit Meminjam Utang, mereka menggunakan utang untuk pesta di kebun rakyat.

Oleh: Goris Sahdan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.