Dari Makassar ke Masa Depan: Restorasi Politik lewat Pikiran yang Merdeka

oleh -1604 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

Tema Rakernas Partai NasDem di Makassar—Kemandirian Berpikir Demi Kemajuan Bangsa—menggemakan sebuah gagasan yang melampaui retorika politik. Dalam konteks tema HUT RI ke-80, ia adalah seruan filosofis untuk membangun bangsa yang tidak hanya merdeka secara teritorial, tetapi juga secara intelektual dan moral.

Dalam perspektif filsafat politik, kemandirian berpikir merupakan syarat utama bagi terbentuknya warga negara yang deliberatif, partisipatif, dan berdaulat. Dalam konteks ini, kemandirian berpikir menjadi fondasi untuk mencapai kedaulatan dan kesejahteraan yang tidak bergantung pada kekuatan eksternal maupun tirani internal.

Dalam tradisi filsafat politik, kemandirian berpikir bukanlah sikap individualistis, melainkan bentuk tanggung jawab kolektif. John Stuart Mill, dalam karyanya On Liberty, menegaskan bahwa kebebasan berpikir adalah syarat utama bagi kemajuan masyarakat. Ia menulis, “The worth of a state in the long run is the worth of the individuals composing it.” Tanpa kebebasan berpikir, masyarakat akan stagnan dan kehilangan kemampuan untuk berinovasi serta memperbaiki diri.

Angela Merkel, mantan Kanselir Jerman, dikenal karena pendekatan rasional dan reflektif dalam pengambilan kebijakan, pernah menyatakan, “Freedom is the very essence of democracy. But freedom also means responsibility.” Dalam konteks Indonesia, kemandirian berpikir berarti keberanian untuk mengambil keputusan berdasarkan nilai dan data, bukan tekanan populis.

Hal senada, pernah digagaskan pula oleh Barack Obama: “the audacity of hope”—keberanian untuk berpikir dan bertindak di luar arus utama. Ia percaya bahwa warga negara yang berpikir mandiri adalah kekuatan utama demokrasi. Dalam konteks Indonesia, ini berarti membangun partisipasi politik yang berbasis kesadaran, bukan sekadar mobilisasi.

Tema HUT RI ke-80, “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, mengandung filosofi bahwa persatuan dan kedaulatan harus dimulai dari kesadaran berpikir. Dalam filsafat politik, negara yang maju bukan hanya memiliki infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur mental yakni warga negara yang berpikir kritis, etis, dan visioner.

Pada titik ini, Rakernas NasDem di Makassar menjadi simbol bahwa partai politik bukan hanya mesin elektoral, tetapi juga laboratorium gagasan. Ketika partai mendorong kadernya untuk berpikir mandiri, maka demokrasi Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi berkembang.

Kemandirian berpikir adalah bentuk kemerdekaan yang paling dalam. Ia adalah kemerdekaan dari dogma, dari tirani mayoritas, dan dari ketergantungan pada kekuasaan. Dalam usia 80 tahun kemerdekaan, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik. Ia membutuhkan pembangunan kesadaran. Sebagaimana Mill, Merkel, dan Obama telah tunjukkan, bangsa yang besar adalah bangsa yang berani berpikir sendiri. Di titik ini, kemandirian berpikir bukan hanya tema Rakernas, tetapi panggilan sejarah.

Penulis adalah Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende – Flores

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.