Pramoedya Sang Arsitek Imajinasi Bangsa

oleh -1603 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Chudori Sukra

Orang itu sepanjang hidupnya terus memberontak. Seakan pemberontakan adalah bagian dari dirinya, bahkan bagian dari mazhab dan ideologinya sendiri. Realitas Indonesia, sejak tampilnya kekuasaan militerisme Orde Baru, memang menawarkan banyak alasan untuk memberontak. Tentu saja pembrontakan itu berdasarkan prinsip-prinsip keadilan dan menentang kesewenangan.

Di tengah sistem kekuasaan, ketika ketidakadilan menjadi motor penggerak, kesewenangan merajalela dan dijadikan hukum pasti, eksploitasi manusia atas manusia lain, keserakahan dan kemelaratan, alienasi ekonomi, oligarki politik dan kebudayaan, dengan sendirinya akan menyuguhkan bahan-bahan yang optimal untuk digelindingkan ke dalam karya sastra, terutama cerpen dan novel. Sejak belasan tahun dikucilkan di Pulau Buru, ia menggarap novel-novel genuine yang kemudian dikenal dengan Tetralogi Buru. Salah satu novelnya yang fenomenal pernah difilmkan, bahkan membuatnya berkali-kali meraih nominasi untuk penganugerahan nobel di bidang kesusastraan dunia.

Dialah satu-satunya penulis dari ribuan penulis Indonesia yang pernah berada di puncak tangga kesuksesan setinggi itu. Padahal, buku-buku dan perpustakaan pribadinya disita oleh penguasa baru Indonesia pasca tahun 1965, menyusul penggulingan Presiden Soekarno oleh klik kekuasaan militerisme. Setelah ia berjumpa keluarganya selepas dari pengucilannya di Pulau Buru, baginya tetaplah ketimpangan-ketimpangan sosial merajalela di bawah iklim budaya kapitalisme. Karenanya, ia tak pernah memasuki era mufakat, subordinasi, dan keterlibatan resmi. Menurutnya, kompromi apapun dalam iklim yang tidak adil adalah pengkhianatan terhadap moral dan prinsip yang dipegang teguh sejak dulu.

Dalam statusnya sebagai tahanan kota, penulis muda Banten berkali-kali menjenguknya, meskipun ia tetap menuntut pengakuan atas hak-haknya untuk berbeda pendapat, dan itulah yang membuat kinerjanya tetap solid, suatu fragmen kehidupan yang akan terus diperbuat oleh kekuatan sastra. Baginya, sensor terhadap dirinya, termasuk oleh para sastrawan yang menginduk di bawah tempurung Orde Baru, tak lain sebagai penghambat kemajuan akan mekarnya martabat manusia, serta nilai-nilai harkat dan kemanusiaan.

Jalan menuju kebenaran tidaklah senantiasa mulus dan lurus, namun kerap kali berlika-liku dan bergeronjal. Baginya, kita harus menyuarakan kebenaran agar menjadi benar. Ia pun menunjukkan berulang kali lewat buku-buku sastranya, suatu kerumitan dan keanekaragaman hakiki dari dunia serta ambiguitas kontradiktif dari peristiwa-peristiwa manusia.

Seperti kemarin, sekarang pun demikian halnya. Bila kita mencintai pekerjaan kita, kita harus terus bertempur melawan penjajah, bahkan terhadap penjajah-penjajah baru pribumi yang tetap menggalakkan eksploitasi manusia dan semangat imperialisme global.

Masalahnya, kita harus melawan ketidakadilan dan kesewenangan, siapapun dan pihak manapun yang melakukan itu. Karenanya, sulit menggolongkannya dalam aliran dan mazhab tertentu. Ketika segerombolan tentara menggerebek kediamannya di era 1965-an, sulit bagi mereka untuk mencari-cari kesalahan sekecil apapun yang dilakukan oleh penulis satu ini. “Apakah kamu percaya, negeri ini akan menjadi negeri komunis?” tanya seorang komandan tentara. Tentu saja merupakan pertanyaan yang salah alamat, karena ia hanya bekerja sebagai penulis dan sastrawan, dan tak ada sangkut-pautnya dengan urusan politik praktis.

Saat itu, ia hanya menggelengkan kepala,”Saya tidak tahu, karena masyarakat kita ini masih konservatif. Barangkali butuh waktu beberapa tahun lagi, dapat saya jawab pertanyaan kalian.”

Jawaban seperti itu tetap membuat kaum penguasa memposisikan ia sebagai perecok dan perusuh, profesional di bidang ketidakpuasan, pemberontak dan pembangkang negara yang tak tersembuhkan, penentang tak terbendung atas apa yang mereka anggap konstitusional.

Seperti itulah nasib penulis dan kompatriot saya ini, bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun. Di era reformasi, ketika muncul penguasa baru yang menjanjikan rehabilitasi dan rekonsiliasi, serta munculnya angkatan muda yang mulai menyokong aktivitas kesenian dan kesusastraan, mereka tetap harus membayar harga mahal bagi kemajuan dunia pendidikan dan kebudayaan.

Buku-buku tak terjangkau oleh kantong pelajar dan mahasiswa kita. Terpaksa mereka harus diam-diam mengonsumsi barang-barang bajakan, termasuk novel Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, hingga novel Hotel Prodeo dan Laut Bercerita. Ketika diadakan acara bedah buku Pikiran Orang Indonesia di Rumah Dunia dan kampus Untirta, Banten, terpaksa buku-buku itu didonasikan bagi para peserta dan mahasiswa, termasuk kepada saya pribadi. Untuk itu, satu-satunya cara agar saya bisa membayar balik utang ini adalah dengan menjadi penulis, sampai kemudian saya harus memberanikan diri untuk meneguhkan keyakinan dalam panggilan sebagai seorang penulis.

Kurang dari tiga dekade lalu, beberapa pemuda dan mahasiswa yang membaca tulisan dari tokoh kita ini, serta berani menyuarakan keadilan, telah meregang nyawa oleh semburan peluru yang bersarang di tubuh-tubuh mereka. Seorang penulis Banten bertandang ke rumahnya untuk ke sekian kali, seraya menyaksikan ia begitu sedih dan pilu mendengar kabar kematian para pemuda pemberani itu. Menurutnya, “Saya tak mau sejarah yang menimpa hidup saya, terulang kembali kepada angkatan muda kita.”

Apapun yang dinyatakan tentang dirinya, sang penulis pemberani, kompatriot saya ini, memang sungguh langka dan ajaib. Ia bagaikan penggerak yang tak bergerak, pengarung mimpi yang berkilau, penyihir kata dan arsitek imaji yang pantang menyerah, pencipta yang tangguh dan keras kepala, sekaligus memiliki kejernihan dan kegilaan dalam menjalankan kerja kepenulisannya.

Ketika ditawarkan oleh seorang penulis Banten di usianya yang ke 70-an, “Apa yang bisa saya bantu? Saya telah mendapat amanat dari penerbit Hasta Mitra di Jakarta, untuk meminta apa-apa yang ditulis Bapak, kemudian kami akan menerbitkannya.”

Seketika itu, ia menatap penulis Banten itu dengan tatapan berkaca-kaca, lalu jawabnya pelan, “Maafkan saya, saya sudah tak sanggup menulis lagi.”

“Kenapa? Bukankah banyak peristiwa menarik akhir-akhir ini, yang perlu dituliskan?”

Sambil mengajak penulis Banten ke pekarangan rumahnya, seraya mengumpulkan dedaunan yang berguguran, ia pun berkata lirih, “Sekarang mata saya sudah enggak kuat lagi, tapi kalau bicara masih bisa.”

Maka, bicaralah lelaki tua itu, sementara penulis dan cendekiawan Banten mencatat poin-poin terpenting sambil merekamnya, hingga terhimpunlah artikel panjang untuk buku Liber Amicorum Bung Karno, berjudul “Semua Lawan Bung Karno Sekarang Terseret ke Meja Mahkamah Sejarah”.

Di halaman pertama artikel itu, tertulis nama kompatriot dan sang maestro kita ini: Pramoedya Ananta Toer. (*)

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), penulis esai dan prosaik milenial untuk harian Kompas, Republika, Koran Tempo, dan media-media nasional luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.