Ihwal Malam Lailatul Qadar

oleh -1406 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Alfakir Ahmad Rafiuddin

Dalam terminologi Islam, malam seribu bulan (Lailatul Qadar) identik dengan peristiwa turunnya para malaikat, untuk menyampaikan ayat-ayat Alquran melalui Nabi Muhammad di malam yang gelap, ketika ia sedang menyendiri di Gua Hira. Malam itu dinobatkan sebagai malam nubuat yang penuh keberkahan. Bandingkan peristiwa itu dengan apa yang dialami Yesus dalam Alkitab (Petrus 1:18-19), “ Suara itulah yang kami dengar dari surga ketika kami sedang bersama-sama dengan-Nya di atas gunung yang suci itu. Selain itu, pada kami juga ada kata-kata nubuat yang lebih meneguhkan.umumnya, kamu pun memperhatikannya karena kata-kata nubuat itu sama seperti pelita yang bersinar di tempat yang gelap sampai hari menjadi terang dan bintang timur terbit di dalam hatimu.”

Itulah masa keemasan atau pencerahan dalam kehidupan Nabi Muhammad, sebagaimana RA Kartini menulis judul bukunya yang fenomenal, “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Pada hakikatnya apa yang kita miliki dan banggakan dalam kehidupan dunia ini, hanyalah tipuan fana yang akan musnah seiring kepergian kita dari alam dunia ini. Pakaian yang kita kenakan, rumah yang kita diami, kendaraan yang kita tumpangi, kekuasaan dan kedudukan yang kita banggakan, semuanya akan pergi meninggalkan kita.

Demikian pula dinyatakan dalam Roma 13:12, “ Hari sudah jauh malam, sudah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapandan mengenakan perlengkapan senjataterang.”

Rasa syukur

Tak ada pilihan lain selain mensyukuri nikmat dan karunia yang dianugerahkan Tuhan, bahwa sebagai makhluk yang memiliki keistimewaan dengan makhluk-makhluk lain, kita harus pandai menjaga komitmen kesyukuran itu. Begitu pun sebaliknya, ketika kita tidak konsisten untuk menjaga kesyukuran (kufur nikmat) maka kita pun akan terjatuh dalam kehidupan yang sia-sia, bahkan lebih rendah derajatnya dari binatang (At-Tin, ayat 5).

Kekufuran akan berdampak pada sikap dan perbuatan yang merugikan semua pihak, yang sebetulnya juga merugikan dirinya sendiri. Tindakan seorang kufur nikmat akan mudah dihinggapi oleh berbagai macam penyakit kronis kemanusiaan, hingga benteng pertahanan harkat dan martabatnya akan mudah hancur.

Dalam menapaki kehidupan ini, dengan berbagai onak dan cobaannya, suka dan dukanya, tawa dan tangisnya, tak ayal kita memosisikan diri sebagai makhluk berdaulat, hingga dapat memilih jalur sesuai yang dikehendaki oleh diri kita sendiri. Tetapi, setiap pemikiran puncak dari kemanusiaan akan sampai pada suatu konsep untuk memilih yang terbaik, yakni kehidupan yang sukses dan membahagiakan.

Esensi Kesuksesan

Lalu, bagaimana kita menjalani proses untuk mencapai hidup sukses dan bahagia? Apakah selayaknya kita menuntut pihak lain untuk terlibat aktif dalam proses percepatan menuju kesuksesan itu? Ataukah kebahagiaan itu dapat diraih hanya dengan mengandalkan kekuatan ikhtiar kita, sebagai makhluk yang menawari diri kita sendiri?

Islam mengajarkan kepada kita bahwa sikap menuntut pihak luar atas perubahan yang terjadi pada diri kita adalah suatu tindakan yang keliru. Tetapi, yang terpenting justru adalah “tuntunan”, bahwa kita manusia yang lemah dan sarat kekhilafan ini menghajatkan tuntunan untuk mencapai hidup sukses dan bahagia, baik di alam fana maupun di alam baka nanti.

Beda dengan analisis kebanyakan pakar motivasi dan parenting yang sibuk mempromosikan konsep-konsep hasil temuan dan analisis mereka, bahwa untuk mencapai hidup sukses harus mengoptimalkan kekuatan yang ada pada diri kita sebagai manusia multidimensi. Sebenarnya, konsep seperti itu tidak sepenuhnya salah, tetapi saya berani menyatakan bahwa konsep semacam itu belum optimal. Karena, syarat yang tidak kalah penting untuk mencapai hidup sukses dan mulia, yakni kekuatan doa dan restu dari orang tua, guru-guru serta orang-orang yang pernah berjasa dalam hidup kita.

Terkait dengan itu, dalam buku saya “Marwah Pesantren” (2024), hendaknya kita mensyukuri jasa-jasa mereka yang pernah mengulurkan tangan dan segenap energinya bagi perjalanan hidup kita. Selain itu, selayaknya kita ukur, sudah seberapa optimal rasa syukur kita panjatkan kepada Tuhan yang telah memberikan segalanya kepada kita: kesehatan, harta, pangkat dan kedudukan, bahkan kekuasaan yang pada hakikatnya adalah amanat yang dianugerahkan kepada manusia.

Mengapa kebanyakan manusia kurang bersyukur, sementara mereka sibuk menuntut agar orang lain berterima kasih atas jasa-jasa yang pernah mereka berikan?

Bila mereka tidak menerima rasa terima kasih atas jasa-jasa yang diberikan pada orang lain, mengapa pula mereka tidak introspeksi dan membaca diri, jangan-jangan mereka kurang bersyukur atas kebaikan yang diberikan oleh orang tua dan pendahulunya, bahkan nikmat yang dianugerahkan Tuhan di sepanjang perjalanan hidupnya?

Kufur nikmat

Orang-orang bijak mengatakan, bahwa manusia seringkali lupa setelah bangun dari tidurnya, bahwa organ tubuhnya masih utuh, panca inderanya tak ada yang berkurang, bahkan dalam setiap tarikan napas merupakan anugerah dari Tuhan yang patut disyukuri. Hal ini diungkapkan pula oleh para guru sufi bahwa sikap ujub dan takabur adalah akibat dari perilaku yang kufur nikmat, bahkan juga lupa terhadap para perintis dan pendahulu yang merupakan wasilah dari Tuhan, hingga membuat seseorang bisa sukses, makmur dan berkedudukan.

Untuk itu, sebagai pribadi dan sekaligus mewakili tokoh agama di negeri ini, saya mengajak semua pihak di malam Lailatul Qadar yang penuh maghfirah ini, mari kita tingkatkan rasa syukur kita kepada Tuhan, kepada para pendahulu kita yang memiliki peran dan andil yang memberikan kehidupan kita kepada kelapangan dan kemudahan, hingga apa yang menjadi harapan dan cita-cita kita menjadi satu kesatuan dengan kehendak yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Agung.

Mari kita berbenah diri secara moril, bahwa segala kekhilafan yang telah kita lakukan, tidak selayaknya kita melemparkan tanggungjawabnya kepada pihak lain, bahkan kepada Tuhan yang menciptakan takdir hidup ini. Tetapi, manusia sebagai makhluk yang lemah dan sarat kekhilafan memang menghajatkan tuntunan yang baik, bahwa sumber utama kesalahan dan kekeliruan tak lain dari diri manusia itu sendiri.

Sungguh manusia tidak berdaya atas keselamatan dan kebaikan nasib hidupnya bila tanpa ampunan dan pertolongan Tuhan. Apalagi ketika seekor kuman dan virus menyelusup masuk ke dalam tubuh hingga membuat kita sakit tak berdaya. Tidak ada daya upaya selain Tuhan yang menyehatkan dan menguatkan diri kita. Alangkah sia-sia hidup manusia yang merasa dirinya kaya harta dan kuasa, yang sebenarnya hanyalah titipan semata.

Alangkah bodoh sang penguasa yang merasa dirinya paling berkuasa, padahal hakikat kekuasaan itu fana dan merupakan amanat yang dititipkan di pundaknya, demi untuk kemaslahatan banyak orang. ***

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah (Tebuireng 09), Lebak, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.