Sekilas tentang Suasana Los Angeles

oleh -2371 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Irawaty Nusa

“Manusia hidup dari sistem ke sistem, lalu terpenjara oleh sistem, sampai akhirnya akal sehat harus menentukan sistem terbaik yang harus ia pilih.” (Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia)

Hanya dua minggu kami dari tim peneliti historical memory Indonesia, sempat menginap di Los Angeles beberapa waktu lalu. Penelitian ini didanai oleh Ford Foundation, guna mengadakan riset dan analisis mengenai korban-korban politik Indonesia yang masih tinggal di Amerika Serikat sejak tahun 1965 lalu. Kami tinggal di tengah komunitas warga Hispanic (Meksiko) yang merupakan mayoritas etnis yang ada di Los Angeles.

Ada beberapa mahasiswa lulusan UCLA dan Caltech yang saya jumpai di sana, yang katanya sedang magang di suatu perusahaan entertainment. Saya tanyakan, mengapa tidak pulang ke Indonesia selepas dari kuliah di LA. Nampaknya mereka betah tinggal di kota besar yang berpenduduk padat, lebih dari 12 juta jiwa itu. Kebanyakan mereka bergabung dengan perusahaan-perusahaan besar di bidang business opportunity. Beberapa warga Cina, Filipina dan Thailand saya jumpai juga, karena LA dianggap tempat yang nyaman dan ideal, sekaligus pintu masuknya produk-produk Asia yang membanjiri wilayah AS.

Kami menempati hotel sederhana yang mudah menjangkau resto Simpang Asia dengan menu utama rendang Padang. Di sebelahnya berjejer resto-resto waralaba dari negeri-negeri Asia yang menyediakan Meet Fresh, Jolly Bee, Michelin, K-BBQ dan lain-lain. Oleh dua mahasiswa, saya diperkenalkan dengan belasan pelajar Indonesia yang mendapat beasiswa. Konon, ketika mereka harus masuk perguruan tinggi, pada tahun-tahun pertama diperbolehkan memasuki kelas pada mata kuliah apapun, kecuali satu kelas yang harus diikuti secara bersama-sama, yakni kelas menulis (literasi).

Para pelajar dari seluruh Asia dan benua lainnya, termasuk anak-anak orang kaya, berdatangan turut menimba ilmu di Los Angeles. Konon, begitu mudahnya anak-anak konglomerat dan elit politik Indonesia, untuk menikmati segala macam jenis hiburan, baik di pusat Hollywood, Universal Studios, hingga Disneyland.

Daya tarik LA

Peristiwa kebakaran beberapa hari lalu, mungkin yang terbesar dalam sejarah Los Angeles. Meskipun, hampir setiap tahun LA selalu diguncang oleh peristiwa kebakaran terus-menerus. Bahkan, di tahun 2020 lalu, tidak kurang dari satu juta hektar lahan wilayah California dilanda kebakaran.

Tetapi, daya tarik LA sebagai kota hiburan tak pernah surut. Peristiwa kebakaran yang memakan ratusan ribu hektar dari tahun ke tahun, korbannya jarang sangat sedikit, dan bisa dihitung dengan jari. Bahkan, beberapa hari lalu yang menghancurkan puluhan ribu bangunan gedung dan rumah, korbannya tidak lebih dari 25 orang.

Memang sering terjadi kekeringan pada tahun-tahun terakhir, hingga terjadi lonjakan harga-harga pangan dan jasa. Tetapi, apakah syarat-syarat yang dimiliki Los Angeles hingga terus-menerus menjadi daya tarik hiburan bagi warga-warga dunia? Tak lain dan tak bukan, yakni soal peluang emas yang memberikan segala sarana untuk menjadi top dan terkenal, khususnya di bidang seni hiburan (entertainment).

Kalau bukan disebabkan anomali cuaca (baik disengaja atau tidak), di wilayah California selalu memiliki iklim yang cukup stabil, tak terlalu panas dan tak terlalu dingin, bahkan tidak ada salju (ketika musim dingin).

Jarak tempuh untuk mencapai pantai, tak ubahnya Kuta atau Sanur, tidak lebih dari satu jam saja. Sepanjang perjalanan dikelilingi oleh gunung, perbukitan, melintasi sungai dan danau yang indah menawan. Di musim dingin, hanya puncak-puncak gunung tinggi saja yang ditutupi salju. Sementara, pada lereng-lereng gunungnya dibangun rumah-rumah mewah yang sebagian milik para artis dan sineas terkenal Hollywood, seperti Lady Gaga, Rihanna, Tom Hanks, James Wood, Jennifer Lopez hingga Steven Spielberg.

Penyebab kebakaran

Ketika saya mendaki ke lereng-lereng bukit, pemandangan ke bawah seperti hamparan hutan yang dipenuhi pohon-pohon hijau yang menutupi bangunan-bangunan megah. Menegok ke kiri, saya masih bisa menikmati indahnya samudera Pacific yang membentang luas. Pemandangan terbitnya matahari pagi, begitu indah mempesona. Sangat jauh berbeda dengan bangunan-bangunan kumuh di sekitar Pelabuhan Merak. Meskipun wilayah Banten dikenal sebagai provinsi seribu wali dan santri.

Memang banyak para imigran dari berbagai belahan dunia, hingga budayanya kompleks dan sangat beragam. Ketika saya memasuki wilayah Pecinan, semarak para etnis Cina yang berbahasa Mandarin, membuat saya lupa tengah berada di tanah Amerika Serikat.

Lalu, bagaimana Los Angeles perlu mempersiapkan ajang Olimpiade dengan adagium SmartLA di tahun 2028 mendatang? Bagaimana pemerintah baru (Trump) sanggup menyelenggarakan ajang besar-besaran di tengah maraknya perkampungan China Town, Korean Town, Japan Town, Little India, Armenia, hingga yang dianggap paling menjengkelkan: Little Arabia.

Ketika saya memasuki komunitas Little India dan Arabia, banyak di antara mereka yang tetap konsisten dengan budaya dan bahasanya masing-masing. Meski ketika kami berbelanja, tentu akan terikat oleh kepentingan ekonomi negara, yakni US Dollar.

Jutaan kaum imigran itu masih saja dipandang sebelah mata oleh pemerintahan baru Trump, tak terkecuali warga mayoritas Hispanic yang berdarah Meksiko. Jika penduduk mayoritas saja dituduh sebagai biang kerok kriminal, perampok, pemadat, penyekap anak-anak di bawah umur, lalu manakah yang disebut warga asli Amerika Serikat itu? Ya, tentu saja penduduk aslinya adalah orang-orang Indian berkulit cokelat, yang semakin tersingkir ke wilayah pedalaman.

Untuk menutup tulisan ini, kiranya pantas bagi saya untuk melontarkan pernyataan: “Jika bukan karena jasa-jasa Soekarno-Hatta-Sjahrir dan para founding fathers kita yang berjuang keras memerdekakan RI, boleh jadi nasib kita bagaikan jutaan warga Indian Amerika yang telah dirampas hak-hak atas tanah leluhurnya.” (*)

Penulis adalah Pengamat sastra milenial, juga peneliti historical memory Indonesia

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.