Oleh: Hafis Azhari
Harus memiliki nafas panjang jika ingin menelusuri raut-raut kebenaran perihal nasab para habaib. Tidak boleh berpikir dangkal dan setengah-setengah, karena hal tersebut menyangkut teori tentang segalanya (theory of everything), bahkan teori tentang hakikat keberadaan kita, hingga karakteristik diri kita sendiri.
Nakalnya beberapa anak habaib di era medsos ini, membuat banyak orang Indonesia merasa terusik, tak terkecuali orang Banten seperti K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani (selanjutnya disebut Ki Imad). Kajian akademis dan ilmiahnya telah disambut antusias oleh sebagian kaum muslimin, tak terkecuali kalangan non-muslim yang semarak mengamati Islam dari jarak jauh.
Namun lagi-lagi, bicara soal Ki Imad sebagai orang Banten, tak terlepas bicara mengenai karakteristik manusia Indonesia secara holistik. Dalam novel saya, Perasaan Orang Banten, nampak wajah-wajah manusia Banten (Indonesia) yang seakan mengenakan topeng-topeng kepalsuan. Topeng kepalsuan itu tak terlepas dari faktor sebab dan akibat, berikut pembawaan nasab, anak biologis, atau para leluhur yang memengaruhinya.
Ki Imad sendiri adalah putera kelahiran Kresek, tak jauh dari tanah tumpah darah Kiai Ma’ruf Amin, yang sekaligus cicit dan anak ideologis dari Syekh Nawawi Al-Bantani. Dari gestur dan logatnya tampak berbeda dengan Sunda Banten, akan tetapi Ki Imad dibesarkan oleh kultur Jawa Banten yang cenderung barok dan temperamental.
Secara geografis, daerah Kresek memiliki satu jelujur pantai dengan Cilegon dan Banten, tempat bercokolnya kapal-kapal tentara Sultan Hasanuddin dari Cirebon, kemudian menyusul para pedagang VOC, sebagai cikal bakal pendudukan Belanda atas wilayah Nusantara. Dari sisi wataknya, tampak berbanding lurus dengan karakteristik padang pasir Arab, sebagai lawan tanding yang sepadan dengan sifat genit dan temperamennya militerisme orang Israel.
Secara manusiawi memang sifat iri, dengki, hasad terus berkelindan dalam jiwa manusia Indonesia. Ini disebabkan benang-benang merah masa lalu yang terputus (khususnya setelah 1965), hingga membentuk karakteristik kebanyakan orang Indonesia yang belum menemukan keakuannya, atau belum selesai dengan dirinya. Untuk itu, penemuan tesis baru yang paling ilmiah sekalipun, tak terlepas dari unsur-unsur psikologis dan antropologis yang bersifat subyektif. Dalam hal ini, Ki Imad bukanlah suatu pengecualian. Ia berupaya menganalisis dunia nasab, yang bahkan “menantang” kredibilitas ucapan Rasulullah sendiri, bahwa di akhir zaman nanti semua nasab akan terputus, kecuali anak-anak biologis dari keturunan Nabi Muhammad Saw.
Di sisi lain, nakalnya beberapa habaib yang seakan “mengintervensi” wilayah lain menjadi kajian serius Ki Imad untuk menggeneralisir dan menganalisis secara pukul rata, hingga simplifikasi kesimpulan yang mengandung risiko berat bagi keindonesiaan kita, khususnya bagi dunia keilmuan dan spiritualitas manusia Indonesia.
Apa yang dimaui Ki Imad, hanya Allah Yang Maha Tahu. Jika diniatkan secara tulus untuk mengkritik sebagian habaib, lantaran kecintaannya kepada Rasulullah, tentu tujuan itu sangat mulia dan luhur. Tetapi, anak muda seusia Ki Imad (kelahiran 1976) tak terlepas dari faktor-faktor subyektifitas, ego pribadi, atau pengaruh dari “mursyid” dan orang-orang di sekelilingnya. Ini juga menyangkut faktor politis ekonomis untuk kepentingan pribadi, atau demi menghimpun komunitas dan jamaah sebanyak-banyaknya, agar “berkiblat” kepadanya.
Tetapi, mampukah manusia membangun jembatan baru dengan pertanggungjawaban yang berat, sementara sifat ilmu nasab ibarat melewati jembatan besar di mana kita sedang menyeberang di atasnya. “Semua nasab akan terputus, kecuali nasab anak-cucu Rasulullah.” Dari zaman ke zaman, berulang-ulang para ulama besar mengutip ucapan Rasulullah yang menisbatkan bahwa kemampuan otak manusia untuk meneliti kebenaran ilmiah, seilmiah apapun, tentu ada batasnya.
Dulu, usulan Salman Al-Farisi untuk membuat parit sebagai strategi paling jitu pada saat Perang Khandaq, pada akhirnya harus mengalah dengan adanya badai besar yang melanda dan meluluhlantakkan kaum Yahudi dan musyrikin Qurays. Tetapi, apakah kaum muslimin tidak terimbas oleh badai besar tersebut? Tentu saja badai itu tak terlepas dari kejadian alam (yang dikehendaki Allah), namun demikian kekuatan iman kaum muslimin-lah yang mengukuhkan keyakinan untuk survive hingga terselematakan dari badai besar tersebut.
Ini mengindikasikan bahwa sehebat apapun kecerdasan manusia, pada akhirnya harus tunduk pada seberapa kuat kadar keimanannya kepada Yang Maha Perkasa. Ketika sampai pada puncak spiritualitasnya, Albert Einstein pun menyatakan, bahwa sehebat apapun kecerdasan otak manusia, pada akhirnya harus mengalah pada tuntutan hati nurani. Dan sedahsyat apapun kita mampu menggenggam dunia, pada akhirnya kita semua dibatasi oleh ruang dan waktu tertentu, yang dikendalikan oleh Yang Maha Meliputi dan Memenej segalanya.
Kembali pada soal Habib nakal yang kadang menjengkelkan kesatuan nasion kita, Gus Dur pernah memperingatkan agar menangkap mereka, tanpa pandang bulu. Pernyataan Gus Dur tersebut lumrah saja agar memenjarakan siapapun yang terbukti melakukan pelanggaran hukum. Ucapan ini pernah ditandaskan Rasulullah, jangankan dzurriyah dan keturunan beliau, bahkan ahlul bait pun perlu dikenakan sangsi dan hukuman yang sepadan, jika ia melakukan kesalahan.
Lalu, bagaimana kalau di belakang habib yang nakal tersebut, ada backing polisi atau aparat yang melindunginya? Terkait dengan ini, tentu presiden lebih pantas menandaskan, “Tangkap juga yang membekinginya!”
Inilah ketegasan yang harus ditegakkan di negeri berlandaskan hukum ini. Para sesepuh habaib di Majlis Rasulullah juga sangat sepakat mengenai ini. Mereka menegaskan secara lantang, “Jika terbukti bersalah secara hukum, tangkap habib yang nakal dan kriminal itu, penjarakan dia!”
Sama halnya, ketika dunia pesantren mengalami ujian berat, karena adanya oknum beberapa guru yang terbukti bersalah, K.H. Abdullah Gymnastiar pernah menyatakan, “Jika Allah membuka aib seseorang, maka ia telah mencederai dunia pesantren, keluarganya, orang tuanya, juga mencederai Islam, bahkan mencederai nama baik Rasulullah itu sendiri.” Lebih lanjut, Aa Gym menyatakan bahwa manusia itu bersifat lemah dan khilaf. Kita menjadi baik di mata manusia hakikatnya lantaran Allah masih merahmati dan menutupi segala aib dan kesalahan kita semua.
Kembali pada persoalan beberapa habib “bertopeng” yang kadang melampiaskan syahwat padang pasirnya. Hal tersebut tak perlu digeneralisir sebagai kesatuan utuh para habaib yang validitasnya telah diakui ratusan dan ribuan ulama besar di dunia ini. Jangan hanya seekor kutu di ranjang bagus, membuat kita mengambil korek api untuk membakar ranjang berkualitas tersebut.
Tak ada keturunan terbaik sepanjang sejarah, kecuali keturunan dan para sahabat Rasulullah. Tak ada kesolehan kita yang perlu dibanggakan, jika dibandingkan kualitas kesolehan para ulama, tabiin, hingga para sahabat di zaman Rasulullah. Siapalah diri kita ini wahai orang Banten maupun orang Indonesia? Siapalah juga Anda para habib bertopeng, yang justru akan mencederai nama baik para habaib, dzurriyah, ahlul bait dan leluhur Anda sendiri?
Terkait dengan ini, ada adagium yang menyatakan bahwa seseorang itu akan sulit untuk berubah, kecuali jika Tuhan sudah berkehendak untuk melepas topeng-topengnya. Saya mengamati bahwa tokoh kiai muda seperti Gus Baha juga memilih sabar menyikapinya. Karena persoalan krusial ini, nampaknya lebih mengena jika melalui pendekatan kecerdasan Nabi Musa, ketimbang kekhusyukan tirakat Nabi Khidir.
Untuk itu, wacana tentang “misi pemurtadan” yang konon dilakukan Ki Imad nampaknya berlebihan juga. Selayaknya kita memandang sebagai “ikhtiar” dan niat-niat baik Ki Imad untuk mengkritik sebagian habaib, dalam rangka kecintaannya terhadap keagungan dan kemuliaan Rasulullah. Bukankah mengingatkan dzurriyah itu sama halnya dengan menjaga citra dan nama baik leluhurnya?
Dalam obrolan santai dengan K.H. Fahmi Amrullah Hadziq, salah seorang cucu Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, di pesantren Nurul Falah, Rangkasbitung (Jumat, 5 Juli 2024), saya menganalogikan kebenaran ilmiah tak ubahnya dengan menyampaikan pembuktian mengenai baju perang Ali bin Abi Thalib yang pernah dicuri oleh seorang Yahudi.
Secara kasyaf, jelas Ali dan sebagian sahabat mengetahui bahwa baju perang tersebut hakikatnya adalah milik Ali. Tetapi, kebenaran secara kasyaf tak mungkin dijadikan rujukan atau dalil ilmiah untuk membuktikan seseorang itu bersalah atau tidak. Harus ada pembuktian empiris untuk menunjukkan rangkaian kebenarannya. Sehebat apapun kita mengemukakan dalil tentang intelijen-intelijen kasyaf yang bersifat tak kasatmata.
Lalu, untuk membuktikan seseorang itu bersalah, harus diawali pula dengan perasaan dan pandangan husnudzon (berbaik sangka) terhadap manusia sebagai Bani Adam dan makhluk Tuhan. Untuk itu, dibutuhkan sikap dan jiwa yang humanis dari seorang pemimpin (hakim), bahwa membebaskan seratus orang yang bersalah, jauh lebih baik ketimbang menghukum satu orang yang tidak bersalah.
Inilah pesan religiusitas dan spiritualitas Islam, bahwa ada batas-batas tertentu dalam kehidupan duniawi ini, di saat kita sampai pada titik kesimpulan di mana hanya Allah Yang Maha Tahu segalanya, sementara pengetahuan manusia, seilmiah apapun, hanyalah setetes air di lautan samudera yang maha luas.
Untuk mengakhiri tulisan ini, ada baiknya kita cermati teladan Presiden Soekarno dan ulama besar Hamka yang pernah dipenjarakan olehnya. Meskipun Hamka pernah berposisi selaku pesakitan (korban) dan pernah dipenjarakan di masa pemerintahannya. Tetapi, dengan legawa dan rendah hati Hamka memenuhi wasiat Presiden Soekarno untuk menyolatkan jenazahnya.
Untuk itu, pernyataan Gus Dur untuk menangkap Habib Rizieq, bisa ditafsirkan dalam konteks saat ini: “Tangkap para habaib yang nakal jika terbukti bersalah, termasuk Habib Rizieq jika melanggar hukum, gemar memprovokasi, serta merongrong kesatuan dan stabilitas RI kita.”
Hal ini pernah saya nyatakan ketika meluncurkan novel Pikiran Orang Indonesia, bahwa masalah serius agar kita terbebas dari dosa-dosa sejarah, bergantung pada keberanian bangsa ini untuk menghormati orang yang layak diberi penghormatan. Sebaliknya, bangsa ini harus punya keberanian untuk menghukum orang yang layak diberi hukuman. (*)
Penulis adalah Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten







