Oleh: Wawan Sanpala
“Bacaan Al-Quran dapat digunakan sebagai mantra dan ilmu hitam, jika dipegang oleh orang-orang jahil, namun sebaliknya, mantra-mantra dapat difungsikan sebagai kitab suci jika dibaca seorang yang arif dan budiman.” (Dr. Mu’min Roup, MA, dosen dan peneliti UIN, Jakarta)
Nabi Muhammad pernah menegaskan, bahwa tidurnya seorang yang cerdas (berilmu) jauh lebih mulia ketimbang salatnya orang-orang bodoh. Dalam riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah juga dinyatakan, bahwa keutamaan orang berilmu ketimbang ahli-ahli ibadah, ibarat terangnya sinar bulan purnama ketimbang ribuan bintang-bintang di angkasa. Ini mengisyaratkan, betapa pentingnya manusia mengaji dan menuntut ilmu. Bukan dalam pengertian “mengaji” secara harfiah dan lateral, tetapi benar-benar mengkaji, menelusuri, dan mendalami makna dan kandungan ilmu yang dipelajari di majlis maupun tempat pertemuan lainnya.
Orang yang punya kemauan keras mendalami ilmu, biasanya dianugerahi bakat yang luar biasa, termasuk kemampuan untuk menerawang hal-hal yang bersifat adikodrati. Ia dapat menerawang kehidupan paranormal yang barangkali usianya sudah setua peradaban manusia. Oleh kebanyakan masyarakat awam, dunia paranormal dianggap gelap bagaikan menembus hutan belantara yang membutuhkan tuntunan dan bimbingan tersendiri.
Ada yang memiliki keahlian di bidang astronomi atau ilmu falak, yang dengan mudah dapat menentukan arah kiblat hanya dengan alat sekadarnya; ada juga yang punya kemampuan hidran paranormal, yang dapat menemukan titik-titik sumber air, hanya dengan alat lidi yang diikat di ujungnya. Keahlian ini terbilang alami, meskipun hanya dimiliki orang tertentu yang mempunyai bakat istimewa. Jika pun dinyatakan adanya anugerah Allah, dapat diartikan bahwa anugerah itu seakan sudah menyatu ke dalam bakat dan keahlian sang paranormal itu sendiri.
Pengertian “paranormal” sendiri terbilang netral dan normal-normal saja. Atau sepertinya normal, tetapi tidak normal. Tak jauh berbeda dengan istilah “paramedis” yang sepertinya dunia medis yang natural, tetapi juga melibatkan hal-hal yang bersifat non-medis. Kadang bakat yang langka ini sudah ada sejak yang bersangkutan lahir dari rahim sang ibu. Bakat itu tiba-tiba muncul ketika lingkungan dan kondisinya memungkinkan ia bisa muncul, atau bisa juga dengan dilatih dan dikembangkannya (riyadlah).
Di sisi lain, kemampuan paranormal yang istimewa itu kadang membuat sebagian masyarakat terjebak menilainya sebagai “supranatural”. Misalnya, ada pohon kaktus yang tiba-tiba berubah menjadi seekor kucing. Di situ ada hal-hal aneh yang bekerja dan berkekuatan supranatural. Sehingga terlepas sama sekali dari kodrat natural atau hal-hal alami yang ada pada pohon kaktus. Peristiwa adikodrati itu, dalam cakrawala iman dapat dilihat sebagai campur tangan atau kekuatan Tuhan, sebagaimana ayat Al-Quran yang menyatakan, “Jika Tuhan menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah.”
Tetapi, dunia paranormal tidak berada dalam area adikodrati tersebut. Ia tetap berada dalam area kodrati atau kemampuan bakat dan potensi manusia yang luar biasa, meskipun pada hakikatnya memang tak terlepas dari kekuatan yang dianugerahkan Tuhan juga.
Bakat penginderaan
Kadang kita sering mendengar dukun, paranormal, atau (di Banten sering disebut) kiyai dan orang pintar, yang dengan mahir menebak apa yang kita alami di masa lalu. Bahkan, ada juga yang sanggup menerawang apa-apa yang akan terjadi. Jika tebakannya itu ternyata benar, berarti dukun atau kiyai tersebut memiliki anugerah kemampuan yang dinamakan recognisi atau proscopy. Bentuk lain adalah kemampuan berkontak batin dengan pihak lain atau telepati. Tanpa menggunakan hape dan ponsel, yang bersangkutan bisa berkomunikasi dengan orang lain dari jarak jauh.
Bahkan ada yang punya kemampuan memindahkan barang (peniti atau jarum) ke dalam tubuh orang, yang seringkali disebut “santet”. Dia memiliki daya penggerak istimewa yang dapat mengubah energi menjadi benda, bahkan benda menjadi energi. Mulanya, benda-benda tersebut di-dematerialisasi, tetapi setelah masuk ke dalam tubuh sasaran, kembali benda itu dimaterialisasikan. Di sisi lain, ada juga orang yang mampu meringankan tubuhnya. Ketika ia sedang duduk, tahu-tahu tubuhnya melayang naik, dan orang-orang di sekitarnya menyaksikannya dengan takjub dan geleng-geleng kepala.
Jika kemampuan dan bakat itu dimanfaatkan untuk membantu dan menolong orang (tanpa pamrih), maka dalam dunia Islam, derajat paranormal itu dapat menjelma sebagai “wali” yang mendapat rahmat dan karunia Ilahi (karomah). Dan pada seorang Nabi, sering dikenal dengan istilah “mukjizat”.
Bakat orang Banten
Selain dikenal sebagai provinsi seribu wali, Banten juga identik dengan kemampuan anak-anak mudanya yang punya kesaktian, debus, atau ilmu tenaga dalam. Di pesantren saya dulu (Daa rel-Qolam) kadang ada saja santri asal Banten yang punya kemampuan menggerakkan benda dari jarak jauh. Tanpa bersentuhan langsung dengan pinsil, orang itu dapat membuat benda itu terpental dari atas meja.
Pada prinsipnya, orang yang dianugerahi “kelebihan” semacam itu harus bertanggung jawab secara pribadi atas apa yang dilakukannya. Sama halnya dengan potensi atau bakat yang bersifat netral, tergantung bagaimana si pemilik memanfaatkannya. Jika ia digunakan untuk mengganggu atau mencelakai orang lain, maka jangan salahkan masyarakat jika menyebutnya sebagai “ilmu hitam”. Untuk itu, penulis Banten Hafis Azhari, pernah menyarankan komunitas Rumah Dunia, yang dihadiri para seniman, jurnalis dan kalangan mahasiswa, agar bakat dan potensi itu boleh dikembangkan sebagai karunia Tuhan (ma’unah). “Tetapi harus hati-hati dan waspada, karena jika dimanfaatkan untuk hal-hal negatif, maka karunia Tuhan itu bukan lagi disyukuri sebagai nikmat Tuhan, tetapi akan menjelma menjadi istidraj dan kufur nikmat, yang pasti bakal mencelakakan dirinya sendiri.”
Dalam film “Poltergeist” (2015) kekuatan alam bawah sadar ini telah digunakan sang tokoh untuk mencelakakan atau merusak tatanan keseimbangan di sekitarnya. Hal serupa tergambar juga dalam buku “Yang Kudus dan Yang Gaib” (2008) yang diberi pengantarnya oleh Mgr. Sunarka. Ia mencontohkan kehidupan sehari-hari yang dialami Anne Marie dari Batavia yang sering membuat kekacauan di tempat kerjanya. Kadang, ketika dia memasuki ruangan, tiba-tiba lampu meredup bahkan gambar-gambar di dinding berjatuhan. Suatu kali, lemari seberat 400 kilogram tiba-tiba bergeser dan menjauh dari dinding, tanpa Anne Marie menyentuhnya. Tetapi, ketika ia keluar ruangan, tahu-tahu lampu menyala terang, dan kekacauan pun menghilang.
Karena itu, jika kemampuan orang Banten tanpa diimbangi dengan kedewasaan dan kematangan berpikir, energi yang bersifat netral itu dapat berubah seketika menjadi “energi negatif”. Terlepas apakah yang dibacanya itu sebentuk mantra atau ayat-ayat suci Al-Quran. Jika dimaksudkan untuk hal-hal yang bersifat merusak dan membuat kekacauan, maka bacaan suci (ismul a’dzam) itu dapat menjelma sebagai mantra sakti yang dapat menghadirkan para setan dan jin-jin ifrit di sekelilingnya.
Orang-orang Banten dan Nusantara, yang memiliki karakter seperti Anne Marie, setelah didiagnosa oleh psikolog dan ahli ilmu jiwa, biasanya memiliki pola yang sama. Mereka punya later belakang yang tidak baik, luka-luka masa lalu yang belum tersembuhkan, rasa frustasi yang teramat dalam. Sehingga, ia memilih jalan hidup yang “brutal”, mencari pelampiasan sana-sini, mencari dukun dan orang pintar ke mana-mana, sampai kemudian merusak kedewasaan, mentalitas, bahkan keimanan pada Yang Maha Esa. Itulah pangkal dari segala amarah dan penderitaan yang dialaminya, karena menurut catatan hadis Rasulullah: tidak bakal diterima ibadah seseorang, jika ia masih bergantung pada kekuatan lain selain kekuatan Allah Swt.
Itulah pula yang dinamakan kemusyrikan, yang melekat dalam dirinya sifat dengki dan hasad, padahal Rasulullah jelas-jelas menegaskan bahwa: “Sifat hasad itu dapat memusnahkan amal-amal baik seseorang, bagaikan api yang menghanguskan kayu-kayu bakar.” (*)
Penulis adalah Pengurus pusat Santri Pencinta Alam, juga pengamat sosial kemasyarakatan, berdomisili di Kota Bandung







